“MAN JADDA WAJADA” Bagaimana Memahaminya?

Oleh: Fatih Madini, Mahasiswa At-Taqwa College Depok

Siapa yang tidak kenal dengan kalimat “Man jadda wajada”? Sebuah kalimat yang telah ratusan, ribuan, bahkan mungkin jutaan manusia dari yang “tidak bisa apa-apa” menjadi “bisa apa saja”; dari yang dianggap hina layaknya hamba sahaya menjadi mulia layaknya seorang raja; dari yang dianggap remeh menjadi yang selalu diperhitungkan; dan dari yang dianggap kecil menjadi seorang yang disegani.

Kalimat inilah yang juga membawa manusia seantero bumi ini kepada tempat-tempat yang “tinggi” dan mulia. Kalaupun tidak “tinggi”, cukuplah mereka merasakan banyak kenikmatan dunia dan akhirat karenanya. Maka bukan saatnya lagi untuk mempertanyakan keampuhan dan kemujaraban kalimat yang satu ini.

Namun pernahkah kalimat ini dipertanyakan dan dikritisi? Bukan karena buruk dan salah, hanya saja untuk menghindari konsekuensi terfatal dalam Islam, yakni rusaknya iman dalam hati dan rapuhnya kesungguhan dalam beramal. Bagaimana kalau terlontar dua pertanyaan terhadap kalimat ini berupa: “Benarkah setiap orang yang bersungguh-sungguh akan dan pasti berhasil?” dan “Apakah hasil yang ia dapat akan selalu sama dengan kadar kesungguhannya?”

Kemungkinan bagi para pendengar dua pertanyaan ini ialah: (1) meng-iyakan dan meyakini. (2) mulai meragukan dan mempertanyakan keabsahannya. Masalahnya, kalau dua kemungkinan itu tidak diarahkan pada jalan yang tepat, akan berdampak buruk bagi mereka. Maka mari kita bahas satu per satu!

Pertama, bagi mereka yang menyetujui bahwa setiap orang yang bersungguh-sungguh pasti berhasil dan hasilnya pasti didapat sesuai dengan kadar kesungguhannya, akan meyakini (secara sadar atau pun tidak) bahwa penyebab suatu keberhasilan adalah usaha manusia semata. Cukuplah hasil diraih dengan kerja keras dan usaha semaksimal mungkin. Begitulah kurang lebih isi kepala mereka. Inilah dampak buruk pertama: rusaknya iman dalam hati.

Dalam disiplin ilmu akidah Islam secara umum, masalah ini masuk pada pembahasan hukum sebab akibat (sabab musabbab) atau yang sering kita kenal sebagai hukum kausalitas. Namun secara singkat dan tegas, akidah Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah berpendapat bahwa satu-satunya yang dapat memberikan sebab atau satu-satunya yang dapat menciptakan perbuatan yang kemudian meniscayakan akibat, hanyalah Allah, tidak selainNya.

Sehingga bukan suatu kepastian apabila api dapat membakar kertas, makan dapat kenyang, dan obat mampu menyembuhkan. Sebagaimana firman-Nya: “dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku” (QS 26: 80).

Keyakinan ini bermula dari pembahasan salah satu sifat Allah: Wahdaniyyah dalam af’al (perbuatan) Allah. Memakai definisi Imam al-Bajuri, yang dimaksud dengan sifat tersebut adalah: “Laisa li ghairihi fi’lun min al-af’al.” Terjemahan bebasnya: “Tidak ada di luar sana yang perbuatannya sama dengan perbuatan Allah.” Maksudnya, Hanya Allah-lah yang pada hakikatnya menciptakan setiap perbuatan atau menyebabkan terjadinya suatu akibat.

Dan cukuplah peristiwa kegagalan pembakaran Nabi Ibrahim oleh Namrud, kelahiran Nabi Isa tanpa bapak, berubahnya tongkat Nabi Musa menjadi ular serta terbelahnya air oleh tongkat yang sama, menjadi bukti tak terbantahkan. Adapun mereka yang tidak berpegang pada keyakinan ini, menurut Imam Nawawi hukumnya “kufrun bi al-ijma’” (Lihat kitab Syarh Tiijan ad-Durari” karya Syaikh Nawawi al-Bantani, 2015: 4-5). Meskipun dapat diklasifikasikan sebagai kufur dalam pemikiran.

Maka jelaslah letak kerancuan yang pertama. Dimana perbuatan manusia berupa kesungguhan menggantikan perbuatan Allah dalam mewujudkan suatu keberhasilan. Akibatnya, ia merasa bahwa kesungguhan merupakan sebab keberhasilan adalah sebuah kepastian, sehingga cenderung lupa bertawakkal dan terlalu mengangung-agungkan ikhtiyar, serta lupa bahkan mungkin mengingkari adanya takdir.

Akibat yang lebih berbahaya adalah ketika keyakinan ini terlalu lama bersemayam dalam hati dan pikirannya, sehingga membuat ia harus menjadi sekuler. Yang menurut al-Attas dalam Islam and Secularism-nya mempunyai ciri “menuhankan manusia dan memanusiakan Tuhan.”
Sebab, cukuplah ia beranggapan bahwa usaha manusia pasti menyebabkan keberhasilan dan hanya usaha manusia yang terlibat dari terciptanya suatu akibat, sudah memenuhi kriteria orang sekuler tersebut. Kalau sudah begini, label kufur, sebagaimana kata Imam Nawawi di atas, sulit untuk ia tolak lagi.

