Seminar Kedewasaan di Pesantren At-Taqwa Depok bersama Kak Sinyo Egie: Kesiapan Fisik dan Mental Harus Mantap

Oleh: Muthiah Hanif Afifah (Santriwati PRISTAC – Setingkat SMA – Pesantren At-Taqwa Depok, 15 tahun)
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
gambar_artikel

Pada hari Ahad, 10 Desember 2023, Pesantren At-Taqwa Depok mengadakan sebuah seminar yang diisi oleh Kak Sinyo Egie, seorang Founder Yayasan Peduli Sahabat asal Magelang. Materi yang dibahas bertemakan “Siap Menghadapi Kedewasaan: Menumbuhkan Imunitas Diri di Zaman Now”. Selain untuk memantapkan kedewasaan santri, seminar ini dilatarbelakangi dengan maraknya kasus yang terjadi pada anak muda yang kebingungan dalam menghadapi kedewasaan. Para santri pun antusias karena sesuai dengan apa yang dihadapi dan dirasakan mereka.

Acara dimulai pada jam sembilan pagi di Aula Asrama Putri Pesantren At-Taqwa Depok. Acara ini diawali dengan pembukaan, pembacaan Qur’an, dan kemudian masuk pada acara inti. Pembahasan terkait kedewasaaan pun berjalan dengan aktif dan disambut antusias oleh para santri. Para santri merasa bahwa tema kedewasaan tersebut relevan dengan apa yang dihadapi.

Dalam pemaparannya Sinyo Egie, atau biasa dipanggil Kak Sinyo membahas tentang perubahan dan ciri-ciri yang terjadi ketika seorang anak sedang menuju masa aqil-baligh alias masa kedewasaannya. Pertama, munculnya jerawat pada wajah, kedua, tumbuhnya bulu di area-area tertentu, dan ketiga, mulai adanya rasa ketertarikan antar lawan jenis. Kak Sinyo pun menekankan tentang apa saja problem yang dialami baik laki-laki maupun perempuan ketika sedang melewati fase ini. Jika problem ini diabaikan dan tidak ditanggapi dengan baik dan benar bisa membawa pada masalah yang lebih besar nantinya.

Ia pun memberikan contoh masalah yang jika tidak ditangani dengan baik dapat berakibat buruk. Misalnya laki-laki ketika stress, ia bisa melampiaskan rasa stress itu pada makanan, narkoba, bahkan seks. Berbeda dengan perempuan, jika ia stress bisa menyebabkan munculnya keinginan untuk self-harm akibat dari ketiadaan cinta keluarga dan lingkungan. Bahkan, problem-problem ini pun bisa mengakibatkan terjadinya perubahan orientasi seksual dengan melewati proses yang panjang, sehingga yang awalnya normal bisa menjadi biseksual atau homo.

Sebagai pencegahan, kak Sinyo memberikan tiga solusi untuk mengatasi problem-problem di atas. Pertama, meminta dan mendengarkan nasihat orangtua atau guru karena nasihat dari mereka insya allah baik. Kedua, mencari teman yang baik yang selalu mengingatkan kita kepada Allah dan selalu mengajak kepada kebaikan. Terakhir, fokus pada cita-cita sebagai hamba Allah dan sebagai khalifatullah yaitu yang bisa berdakwah dan bermanfaat pada umat manusia.

Setelah materi selesai dijelaskan, masuk pada sesi tanya-jawab yang dimoderatori oleh Ust. Ericsson. Beberapa santri pun bertanya terkait akan keluh kesah mereka. Salah satu santriwati bertanya tentang orangtua yang mungkin kurang ideal, sehingga kerap kali sulit untuk dijadikan contoh oleh anaknya. “Memaafkan, memandangnya dari sudut pandang yang lain (yang baik) dan mendoakan mereka agar bisa menjadi lebih baik”, jawab kak Sinyo menanggapi pertanyaan tersebut.

Seorang santri lainnya pun mengajukan pertanyaan terkait fenomena yang makin banyak terjadi, di mana lelaki berdandan seperti perempuan dan begitu sebaliknya. Sehingga menimbulkan pertanyaan akan orientasi seksualnya. Kak Siyo pun menjawab, “walaupun seperti itu, kita tidak bisa langsung menjudge, menghakimi dia hanya sekadar lewat penampilannya.” Kondisi ini pula tetap mengharuskan kita untuk memberi nasihat kepada mereka.

Selesai sesi tanya jawab, acara pun ditutup pada jam sebelas dengan doa dan foto bersama. Sebagai kenang-kenangan, dari pihak pesantren memberikan cinderamata, dan beberapa santri meminta tanda-tangan sebagai kenang-kenangan. (Editor: Shofie)

AT-TAQWA DEPOK
Jl. Usman Hasbi, RT.04 RW 04 Jatimulya, Cilodong - Depok
info@attaqwa.id
(+62)856 0980 9086