Refleksi Mengajar Taman Pendidikan Qur`an: Memupuk Akar Keimanan, Menyiapkan Generasi Masa Depan
Oleh: Khadeeja Farah Dewandaru (Santri SMP At-Taqwa, 15 tahun)
Artikel Ilmiah
Liputan Kegiatan
Terik mentari kian menua, memudar bersama arakan awan lembayung, menciptakan suasana teduh beraroma syahdu. Sore yang berbeda. Entah kerinduan apa yang akhirnya terbayarkan di Pandaan. Lantunan pujian kepada Ta`ala bersahut-sahutan, angin keikhlasan merebak mewangi. Anak-anak mungil tekun mengaji, sementara yang tua sadar bahwa usia bukan alasan untuk berhenti. Tersusup bahagia di hati. Benar adanya, mereka adalah pasak kemaslahatan bumi, yang karena kehadirannya azab Allah ditarik kembali.
Mengajar TPQ memang bukan perkara sulit, tetapi tidak pula mudah. Tidak semua anak memiliki fokus belajar yang sama, begitu pula kelancaran membaca mereka. Namun, ada satu hal yang terasa begitu nyata: asa untuk mengkaji yang terus membara.
Dalam proses pengajaran, kesabaran sering kali menjadi sorotan utama. Itu benar. Namun, bagaimana jika kita mencari tujuan yang lebih besar, yang dapat melapangkan dada? Bukan sekadar menahan gejolak jengkel dengan harapan memperoleh pahala, melainkan memahami misi besar di balik setiap huruf yang diajarkan. Maka, mulailah dengan menyelidiki niat: apa sebenarnya yang hendak kita tanamkan?
Guru kami pernah membahas golongan orang-orang yang mendapat keistimewaan di akhirat. Beliau menyampaikan, “Termasuk orang yang mendapat keistimewaan sebagaimana seorang syahid adalah mereka yang mendidik anak kecil hingga tertanam dalam nuraninya atau mampu mengucapkan kalimat tauhid.”
Dahulu, aku kecil mempertanyakan: apa arti “A, ba, ta” di telinga? Untuk apa setiap hari kita mengulang-ulangnya? Mengapa harus dibaca, toh aku sudah hafal di luar kepala?
Kini, sore pengantar malam itu kembali terlintas. Lima belas tahun berlalu. Aku justru dinasihati oleh sosok yang seusia dengan diriku dahulu, yang pernah mengajukan pertanyaan serupa.
“Aku mau dapat pahala.”
“Kenapa? Kamu percaya pahala?”
“Iya, makanya aku senang.”
Betapa sederhana, tetapi betapa dalam maknanya. Kebahagiaan karena meyakini janji akhirat. Inilah bekalmu, Nak, untuk menghadapi carut-marut akhir zaman. Sebentar, harus kupastikan ajaran ini benar-benar mengakar dalam bawah sadarmu. Agar kelak, ketika dihadapkan pada pilihan antara yang baik dan buruk, ketika kebingungan menentukan arah dan mencari tempat kembali, engkau tahu bahwa Allah adalah tujuanmu dan kalam-Nya adalah peta perjalananmu.
Di luar sana, sebagian orang berpandangan bahwa beragama tak lebih dari sikap kekanak-kanakan dan ketergantungan. Bagi mereka, dewasa berarti mandiri, tanpa membutuhkan bantuan siapa pun, tak terkecuali Tuhan. Mereka lupa, manusia hanyalah makhluk kecil yang senantiasa berkebutuhan. Bahkan, kekeliruan dalam memahami kemandirian itu dapat mengantarkan seseorang pada dosa yang terus bertumpuk.
Sungguh beruntung mereka yang sejak usia belia telah ditumbuhkan dengan akar keimanan yang menghunjam dalam relung hati. Sebab, ketika akalnya matang, ia tidak lantas menjadi besar kepala di hadapan Penciptanya. Ia tumbuh dewasa tanpa kehilangan kesadaran akan siapa dirinya dan kepada siapa ia bergantung.
