Tafsir QS. At-Taubah Ayat 128-129: Fadhilah Membacanya dan Pentingnya Menjaga Istiqamah
Oleh: Zufar Arzy Zuhdi (Santri SMP, 14 Tahun)
Artikel Ilmiah
Liputan Kegiatan
Pandaan, Sabtu, 24 Oktober 2026 — Pada Sabtu malam ini, kami, para santri Pondok Pesantren At-Taqwa Depok, mengikuti kajian ba`da Maghrib yang disampaikan oleh Kiai Abdus Salam. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengkaji kitab tafsir dan membahas Surah At-Taubah ayat 128-129.
Kiai Abdus Salam menjelaskan beberapa fadhilah membaca kedua ayat tersebut secara istiqamah setelah salat. Menurut penjelasan beliau, fadhilah yang diperoleh berkaitan dengan jumlah bacaan yang diamalkan.
Apabila kedua ayat tersebut dibaca satu kali setiap selesai salat Subuh, fadhilahnya adalah orang-orang di sekitar kita akan merasa simpati kepada kita.
Sementara itu, jika dibaca tujuh kali setiap selesai salat Subuh dan Asar, amalan tersebut diyakini dapat menjadi penangkal kecelakaan. Beliau menyebutnya dengan istilah “terhindar dari ketiban besi”. Maksudnya, terhindar dari kecelakaan kendaraan seperti mobil atau motor yang sebagian besar bagiannya terbuat dari besi.
Adapun fadhilah yang terakhir adalah apabila kedua ayat tersebut dibaca sebanyak 41 kali setelah salat Subuh dan Asar, insya Allah seseorang dapat bertemu dengan Nabi Muhammad SAW dalam mimpi. Kiai Abdus Salam menjelaskan bahwa keinginan untuk bertemu Rasulullah SAW perlu diiringi dengan kesungguhan dalam beramal. Di antara amalan yang beliau contohkan ialah membaca selawat sebanyak 10.000 kali atau menjalankan puasa.
Namun, hal terpenting yang ditekankan dalam kajian ini adalah keistiqamahan. Sebab, menjalankan suatu amalan secara terus-menerus bukanlah perkara mudah. Ada kalanya kita bersemangat dalam beribadah, tetapi pada waktu lain rasa malas datang sehingga ibadah terasa lebih berat untuk dilakukan.
Meski demikian, kita tidak seharusnya menunggu datangnya semangat untuk beribadah. Justru, kita perlu berusaha menjaga keistiqamahan, termasuk ketika semangat sedang menurun. Rasulullah SAW bersabda:
“Ahabbu al-a`maali ilallaahi Ta`aalaa adwamuhaa wa in qalla.”
Artinya, “Amal yang paling dicintai Allah Taala adalah amal yang dilakukan terus-menerus, meskipun sedikit.”
Selain itu, Kiai Kholil Bangkalan dari Madura juga dikenal dengan ungkapan:
“Al-istiqamatu khairun min alfi karaamah.”
Artinya, “Istiqamah lebih baik daripada seribu karamah.”
Dari penjelasan tersebut, kami memahami bahwa keistiqamahan merupakan hal penting dalam beribadah. Meskipun sulit dijaga, kita harus terus berusaha melakukannya. Amalan yang sedikit, tetapi dikerjakan secara konsisten, memiliki keutamaan tersendiri di sisi Allah.
Pada akhir kajian, Kiai Abdus Salam juga menekankan pentingnya melestarikan pengajian yang berfokus pada kitab kuning. Menurut beliau, saat ini ada pengajian yang pembahasannya tidak sesuai dengan tema awal sehingga melebar ke berbagai persoalan, termasuk berita terkini. Akibatnya, peserta yang seharusnya memperoleh ilmu justru lebih banyak mendengar berita.
Hal tersebut perlu menjadi perhatian. Pengajian semestinya menjadi tempat untuk menuntut ilmu, bukan sekadar membicarakan berita. Dengan menggunakan kitab kuning sebagai pedoman, pembahasan dapat berlangsung lebih terarah, mengikuti urutan materi yang telah disusun, dan tidak mudah melebar ke persoalan lain.
Kiai Abdus Salam menjelaskan beberapa fadhilah membaca kedua ayat tersebut secara istiqamah setelah salat. Menurut penjelasan beliau, fadhilah yang diperoleh berkaitan dengan jumlah bacaan yang diamalkan.
Apabila kedua ayat tersebut dibaca satu kali setiap selesai salat Subuh, fadhilahnya adalah orang-orang di sekitar kita akan merasa simpati kepada kita.
Sementara itu, jika dibaca tujuh kali setiap selesai salat Subuh dan Asar, amalan tersebut diyakini dapat menjadi penangkal kecelakaan. Beliau menyebutnya dengan istilah “terhindar dari ketiban besi”. Maksudnya, terhindar dari kecelakaan kendaraan seperti mobil atau motor yang sebagian besar bagiannya terbuat dari besi.
Adapun fadhilah yang terakhir adalah apabila kedua ayat tersebut dibaca sebanyak 41 kali setelah salat Subuh dan Asar, insya Allah seseorang dapat bertemu dengan Nabi Muhammad SAW dalam mimpi. Kiai Abdus Salam menjelaskan bahwa keinginan untuk bertemu Rasulullah SAW perlu diiringi dengan kesungguhan dalam beramal. Di antara amalan yang beliau contohkan ialah membaca selawat sebanyak 10.000 kali atau menjalankan puasa.
Namun, hal terpenting yang ditekankan dalam kajian ini adalah keistiqamahan. Sebab, menjalankan suatu amalan secara terus-menerus bukanlah perkara mudah. Ada kalanya kita bersemangat dalam beribadah, tetapi pada waktu lain rasa malas datang sehingga ibadah terasa lebih berat untuk dilakukan.
Meski demikian, kita tidak seharusnya menunggu datangnya semangat untuk beribadah. Justru, kita perlu berusaha menjaga keistiqamahan, termasuk ketika semangat sedang menurun. Rasulullah SAW bersabda:
“Ahabbu al-a`maali ilallaahi Ta`aalaa adwamuhaa wa in qalla.”
Artinya, “Amal yang paling dicintai Allah Taala adalah amal yang dilakukan terus-menerus, meskipun sedikit.”
Selain itu, Kiai Kholil Bangkalan dari Madura juga dikenal dengan ungkapan:
“Al-istiqamatu khairun min alfi karaamah.”
Artinya, “Istiqamah lebih baik daripada seribu karamah.”
Dari penjelasan tersebut, kami memahami bahwa keistiqamahan merupakan hal penting dalam beribadah. Meskipun sulit dijaga, kita harus terus berusaha melakukannya. Amalan yang sedikit, tetapi dikerjakan secara konsisten, memiliki keutamaan tersendiri di sisi Allah.
Pada akhir kajian, Kiai Abdus Salam juga menekankan pentingnya melestarikan pengajian yang berfokus pada kitab kuning. Menurut beliau, saat ini ada pengajian yang pembahasannya tidak sesuai dengan tema awal sehingga melebar ke berbagai persoalan, termasuk berita terkini. Akibatnya, peserta yang seharusnya memperoleh ilmu justru lebih banyak mendengar berita.
Hal tersebut perlu menjadi perhatian. Pengajian semestinya menjadi tempat untuk menuntut ilmu, bukan sekadar membicarakan berita. Dengan menggunakan kitab kuning sebagai pedoman, pembahasan dapat berlangsung lebih terarah, mengikuti urutan materi yang telah disusun, dan tidak mudah melebar ke persoalan lain.