Misi Kristen Dan Da’wah Islam Di Jawa

Penulis : Niswa Fatiha Rizkiya (Santriwati PRISTAC – Pesantren at-Taqwa Depok, 16 tahun)


Buku Mengkristenkan Jawa ini, berasal dari naskah tesis penulis, Muhammad Isa Anshory, dengan judul asli “Kolonialisme dan Misi Kristen di Jawa: Studi Historis terhadap Dukungan Pemerintah Hindia Belanda Terhadap Penetrasi Misi Kristen pada 1901-1942. Tesis ini diselesaikan oleh penulisnya di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada tahun 2010. Buku ini menjelaskan peran Pemerintah Hindia Belanda dalam mendukung masuknya misi Kristen di Jawa.

Dapat dilihat dari cover buku ini, terdapat gambar salib yang melambangkan agama Kristen. Di bawahnya juga terdapat peta Jawa zaman dulu dan lukisan Pangeran Diponegoro. Lambang-lambang di atas sangat jelas menunjukkan bahwa buku ini membahas sejarah Kristenisasi yang terjadi di Jawa. Orang-orang akan tertarik untuk membaca buku ini walau hanya dari melihat cover dan judulnya saja.

Banyak dari kalangan sarjana Muslim maupun Barat mengakui bahwa kolonialisme selalu disertai dengan adanya misi Kristen. Hubungan keduanya sangat erat. Orientalis sering membantu kolonialisme dan misi Kristen untuk melakukan gerakan bersama, menaklukan negara-negara jajahan. Di antara sarjana yang mengakui hubungan erat keduanya dari kalangan Muslim ialah M. Natsir, Anwar Al-Jundi, Hamka, dan banyak lainnya. Sebenarnya di kalangan sarjana sejarah Indonesia sendiri, seperti Sartono Kartdirjo, juga mengakui adanya hubungan itu.

Menurut Anwar Al-Jundi, seorang sastrawan dan pemikir Muslim dari Mesir, kolonialisme dan misi Kristen berusaha untuk membangun opini publik bahwa apa yang dilakukan kolonial adalah misi pengadaban dan kemanusiaan yang bertujuan untuk memajukan umat manusia. Barat berasumsi bahwa merekalah, orang-orang berkulit putih, yang bertanggung jawab atas kemajuan peradaban orang kulit berwarna.

Dari penjelasan Anwar Al-Jundi di atas, sesuai dengan yang terjadi di Indonesia pada saat penjajahan Belanda. Pemerintah Hindia Belanda datang dengan membawa misi Kristen dan menyatakan bahwa mereka ingin menyejahterakan dan memajukan peradaban pribumi. Pemerintah Hindia Belanda mendirikan sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan kebutuhan-kebutuhan pribumi lainnya agar mereka mendapat dukungan dari Pemerintah Kolonial karena dianggap membantu dalam memajukan peradaban tersebut.

Tidak seperti orang-orang Portugis yang membawa ajaran agama Katolik, orang Belanda datang ke berbagai kepulauan, untuk mendapat hasil yang menguntungkan. Mereka melakukan pembelian dan perdagangan seperti cengkeh dan pala yang keduanya sudah diperebutkan oleh bangsa-bangsa Eropa. Bisa dilihat bahwa niat awal mereka datang ke Indonesia, bukanlah untuk menyebarkan agama Kristen apalagi memberikan manfaat lewat kristenisasi tersebut, melainkan untuk mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dari wilayah jajahannya dan bahkan sampai menguasai wilayah jajahannya tersebut.

“Era Misi” Belanda benar-benar terjadi pada pertengahan abad ke-19. Pada tahun 1850-an terjadi kebangkitan religius dan missioner Belanda. Menurut Isa Anshory, mengutip Karel Steenbrink, peningkatan aktifitas misi terjadi pada tahun 1870 hingga akhir abad ke-19 dan memasuki abad ke-20. Pada abad ke-20 misi Kristen dimaklumkan dengan arah politik pemerintah dalam Politik Etis. Melalui dukungan partai-partai agama, Politik Etis menandai zaman baru kolonial. Partai-partai agama ini kebanyakan juga menentang eksploitasi ekonomi dan finansial yang dilakukan Belanda di abad ke-19; diganti dengan politik moral dan sosial-pendidikan.

