Jala` al-Afham Syarah Aqidat al-Awwam (1): Kisah di Balik Nadham dan Rahasia Basmallah

Oleh: Hasan Al-Kautsari (Santri SMP, 14 Tahun)
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
...

Pandaan, Jumat, 23 Oktober 2026 — Jala` al-Afham merupakan kitab syarah dari Aqidatul Awam, sebuah kitab akidah yang dikarang oleh Syekh Ahmad bin Ramadhan al-Marzuki al-Maliki. Beliau wafat pada 1262 H, sekitar 200 tahun yang lalu.

Penulisan Aqidatul Awam berawal dari mimpi Syekh Ahmad bertemu Rasulullah SAW yang dikelilingi para sahabat. Dalam mimpi tersebut, Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah nadham ini, karena barang siapa yang menghafalkannya akan masuk surga dan mendapatkan apa yang ia inginkan dari kebaikan.”

Syekh Ahmad kemudian bertanya, “Apa yang harus saya baca, wahai Rasulullah?” Para sahabat menjawab, “Dengarkanlah terlebih dahulu apa yang akan Rasulullah SAW ucapkan.” Setelah itu, Rasulullah SAW membacakan nadham Aqidatul Awam.

Pada malam berikutnya, tepatnya waktu sahur, Syekh Ahmad kembali bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Bacalah apa yang telah engkau hafal.” Syekh Ahmad pun mematuhi perintah tersebut dengan membacakan nadham di hadapan Rasulullah SAW. Setiap kali satu bait selesai dibacakan, para sahabat yang mengelilinginya mengucapkan amin.

Ketika terbangun, Syekh Ahmad langsung mengingat dan menuliskan nadham yang diperolehnya dalam mimpi tersebut. Nadham Aqidatul Awam kemudian ditambahkan beberapa bait sebelum disebarluaskan kepada umat Islam.

Kitab Jala` al-Afham diawali dengan lafaz basmalah. Hal ini dilakukan untuk memohon pertolongan Allah dengan memperhatikan beberapa hal. Pertama, mengawali tulisan dengan menyebut nama Allah yang memiliki segala kenikmatan. Kedua, mengikuti susunan dalam Al-Qur`an, yang sebagian besar surahnya diawali dengan basmalah. Ketiga, mengamalkan hadis Nabi SAW yang berbunyi, “Setiap perkara baik yang tidak dimulai dengan basmalah akan terputus.” Maksud dari terputus dalam penjelasan kajian ini adalah berkurangnya pahala, bukan berarti pahala tersebut hilang sepenuhnya. Keempat, mengikuti kebiasaan Rasulullah SAW ketika memulai surat-menyurat.

Pada bait pertama kitab tersebut tertulis:

Abda`u bismi Allahi wa al-Rahmani,
wa bi al-Rahimi da`imi al-Ihsani.

Bait ini menjelaskan makna nama-nama Allah. Kata Allah menunjukkan bahwa Allah adalah Zat yang memiliki alam semesta, yang wajib kita yakini keberadaan-Nya dan wajib kita sembah. Kita juga harus meyakini bahwa setiap kenikmatan yang kita terima berasal dari Allah, seperti iman, keselamatan, kesehatan, dan berbagai nikmat lainnya.

Adapun Ar-Rahim dalam penjelasan kajian ini berkaitan dengan pemberian nikmat-nikmat kecil sebagai bagian dari nikmat yang lebih besar. Sementara itu, ungkapan da`imi al-Ihsan menjelaskan bahwa Allah senantiasa memberikan kenikmatan kepada manusia secara terus-menerus tanpa terputus

AT-TAQWA DEPOK
Jl. Usman Hasbi, RT.04 RW 04 Jatimulya, Cilodong - Depok
info@attaqwa.id
(+62)856 0980 9086