Tidak Hanya Ki Hajar Dewantara, Santri At-Taqwa Kenalkan Dua Tokoh Pendidikan Yang Berjasa Bagi Islam dan Indonesia

Oleh: Nabil Luqman Yadika Akbar (Santri PRISTAC - Setingkat SMA - Pesantren At-Taqwa Depok, 16 tahun)
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
...

Santri-santri PRISTAC At-Taqwa Pada Ahad (19/5/2024) mempresentasikan makalah mereka di Pesantren Persatuan Islam (PERSIS) 112, Bogor. Melalui makalah-makalah ilmiah itu, mereka mengenalkan dua tokoh pendidikan yang sangat besar jasanya bagi Islam dan Indonesia. Dua tokoh itu adalah KH. Abdul Wahid Hasyim dan Syekh Djamil Jambek.

Tokoh pertama ditulis oleh Ibnu Afkar Assidiqie (19 tahun) dengan judul “Konsep Pendidikan Da’i Pejuang Menurut KH. Abdul Wahid Hasyim”. Cucu Irene Handono, Kristolog yang memiliki Pesantren khusus Muallaf di daerah Bogor itu menegaskan bahwa dengan menerapkan konsep pendidikan da’i Wahid Hasyim, lembaga pendidikan Islam khususnya pesantren akan mampu melahirkan para da’i dan guru yang ikhlas berjuang demi kepentingan Islam dan Indonesia.

Afkar mengatakan, konsep pendidikan da’i pejuang itu selaras dengan tujuan hakiki pendidikan dalam Islam dan amanah konstitusi. Yakni untuk menanamkan adab dan melahirkan manusia-manusia yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia.

“Artinya, orang yang belajar tapi tidak mengutamakan adab, iman, taqwa dan akhlak mulia, patut dipertanyakan identitasnya sebagai orang Islam dan orang Indonesia,” ujarnya.

Tokoh Kedua ditulis oleh Jilan Salma (17 tahun) dengan judul “Pemikiran Dan Perjuangan Syekh Djamil Jambek Dalam Pembaharuan Pendidikan Islam Di Bukittinggi”. Dilatarbelakangi oleh kondisi pendidikan di Bukittinggi pada masa itu yang hanya menyentuh kalangan tertentu, Jilan menjelaskan betapa hebatnya Syekh Djamil mengubah kondisi itu melalui pembaharua pendidikannya.

Salah satu terobosannya, kata Jilan, adalah ketika ia mengubah sistem halaqah (kelompok-kelompok pembelajaran kecil) di Surau menjadi tabligh atau tampil di tengah masyarakat untuk mengajar. Berkat tabligh-nya, Syekh Djamil berhasil menyentuh berbagai lapisan masyarakat di Bukittinggi, sehingga banyak yang terdidik dan ilmu-ilmu agama semakin meluas.

“Kita selama ini hanya menyiarkan pendidikan dan pengajaran Islam di surau-surau saja, sekarang harus kita siarkan ke kota-kota, ke dusun-dusun dan kepada sekalian masyarakat, laki-laki dan perempuan. Kalau orang memperagakan barang-barang dagangannya di pasar-pasar maka kita harus memperagakan pengajian agama kita sampai ke pasar-pasar juga,” jelas Jilan mengutip Syekh yang ahli dalam ilmu Falaq itu.

Selain itu, ia juga melakukan pembaharuan dalam pendidikan Islam dengan mengambil manfaat dari ilmu-ilmu umum. “Dengannya ia bisa mengambil semangat zaman dan mengetahui ancaman yang dibawa kolonial Belanda melalui sekolah yang mereka dirikan,” ucap Jilan.

Selain Afkar dan Jilan, ada satu lagi yang memaparkan makalah sekaligus menguatkan dua judul di atas. Ia adalah Fatimah Fauziah Az-zahra (16 tahun) yang menulis tentang “Berkomunikasi Dalam Islam: Tuntunan Al-Qur’an Dan Rasulullah Sebagai Teladan”.

Ia menjelaskan bahwa ilmu komunikasi dalam Islam, melalui Quran dan Sunnah, telah lebih dahulu ketimbang ilmu komunikasi Barat. Menurutnya, ilmu komunikasi Barat sebatas berkutat pada materi dan dunia. Bahkan tidak sedikit yang ditujukan sekadar meraih keuntungan dunia. Itulah mengapa prinsip mereka adalah kebebasan berekspresi.

“Sedangkan ilmu komunikasi dalam Islam, mengedepankan moral dan dakwah. Meskipun begitu, ia tetap mencakup detail-detail penting dalam komunikasi sebagaimana yang dikaji dalam ilmu komunikasi Barat,” pungkasnya.

“Komunikasi Islam terbukti unggul. Buktinya adalah suksesnya komunikasi Nabi dalam mendidik para Sahabat hingga menjadi generasi terbaik sepanjang masa,” lanjutnya. Salah satu santri PERSIS kelas 2 SMA, Haudi Zamzami dari kelas, mengaku sangat bersyukur atas ilmu-ilmu yang telah dipaparkan. Ia menjadikan acara ini sebagai bahan tambahan pengetahuan baginya.

“Ana yang juga sedang mencari judul untuk menulis karya tulis ilmiah sebagai syarat kelulusan, sangat bersyukur dengan adanya presentasi ini. Ana jadi mengetahui hal baru yang bermanfaat dan bisa ana jadikan ide untuk tulisan ana nanti,” ucapnya saat diwawancara langsung oleh kami.

Para santri PRISTAC adalah santri-santri tingkat SMA di Pesantren At-Taqwa Depok bernama PRISTAC (Pesantren for the Study of Islamic Thought and Civilization/Pesantren Pemikiran dan Peradaban Islam). Mereka harus menulis dan mempresentasikan makalah di hadapan pembimbing, guru, lembaga pendidikan di luar Pesantren At-Taqwa dan wali santri.

Tahun 2024 ini adalah angkatan PRISTAC keenam. Ada 40 makalah yang ditulis oleh para santri. Sejak tahun 2018, sudah lebih dari 100 makalah yang terhimpun dan ditulis oleh para santri. Inilah salah satu cara Pesantren At-Taqwa Depok dalam menanamkan adab terhadap ilmu dan budaya literasi di kalangan santri. (Editor: Fatih)

AT-TAQWA DEPOK
Jl. Usman Hasbi, RT.04 RW 04 Jatimulya, Cilodong - Depok
info@attaqwa.id
(+62)856 0980 9086