Frances Gouda, yang dikutip dalam buku ini, menggambarkan maraknya Kristenisasi. Pada tahun 1920-an di Pulau Jawa. yang mayoritas berpenduduk Musllim, telah banyak aktifitas lembaga misionaris yang sibuk. Jawa menampung enam wilayah misi Katolik yang kurang lebih sama luasnya. Pada saat yang sama, daerah zending Protestan Belanda terbagi antara Menon, Calvin Ortodoks, misi Reformis-Belanda, dan organisasi lokal semi merdeka yang didukung oleh Masyarakat Misi Belanda. Secara keseluruhan tercatat ada 39.577 komunitas misionaris serta mengelola 210 sekolah dan 38 rumah sakit (hlm. 108).

Sementara itu, di pihak Islam, Muhammadiyah adalah salah satu organisasi sosial pendidikan Islam terbesar yang melakukan gerakan perjuangan dalam membendung kristenisasi. Sebenarnya bukan hanya Muhammadiyah yang melakukan hal tersebut, ada beberapa organisasi Islam lain yang juga melakukan hal tersebut, seperti Sarekat Islam, Nahdlatul Ulama (NU), Persatuan Islam (Persis), Jong Islamieten Bond, dan Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI). Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 1912 di Yogyakarta.

Salah satu sebab pendirian Muhammadiyah, menurut Muhammad Isa Anshory, dikarenakan Pemerintah Hindia Belanda mendesak penguasa Keraton Yogyakarta untuk menyetujui pencabutan larangan penginjilan terhadap masyarakat Jawa. Adanya larangan tersebut disebabkan oleh kegiatan-kegiatan para misionaris dalam menyebarkan agama Kristen. Sebagai organisasi Islam, Muhammadiyah bertanggung-jawab untuk memperkuat keyakinan penduduk pribumi terhadap agama Islam. Muhammadiyah adalah salah satu organisasi yang meneruskan perjuangan da’wah di Indonesia sejak masa masuknya ke Nusantara. 

Melihat aktifitas Kristen yang telah merambah ke segala bidang, Muhammadiyah yang pada saat itu sedang di puncak semangatnya untuk dapat mempertahankan keislaman pribumi. Mereka memodernkan cara berdakwah. Mereka tidak membalas dengan penghinaan atau melakukan suatu hal yang tidak beretika, apalagi dengan melawan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Muhammadiyah justru berusaha mempertahankan keislaman umatnya dengan mendirikan lembaga-lembaga Islam sendiri yang sekiranya dibutuhkan oleh masyarakat Muslim seperti mendirikan rumah sakit, sekolah, panti asuhan, dan lain-lain. 

Mengapa demikian? Rakyat pribumi yang sudah beragama Islam, jika mengikuti suatu lembaga yang didirikan oleh orang-orang Barat, mereka dapat terbawa pemikirannya menjadi terbaratkan. Maka hilanglah “keislaman mereka”. Karena Muhammadiyah tidak ingin hal seperti itu terjadi, maka mereka mendirikan lembaga-lembaga tersebut. Semua itu dibuat untuk mengimbangi misi Kristen agar kaum bumiputera tetap memiliki keyakinan kuat terhadap agama Islam. Muhammadiyah telah membuktikan bahwa agama Islam selayaknya juga dapat menjadi agama untuk kemanusiaan.

Di zaman itu, rakyat pribumi kesusahan mencari penghasilan karena Belanda-lah yang lebih berkuasa di wilayah Indonesia daripada rakyat pribumi sendiri. Mereka berpikir, jika mereka mendapatkan pendidikan yang tinggi dengan masuk ke sekolah-sekolah Belanda, maka mereka akan mendapatkan kedudukan yang tinggi pula sehingga kebutuhan finansial mereka tercukupi. Di situlah da’wah yang dilakukan Muhammadiyah menjadi terlihat penting.

Muhammadiyah melawan Belanda dengan bergerak secara halus. Tidak dengan merendahkan dan menghina. Muhammadiyah justru membuat umat Islam memperkuat agamanya dengan mendirikan lembaga-lembaga yang dikhususkan untuk umat Islam. Sehingga umat Islam di Indonesia ini tidak mudah terbawa arus dan tantangan yang dihadapi oleh umat Islam saat itu. Pada akhirnya, upaya da’wah ini juga turut menjadi dinamika tersendiri serta sebagai sarana memajukan pembangunan Indonesia; jiwa dan raga.

***

(Muhammad Isa Anshory, Mengkristenkan Jawa; Dukungan Pemerintah Kolonial Belanda terhadap Penetrasi Misi Kristen, Karanganyar: Pustaka Lir Ilir, 2013, x+192 halaman)