Dzamm al-Ghurur dalam Ihya `Ulumiddin (1): Tipuan Dunia dan Obatnya
Oleh: Muhammad Zahid Rizqi Hakim (Santri SMP At-Taqwa, 15 Tahun)
Artikel Ilmiah
Liputan Kegiatan
Pandaan, Jumat, 30 Oktober 2026 — Pada malam itu, Ustadz Kholili mengumpulkan para santri untuk mempelajari kitab Ihya Ulumuddin bersama salah seorang murid beliau dari Surabaya yang biasa dipanggil Mas Surya. Kajian berlangsung selama satu jam lima belas menit setelah shalat Isya dan makan malam.
Pembahasan kali ini mengenai ghurur, yaitu sifat tercela berupa tertipu oleh keyakinan dan pemikiran sendiri. Salah satu contohnya adalah orang-orang kafir yang tertipu oleh kehidupan dunia dan pemahaman mereka tentang Allah SWT.
Orang-orang kafir yang tertipu oleh dunia menganggap sesuatu yang segera lebih baik daripada sesuatu yang tertunda. Dunia dipandang lebih baik karena kenikmatannya dapat dirasakan sekarang, sedangkan akhirat dianggap masih jauh. Mereka juga menganggap keyakinan lebih baik daripada keraguan. Maksudnya, kenikmatan dunia dianggap pasti, sementara kenikmatan akhirat dipandang meragukan. Padahal, pemahaman tentang kepastian dan keraguan tersebut keliru.
Pola pikir ini serupa dengan Iblis yang merasa lebih mulia daripada Nabi Adam karena diciptakan dari api, sedangkan Adam dari tanah. Padahal, Allah memerintahkan Iblis untuk bersujud kepada Adam. Iblis telah tertipu oleh pemikirannya sendiri. Demikian pula manusia yang mengutamakan dunia hingga mengorbankan akhirat.
Menurut penjelasan Ustadz Kholili, ghurur memiliki dua obat. Pertama, membenarkan dengan iman. Kedua, menggunakan bukti dan argumentasi. Cara pertama berkaitan dengan hati, sedangkan cara kedua menggunakan rasio atau logika.
Iman dapat dikuatkan dengan memperbanyak ibadah. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa iman dapat naik karena amal ibadah dan turun akibat maksiat. Karena itu, ketika merasa iman melemah, hendaknya kita meningkatkan ibadah, seperti shalat, puasa, dan amalan lainnya.
Kita juga perlu menyadari bahwa kenikmatan dunia bersifat sementara, sedangkan kehidupan akhirat lebih baik dan kekal. Jangan sampai kenikmatan dunia membuat kita melupakan kehidupan akhirat.
Dalam kajian tersebut, Ustadz Kholili juga menjelaskan kelompok orang kafir berdasarkan penyampaian Rasulullah SAW. Ada kelompok yang langsung menerima ajakan masuk Islam dan ada pula yang meminta bukti terlebih dahulu. Kelompok kedua diumpamakan seperti seseorang yang bertanya ketika diperintahkan orang tuanya untuk bersekolah.
Dari kajian ini, kami memahami bahwa ghurur merupakan sifat tercela yang dapat menjerumuskan manusia karena keliru memandang dunia dan akhirat. Obatnya adalah menguatkan iman serta menggunakan bukti dan argumentasi. Kami juga diingatkan agar tidak tertipu oleh kenikmatan dunia yang sementara hingga melupakan kehidupan akhirat.
Pada pertemuan kali ini, kami baru membahas satu bab dan akan melanjutkannya pada kajian berikutnya. Ustadz Kholili mengajak para santri untuk tetap mengikuti kajian melalui Zoom setelah kembali dari Pandaan. Seusai pembelajaran, tiga orang mengajukan pertanyaan, yaitu seorang murid Ustadz Kholili dari Surabaya serta dua santri At-Taqwa, Zahid dan Zufar. Kajian ditutup dengan doa dan salam.
Pembahasan kali ini mengenai ghurur, yaitu sifat tercela berupa tertipu oleh keyakinan dan pemikiran sendiri. Salah satu contohnya adalah orang-orang kafir yang tertipu oleh kehidupan dunia dan pemahaman mereka tentang Allah SWT.
Orang-orang kafir yang tertipu oleh dunia menganggap sesuatu yang segera lebih baik daripada sesuatu yang tertunda. Dunia dipandang lebih baik karena kenikmatannya dapat dirasakan sekarang, sedangkan akhirat dianggap masih jauh. Mereka juga menganggap keyakinan lebih baik daripada keraguan. Maksudnya, kenikmatan dunia dianggap pasti, sementara kenikmatan akhirat dipandang meragukan. Padahal, pemahaman tentang kepastian dan keraguan tersebut keliru.
Pola pikir ini serupa dengan Iblis yang merasa lebih mulia daripada Nabi Adam karena diciptakan dari api, sedangkan Adam dari tanah. Padahal, Allah memerintahkan Iblis untuk bersujud kepada Adam. Iblis telah tertipu oleh pemikirannya sendiri. Demikian pula manusia yang mengutamakan dunia hingga mengorbankan akhirat.
Menurut penjelasan Ustadz Kholili, ghurur memiliki dua obat. Pertama, membenarkan dengan iman. Kedua, menggunakan bukti dan argumentasi. Cara pertama berkaitan dengan hati, sedangkan cara kedua menggunakan rasio atau logika.
Iman dapat dikuatkan dengan memperbanyak ibadah. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa iman dapat naik karena amal ibadah dan turun akibat maksiat. Karena itu, ketika merasa iman melemah, hendaknya kita meningkatkan ibadah, seperti shalat, puasa, dan amalan lainnya.
Kita juga perlu menyadari bahwa kenikmatan dunia bersifat sementara, sedangkan kehidupan akhirat lebih baik dan kekal. Jangan sampai kenikmatan dunia membuat kita melupakan kehidupan akhirat.
Dalam kajian tersebut, Ustadz Kholili juga menjelaskan kelompok orang kafir berdasarkan penyampaian Rasulullah SAW. Ada kelompok yang langsung menerima ajakan masuk Islam dan ada pula yang meminta bukti terlebih dahulu. Kelompok kedua diumpamakan seperti seseorang yang bertanya ketika diperintahkan orang tuanya untuk bersekolah.
Dari kajian ini, kami memahami bahwa ghurur merupakan sifat tercela yang dapat menjerumuskan manusia karena keliru memandang dunia dan akhirat. Obatnya adalah menguatkan iman serta menggunakan bukti dan argumentasi. Kami juga diingatkan agar tidak tertipu oleh kenikmatan dunia yang sementara hingga melupakan kehidupan akhirat.
Pada pertemuan kali ini, kami baru membahas satu bab dan akan melanjutkannya pada kajian berikutnya. Ustadz Kholili mengajak para santri untuk tetap mengikuti kajian melalui Zoom setelah kembali dari Pandaan. Seusai pembelajaran, tiga orang mengajukan pertanyaan, yaitu seorang murid Ustadz Kholili dari Surabaya serta dua santri At-Taqwa, Zahid dan Zufar. Kajian ditutup dengan doa dan salam.