Pesantren: Tempat Ideal Belajar Ilmu dan Adab, Jangan Tinggalkan!

Oleh: Mafaza Fadhlina Puteri S (Santri 3 SMP At-Taqwa Depok, 15 Tahun)
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
gambar_artikel

Mudir Pesantren At-Taqwa Depok, Dr. Muhammad Ardiansyah, dalam Acara Studium General (15/7/26) membawakan tema yang cukup menarik dan `relevan` di zaman ini: “Pesantren: Antara Tantangan Zaman Dan Cita-Cita Peradaban“. 
 
Ustadz Ardiansyah menjelaskan bahwa beliau mengambil tema “Pesantren“ sebagai jawaban atas berbagai pandangan dan pernyataan yang semakin lama semakin merenggut sudut pandang positif orang-orang terhadap pesantren itu sendiri. 
 
Sebetulnya, pesantren adalah solusi nyata bagi para orang tua yang kebingungan dalam menentukan sekolah yang tepat, di tengah menjamurnya lembaga pendidikan di Indonesia. 
 
Akan tetapi, walaupun pesantren sebenarnya merupakan solusi atas kebimbangan, tantangan-tantangan zaman terus-menerus berusaha menggerogoti otoritas dunia pesantren secara perlahan-lahan. 
 
Ustadz Ardiansyah menjelaskan, setidaknya tantangan terhadap pesantren dapat diklasifikan menjadi dua faktor: Internal dan Eskternal.
 
Faktor Internal salah satunya adalah karena manajemen kekeluargaan di lingkungan pesantren. Kyai wafat, meninggalkan seorang penerus yang belum “matang“ untuk mengelola pesantren. Akhirnya, hal tersebut menjadi alasan hancurnya otoritas pesantren di kancah dunia luar. 
 
Sedangkan faktor eksternal salah satunya adalah munculnya stigma negatif yang telah tertanam dalam pikiran para orang tua terkait dunia pesantren sehingga membuat mereka enggan menitipkan pembelajaran anak-anaknya di Pesantren. 
 
Faktor eksternal satu ini dipicu oleh fenomena-fenomena buruk dan isu-isu miring yang menyudutkan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang dinilai yang tidak layak bagi anak. Segala kasus yang tersebar, berhasil mem-framing secara buruk kehidupan dan pembelajaran di pesantren. 
 
Padahal kenyataannya, Pesantren justru merupakan tempat paling ideal bagi anak untuk menimba ilmu dan adab. Ia memiliki kurikulum dan sistem pembelajaran yang sangat ideal. Pembelajarannya “24 jam” dengan adanya sistem asrama. 
 
Di pesantren pula, para murid (santri) senantiasa diingatkan dan diarahkan untuk menjaga niat belajar, supaya tidak hanya sibuk mau mencari dunia dan menjadi orang yang sukses secara materi semata, tapi juga sukses di kehidupan selanjutnya, dengan fokus dan sibuk menempa diri menjadi manusia yang baik dan bermanfaat.  
 
Sebagai penutup, Ustadz Ardiansyah memberikan closing statement melalui Pembina Pesantren At-Taqwa, Ustadz Dr Adian Husaini: “Kalau belajar hanya untuk nyari makan, maka tidak ada bedanya dengan kambing dan monyet. Karena mereka bisa nyari makan tanpa harus belajar!” 

AT-TAQWA DEPOK
Jl. Usman Hasbi, RT.04 RW 04 Jatimulya, Cilodong - Depok
info@attaqwa.id
(+62)856 0980 9086