Kedua, teruntuk yang telah yakin bahwa kausalitas itu di tangan Tuhan sehingga kesungguhan tidak selalu membawa keberhasilan, akan mempunyai dampak buruk berupa anggapan: “kalau begitu, untuk apa saya bersusah payah, toh hasilnya juga di tangan Allah.”

Inilah dampak buruk kedua: rapuhnya kesungguhan dalam beramal. Orang-orang seperti inilah yang terlalu banyak “bermain” di wilayah takdir (yang hanya pantas bagi Allah). Padahal cukuplah baginya untuk berada di wilayah syariat sehingga kemampuannya untuk memilih akan selalu terasa absah baginya.

Jawaban untuk orang-orang semacam ini mudah saja sebetulnya. Cukup katakan, “Kausalitas memang di tangan Tuhan, sehingga kesungguhan tidak melulu membawa keberhasilan. Tapi, apa pernah keberhasilan diraih tanpa ada kesungguhan, keseriusan, dan kegagalan terlebih dahulu?”

Bahkan, Para Nabi dan Rasul yang diberikan ilmu dan hikmah itu mesti melewati rintangan hidup yang luar biasa melebihi manusia biasa serta melakukan perbuatan baik yang luar biasa tak terkira. Begitupula dengan para wali dan sufi yang dikenal banyak mendapat ilmu ladunni pun, tidak “ujuk-ujuk” diberi Allah. Sebelumnya mereka sudah melalui proses Panjang dalam ber-taqarrub ila Allah, bahkan sampai rela mengorbankan banyak materi, waktu, dan tenaga.
Terkait hal ini, dengan mengutip sebuah syair dalam Ta’lim Muta’allim-nya, Imam Burhan al-Din al-Zanuji, mengatakan, “Bi jaddin laa bi jiddin kullu mujiddin. Fa hal jaddun bila jiddin bi mujdin. Fa kam ‘abdin yaquumu maqaama hurrin, wa kam hurrin yaquumu maqaama ‘abdin.” Terjemahan bebasnya: “Diraih dengan kesungguhan bukan dengan harta bertumpuk. Bisakah kemuliaan diraih dengan harta tanpa semangat/kesungguhan? Berapa banyak hamba sahaya menggantikan orang merdeka, dan berapa banyak orang merdeka menggantikan hamba sahaya.”

Tentu kita akui kalau ada saja yang memperoleh sesuatu tanpa disertai kesungguhan. Seperti seorang anak kaya yang memperoleh warisan berupa “tumpukan harta” dari orang tuanya. Namun, pada hakikatnya itu bukan suatu keberhasilan sehingga tidak layak disebut sebagai sebuah pencapaian, dengan syarat, ia mengklaim kalau yang didapatkannya adalah sebuah pencapaian.

Lagipula, pencapaian instan tanpa kesungguhan hanya berujung pada kehilangan yang instan pula, sebab tidak tahu bagaimana cara menjaga dan mempertahankannya. Itulah mengapa berdasarkan pribahasa “Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian,” kita selalu diingatkan bahwa: “Tidak ada kelezatan kecuali setelah kepayahan.”

Maka, mari dudukkan masalah ini dengan adil, sesuai pada porsinya. Tetap meyakini bahwa tidak ada akibat yang tidak disebabkan oleh Allah sembari terus berusaha dan pantang menyerah. Jangan pernah menilai apapun tentang diri kita kalau memang belum mengerahkan seluruh potensi akal dan fisik kita dengan serius dan sungguh-sungguh.
Dan jangan pernah menilai bahwa kita sudah berjuang hanya beradasarkan klaim kekanak-kanakan yang sama sekali luput dari kedewasaan dan kebijaksanaan, sehingga bukan usaha terus-menerus yang lahir, melainkan penyalahan yang berkala terhadap ketentuan Tuhan dan sikap mudah menyerah yang akan muncul.

Kalau kita punya waktu untuk memikirkan kegagalan yang akan diberikan Allah setelah berusaha semaksimal mungkin, bukankah lebih baik waktu itu kita gunakan untuk memikirkan hal yang sebaliknya sembari terus bekerja keras? Sebaik apapun rencana manusia, Allah memang punya ketentuanNya sendiri.

Tapi, bukankah menurut keyakinan kita, ketentuan Allah pasti lebih baik dan adil dari rencana manusia kalau mereka mau bersikap sabar dan bijaksana? “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui,” TegasNya dalam QS 2: 216.

Lagipula, Allah Maha Tahu. Maka dari itu Ia berfirman, “La yukallifu Allahu nafsan illa wus’aha” dan Ia menilai seberapa besar usahanya, bukan hasilnya. Lagipula, sulit untuk menyalahkan kalimat “usaha tidak akan mengkhianati hasil” meskipun entah hasil itu datangnya kapan. Sebab Allah berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” (QS 29: 69) dan “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS 13: 11).
Dan lagipula, bukankah sejak dahulu Nabi sudah pernah bersabda, “Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah” (HR. Muslim).

Cilodong- Depok
Rabu, 10 Maret 2021

Leave a Comment