Maka, mengajar anak-anak mengaji bukan sekadar mengajarkan mereka membaca huruf demi huruf. Ada akar yang sedang ditanam, ada keyakinan yang sedang dibangun, dan ada masa depan iman yang sedang diperjuangkan. Sebab, kelak kita mungkin tak lagi berada di sisi mereka. Namun, semoga apa yang kita tanamkan hari ini tetap hidup dan menuntun langkah mereka.
Sebenar-benar terima kasih dan kebanggaan teruntuk seluruh guru di dunia. Terutama mereka yang dengan sabar memupuk akar, meski belum tentu sempat menyaksikan pohonnya tumbuh menjulang.
Mengajar TPQ memang bukan perkara sulit, tetapi tidak pula mudah. Tidak semua anak memiliki fokus belajar yang sama, begitu pula kelancaran membaca mereka. Namun, ada satu hal yang terasa begitu nyata: asa untuk mengkaji yang terus membara.
Dalam proses pengajaran, kesabaran sering kali menjadi sorotan utama. Itu benar. Namun, bagaimana jika kita mencari tujuan yang lebih besar, yang dapat melapangkan dada? Bukan sekadar menahan gejolak jengkel dengan harapan memperoleh pahala, melainkan memahami misi besar di balik setiap huruf yang diajarkan. Maka, mulailah dengan menyelidiki niat: apa sebenarnya yang hendak kita tanamkan?
Guru kami pernah membahas golongan orang-orang yang mendapat keistimewaan di akhirat. Beliau menyampaikan, “Termasuk orang yang mendapat keistimewaan sebagaimana seorang syahid adalah mereka yang mendidik anak kecil hingga tertanam dalam nuraninya atau mampu mengucapkan kalimat tauhid.”
Dahulu, aku kecil mempertanyakan: apa arti “A, ba, ta” di telinga? Untuk apa setiap hari kita mengulang-ulangnya? Mengapa harus dibaca, toh aku sudah hafal di luar kepala?
Kini, sore pengantar malam itu kembali terlintas. Lima belas tahun berlalu. Aku justru dinasihati oleh sosok yang seusia dengan diriku dahulu, yang pernah mengajukan pertanyaan serupa.
“Aku mau dapat pahala.”
“Kenapa? Kamu percaya pahala?”
“Iya, makanya aku senang.”
Betapa sederhana, tetapi betapa dalam maknanya. Kebahagiaan karena meyakini janji akhirat. Inilah bekalmu, Nak, untuk menghadapi carut-marut akhir zaman. Sebentar, harus kupastikan ajaran ini benar-benar mengakar dalam bawah sadarmu. Agar kelak, ketika dihadapkan pada pilihan antara yang baik dan buruk, ketika kebingungan menentukan arah dan mencari tempat kembali, engkau tahu bahwa Allah adalah tujuanmu dan kalam-Nya adalah peta perjalananmu.
Di luar sana, sebagian orang berpandangan bahwa beragama tak lebih dari sikap kekanak-kanakan dan ketergantungan. Bagi mereka, dewasa berarti mandiri, tanpa membutuhkan bantuan siapa pun, tak terkecuali Tuhan. Mereka lupa, manusia hanyalah makhluk kecil yang senantiasa berkebutuhan. Bahkan, kekeliruan dalam memahami kemandirian itu dapat mengantarkan seseorang pada dosa yang terus bertumpuk.
Sungguh beruntung mereka yang sejak usia belia telah ditumbuhkan dengan akar keimanan yang menghunjam dalam relung hati. Sebab, ketika akalnya matang, ia tidak lantas menjadi besar kepala di hadapan Penciptanya. Ia tumbuh dewasa tanpa kehilangan kesadaran akan siapa dirinya dan kepada siapa ia bergantung.
Maka, mengajar anak-anak mengaji bukan sekadar mengajarkan mereka membaca huruf demi huruf. Ada akar yang sedang ditanam, ada keyakinan yang sedang dibangun, dan ada masa depan iman yang sedang diperjuangkan. Sebab, kelak kita mungkin tak lagi berada di sisi mereka. Namun, semoga apa yang kita tanamkan hari ini tetap hidup dan menuntun langkah mereka.
Sebenar-benar terima kasih dan kebanggaan teruntuk seluruh guru di dunia. Terutama mereka yang dengan sabar memupuk akar, meski belum tentu sempat menyaksikan pohonnya tumbuh menjulang.