Ujian Santri Masa Kini: Jaga Pikiran Dari Tipuan Setan
Oleh: Khadeeja Farah Dewandaru (Santri 3 SMP At-Taqwa Depok, 15 Tahun)
Artikel Ilmiah
Liputan Kegiatan
Pembina Pesantren At-Taqwa Depok, Dr. Adian Husaini, dalam acara Studium General (14/7/26), mengingatkan para santri akan gencarnya upaya setan dalam menyesatkan manusia melalui “zukhrufal qauli ghuruura”, perkataan yang indah namun menipu (QS. 6: 112). Setan, khususnya dalam wujud manusia, membisikkan tipuan dengan kata-kata yang manis supaya terpedayalah anak Adam.
Kini, perkataan indah untuk menipu manusia itu diwujudkan lewat teori-teori dan konsep-konsep yang menyesatkan dan mengelirukan, lewat ilmu-ilmu yang merusak (confusion of knowledge), yang dapat mengakibatkan hilangnya adab (loss of adab). Ini adalah tantangan besar bagi para santri.
Salah satu konsep yang merusak pikiran santri adalah konsep kesuksesan (kemajuan), bahwa santri sukses adalah yang ketika lulus bisa masuk perguruan tinggi favorit untuk kemudian semata-mata bisa kerja dan memperoleh materi. Itu tidak salah, tapi bukan prioritas.
“Akhirnya, ketika lulus pesantren, ilmu-ilmu agamanya, ilmu-ilmu fardhu `ain-nya, dan nasihat-nasihat kyainya supaya lulus jadi manusia baik dan bermanfaat, seperti hilang, seperti tidak pernah dipelajari sebelumnya,” ucap Ustadz Adian.
Kalau tujuan materi itu menjadi prioritas, para santri akan hilang fokus untuk mengamalkan dan mengajarkan ilmunya. Sebab menurut Syekh Az-Zarnuji dalam Ta`lim Muta`allim, itulah dua ciri ilmu yang bermanfaat. manusia baik dan bermanfaat.
Menurut Az-Zarnuji, di antara niat utama mencari ilmu adalah untuk meraih ridha Allah, menghilangkan kebodohan diri sendiri, mengajar, dan berjuang menegakkan agama Allah. Ia membolehkan niat meraih kedudukan, tapi tetap sebagai alat untuk amar ma`ruf nahi munkar.
Kalau tujuan-tujuan dunia mendominasi, tujuan-tujuan itu akan pupus, sehingga santri cenderung lupa bahkan menyepelekan misi perjuangannya, akhlak bahkan imannya. Padahal tiga hal itulah yang paling penting dalam hidup. Ketiganya pun menjadi materi pokok di pondok melalui penanaman adab dan pengajaran ilmu-ilmu fardhu `ain.
“Tapi gara-gara godaan konsep menawan setan, santri jadi lupa akan hal-hal paling mendasar dalam hidupnya dan tentang dirinya: siapa dirinya, dari mana datangnya, untuk apa hidup di dunia dan mau ke mana setelah mati?” tutur Ustadz Adian.
Konsep kesuksesan yang sekular itu memicu jiwa santri untuk cinta dunia. Akhirnya lupa akan kewajibannya untuk amar ma`ruf nahi munkar, saling menasihati. Kalau cita-cita perjuangan hilang, kata Ustadz Adian, orang Islam akan rugi (QS. 103: 11).
Mereka juga akan menjadi umat yang hina karena hanya memikirkan dirinya sendiri, bukan umat, agama, apalagi akhirat. Inilah yang disabdakan oleh Nabi: “Apabila kalian telah berjual beli dengan cara `inah, dan kalian telah disibukkan memegang ekor-ekor sapi, dan telah senang dengan bercocok tanam dan juga kalian telah meninggalkan jihad, niscaya Allah subhanahu wa Ta`ala akan kuasakan/timpakan kehinaan kepada kalian, tidak akan dicabut/dihilangkan kehinaan tersebut hingga kalian kembali kepada agama kalian” (HR. Abu Dawud).
Nabi pun bersabda: “Hampir tiba saatnya bangsa-bangsa lain saling mengerumuni kalian sebagaimana orang-orang yang makan mengerumuni hidangan mereka. Seseorang bertanya, `Apakah karena jumlah kami sedikit pada waktu itu?` Beliau menjawab, `Tidak. Bahkan pada waktu itu jumlah kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan. Allah benar-benar akan mencabut rasa segan terhadap kalian dari hati musuh-musuh kalian, dan Allah benar-benar akan melemparkan al-wahn ke dalam hati kalian.` Seseorang bertanya, `Wahai Rasulullah, apakah al-wahn itu?` Beliau menjawab, `Cinta dunia dan takut mati`” (HR. Abu Dawud). Cukuplah tragedi Perang Salib di Yerusalem dan Pasukan Mongol di Baghdad menjadi buktinya.
Maka, Usatdz Adian mengingatkan, santri harus punya visi dakwah, bahwa lulus pesantren harus menjadi manusia baik dan bermanfaat, yang peduli dengan iman, akhlak dan taqwanya. Kalau semua itu dipedulikan, motivasi utamanya ketika lulus pesantren adalah mencari ilmu dan guru yang benar, bukan kampus bergengsi semata.
“Ilmu di pesantren itu ilmu yang tinggi. Bisa mengajarkan orang ngaji, thaharah dan shalat yang benar, bisa mengantarkan orang itu ke surga. Bahkan di sini juga diajarkan cara berpikir yang benar sekaligus tinggi. Maka jangan minder jadi santri,” ungkapnya.
*
Editor: Humas At-Taqwa