Tangisan Rasulullah: Antara Kasih Sayang dan Keteguhan Menghadapi Takdir

Oleh: M. Fatah All Hasan (Santri SMP At-Taqwa)
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
gambar_artikel

Pandaan, Sabtu, 31 Oktober 2026 — Pada malam harinya, santri At-Taqwa mengikuti kajian rutin yang biasa diadakan setiap malam Minggu. Kajian kali ini disampaikan oleh Ustadz Marzuki. Tema yang dibahas adalah sebuah hadits Nabi yang menceritakan peristiwa ketika cucu Rasulullah sedang sekarat. Putri Rasulullah kemudian mengabarkan kondisi anaknya tersebut kepada ayahnya, yakni Rasulullah sendiri.

Putri Rasulullah mengutus seseorang untuk menyampaikan berita tersebut kepada ayahnya. Akan tetapi, Rasulullah tidak langsung menanggapi kabar itu. Diriwayatkan bahwa putri Rasulullah mengirim utusan sebanyak dua atau tiga kali. Barulah setelah utusan terakhir datang, Rasulullah memenuhi panggilan tersebut. Banyak orang yang berada di sekitar tempat itu mengira bahwa ada sesuatu yang membuat Rasulullah tidak berkenan terhadap putrinya. Namun, peristiwa ini mengajarkan kepada kita untuk bersabar atas takdir kematian yang telah Allah tetapkan.

Rasulullah juga menyampaikan nasihat melalui sikap dan tindakannya. Seseorang yang sedang tertimpa kesusahan hendaknya tidak sampai menyusahkan orang lain. Kehadiran Rasulullah di kediaman putrinya yang sedang dilanda kesusahan juga memberikan pelajaran bagi kita tentang pentingnya menghibur orang yang tertimpa musibah.

Sesampainya Rasulullah bersama para sahabat di tempat tujuan, mereka disambut dengan pemandangan yang menyedihkan. Cucunya yang sedang sekarat berupaya untuk bernapas dengan susah payah. Anak tersebut kemudian diletakkan di pangkuan Rasulullah. Air mata pun mengalir di wajah beliau.

Namun, di tengah kesedihan tersebut, Rasulullah tidak berlebihan atau sampai meratapi cucunya. Peristiwa ini menjadi pelajaran dan peringatan bagi kita agar tidak berlebihan dalam menyikapi kematian, karena sikap berlebihan merupakan bentuk pemberontakan terhadap takdir Allah yang telah ditetapkan. Menangis merupakan hal yang diperbolehkan sebagai bentuk rahmat dan kasih sayang yang telah Allah berikan. Air mata juga menjadi simbol kelembutan dan kasih sayang yang tulus. Hal ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kasih sayang merupakan bagian penting dalam diri manusia.

Semua itu merupakan bentuk pengajaran yang telah Rasulullah sampaikan melalui sunnahnya, baik dalam menyikapi orang yang meninggal dunia, memperlakukan orang yang tertimpa musibah, maupun dalam bersikap kepada Allah.

AT-TAQWA DEPOK
Jl. Usman Hasbi, RT.04 RW 04 Jatimulya, Cilodong - Depok
info@attaqwa.id
(+62)856 0980 9086