Jangan Biarkan Kekeliruan Menjadi Pembenaran: Pertemanan, Taubat, dan Orientasi Amal

Oleh: Ahmad Ganendra Castra (Santri SMP, 15 Tahun)
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
gambar_artikel

Pandaan, Ahad, 25 Oktober 2026 — Pada Ahad sore, kami, santri kelas 3 Wustha yang sedang menjalani program rihlah di Pandaan, mengikuti kajian ba`da Asar di Mushalla Kiai Nu`man yang diisi oleh Habib Ahmad.

Salah satu karunia terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah akal. Dengannya, manusia dapat berpikir dan memahami berbagai hal. Namun, di samping manfaatnya, cara berpikir manusia juga dapat melahirkan worldview atau cara pandang yang menyimpang dari ajaran agama. Bahkan, penyimpangan tersebut terkadang tidak disadari karena telah melekat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kajian kali ini, Habib Ahmad menjelaskan beberapa pola pikir yang perlu diluruskan.

Di zaman yang secara lahiriah semakin maju ini, kita menyaksikan berbagai tanda hari akhir yang telah diberitakan Rasulullah SAW. Salah satunya berkaitan dengan semakin sulitnya menemukan saudara yang dapat dipercaya. Persoalan ini bukan semata-mata disebabkan oleh lingkungan atau perilaku orang lain, melainkan juga dapat berakar pada cara pandang kita sendiri dalam memilih dan memaknai pertemanan.

Sebagian orang menganggap bahwa puncak kesetiaan dalam pertemanan adalah saling melindungi, bahkan ketika salah satunya melakukan kesalahan. Dalam kehidupan pesantren, misalnya, seseorang memilih tidak melaporkan temannya yang melanggar aturan karena merasa tidak enak atau ingin menjaga persahabatan. Padahal, pemahaman seperti ini berangkat dari kekeliruan dalam memaknai hakikat pertemanan. Teman yang baik bukanlah orang yang membiarkan saudaranya terjerumus dalam dosa, melainkan orang yang berusaha membantunya agar tidak terus berada dalam kesalahan.

Namun, menunjukkan kekeliruan suatu cara pandang saja tidaklah cukup. Kita juga perlu menjelaskan cara pandang yang benar sebagai penggantinya. Menurut penjelasan dalam kajian ini, salah satu cara meluruskan pola pikir tersebut adalah dengan menghadirkan Allah sebagai tujuan utama dalam setiap tindakan. Dengan demikian, seseorang tidak lagi menjadikan kesetiaan kepada teman sebagai alasan untuk membenarkan kesalahan, tetapi berusaha menjalankan amar ma`ruf nahi munkar.

Pola pikir lain yang dibahas adalah keinginan untuk bertobat sebelum melakukan suatu dosa. Dalam kajian tersebut, Habib Ahmad mengingatkan agar seseorang tidak menjadikan tobat sebagai alasan untuk merasa aman ketika hendak melakukan kemaksiatan. Pikiran seperti, “Nanti juga bisa bertobat,” dapat menjadi celah bagi setan untuk menjerumuskan manusia. Akibatnya, tobat yang seharusnya menjadi jalan kembali kepada Allah justru diperlakukan seolah-olah sebagai izin untuk melakukan dosa.

Pembahasan ini mengingatkan kami bahwa niat untuk bertobat tidak semestinya dijadikan pembenaran untuk bermaksiat. Kita tidak pernah mengetahui apakah masih memiliki kesempatan untuk bertobat setelah melakukan dosa. Karena itu, daripada merencanakan tobat setelah bermaksiat, lebih baik kita berusaha menjauhi dosa sejak awal.

Pada bagian selanjutnya, Habib Ahmad menjelaskan dua cara pandang yang dapat membantu seseorang menjaga kualitas ibadahnya, yaitu sebelum dan sesudah beramal. Sebelum beribadah, seseorang perlu menyadari bahwa kesempatan dan kekuatan untuk melaksanakan ibadah berasal dari Allah. Kesadaran ini dapat menjauhkan seseorang dari sifat ujub, yakni merasa bangga secara berlebihan terhadap amalnya sendiri.

Setelah beribadah, seseorang perlu mengingat besarnya pahala yang Allah janjikan serta surga sebagai tempat kembali yang sempurna bagi orang-orang beriman. Dengan mengingat janji tersebut, diharapkan tumbuh keinginan untuk terus beribadah dan memperbaiki amal.

Kedua hal ini penting karena kemampuan seseorang dalam melakukan aktivitas duniawi belum tentu sejalan dengan semangatnya dalam beribadah. Ada orang yang mampu berlari berkilo-kilometer, tetapi merasa berat berjalan beberapa meter menuju masjid. Sebaliknya, ada pula orang yang rajin beribadah, tetapi amalnya terancam kehilangan pahala karena disertai kesombongan dan riya`.

Melalui kajian ini, kami memahami bahwa meluruskan pola pikir bukan hanya tentang mengetahui mana yang salah dan mana yang benar. Lebih dari itu, kita perlu membenahi cara pandang agar setiap tindakan berorientasi kepada Allah. Dalam pertemanan, kita harus berani mengingatkan dalam kebaikan. Dalam menghadapi dosa, kita tidak boleh menjadikan tobat sebagai alasan untuk bermaksiat. Sementara dalam beribadah, kita perlu menyadari bahwa kemampuan untuk beramal berasal dari Allah dan berharap kepada pahala yang dijanjikan-Nya. Dengan demikian, ilmu tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi pedoman dalam membentuk sikap dan perilaku sehari-hari.

AT-TAQWA DEPOK
Jl. Usman Hasbi, RT.04 RW 04 Jatimulya, Cilodong - Depok
info@attaqwa.id
(+62)856 0980 9086