Hebat! Santri Kelas 2 SMA At-Taqwa Depok Tuntaskan Kajian Sejarah Peradaban Islam Selama Dua Semester
Oleh: Andini Sari Larasati (Santri SMA Pesantren At-Taqwa Depok, 17 tahun)
Artikel Ilmiah
Liputan Kegiatan
Santri-santri kelas 2 SMA Pesantren At-taqwa Depok, pada Rabu (25/1/26), menuntaskan pembelajaran Sejarah Peradaban Islam bersama pakarnya langsung, Dr. Alwi Alatas. Ustadz Alwi juga seorang dosen di International Islamic University Malaysia (IIUM) dalam bidang Sejarah dan Peradaban.
Sejarah Islam adalah pelajaran wajib bagi seluruh santri At-Taqwa sejak kelas 1 SMP. Mulai dari Sejarah Nabi Muhammad dan Para Sahabat, Sejarah Peradaban Islam semasa kekhilafahan Umayyah, Abbasiyah dan Turki Utsmani, sampai sejarah Peradaban Islam di Indonesia.
At-Taqwa meyakini bahwa mengkaji sejarah merupakan hal yang wajib dilakukan oleh setiap muslim. Karena untuk menghadapi permasalahan hari ini, kita perlu untuk mengenal para pendahulu dan mengambil hikmah yang dapat diaplikasikan kini.
Selain itu, Peradaban Islam juga memiliki sejarah yang gemilang yang dapat menjadi motivasi bagi umat Islam, terutama di kalangan pemuda hari ini. Bahwa dari perjalanan jatuh-bangunnya umat Islam dalam sejarah, mereka dapat mempelajari cara untuk membangkitkan kembali peradaban ini.
Para santri kelas 2 SMA itu menyelesaikan materi Sejarah Peradaban Islam bersama Ustadz Aldi selama tujuh bulan, dalam dua semester, 14 pertemuan. Pertemuan 1-13, disampaikan secara daring. Pada pertemuan terakhir, ke-14, Ustadz Alwi hadir langsung dan menuntaskannya.
Pada enam pertemuan pertama di Semester I, Ustadz Alwi menyampaikan sejarah tentang Peradaban Islam di Era Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Tema yang dibahas adalah tentang awal mula berdirinya, khalifah yang menjabat, hal-hal yang berhasil dicapai, masyarakat pada saat itu yang didominasi para Sahabat dan Tabi`in, hingga kronologi kemunduran dan keruntuhan kedua dinasti itu.
Ustadz Alwi mengajarkan sejarah Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam satu pertemuan tersendiri. Meski kepemimpinannya hanya berlangsung selama kurang dari tiga tahun, masyarakat muslim maupun non-Muslim pada saat itu hidup dalam keadaan sejahtera. Semua orang mendapatkan haknya masing-masing hingga Baitul Mal pun penuh dengan harta zakat lantaran rakyat hidup berkecukupan.
Ustadz Alwi menyampaikan bahwa untuk melahirkan pemimpin yang adil hari ini, maka mulailah dari diri sendiri untuk memahami hak orang-orang di sekitar kita. Sehingga, keadilan itu dibangun dalam setiap individu terutama generasi muda yang akan menjadi pemimpin di masa depan.
Selama delapan pertemuan di Semester II, materi yang diajarkan oleh penulis buku Sirah Nabawiyah Ringkas ini membahas tentang Dinasti Utsmaniyah; mulai dari asal-usul, masa kejayaan, hingga keruntuhannya yang menjadi akhir dari kekhilafahan Islam.
Pada pertemuan terakhir, para santri At-Taqwa College (ATCO) 1 itu belajar tentang stagnasi dan kemunduran yang dialami Turki Utsmani pada masa akhir perjalanannya. Bersamaan dengan Eropa yang sedang mengalami kemajuan pesat, Turki Utsmani pun memilih untuk mengikuti mereka dengan melakukan modernisasi agar ikut berkembang pula.
Seiring berjalannya waktu, solusi yang dipilih ini malah mengakibatkan kegagalan. Alih-alih berhenti, reformasi dilakukan semakin masif dan menyeluruh. Awalnya hanya sistem militer yang diubah, namun kini label kekhilafahan pun berubah menjadi republik.
Ustadz Alwi menganalogikan kondisi mereka saat itu dengan orang sakit yang salah minum obat, lantas semakin parah, bukannya berhenti dan mencari yang benar, malah mengonsumsinya semakin banyak. Jika keduanya telah sampai pada batasnya, maka mereka akan runtuh dan mati.
Peristiwa runtuhnya dinasti terakhir Islam ini menyiratkan hikmah bahwa dalam menghadapi suatu tantangan, kita harus memahami permasalahan itu sendiri dan memilih solusi yang solutif, alih-alih membuat masalah baru.
Ustadz Alwi juga berpesan bahwa dalam meniru musuh, kita perlu menyadari posisi diri sendiri. Jangan sampai serta merta menyontek dan malah meruntuhkan prinsip yang telah lama dipegang. Secara umum, sang guru selalu menekankan tentang maju-mundur dan jatuh-bangunnya suatu peradaban.
Semuanya memiliki masa gemilang dan kemerosotannya yang harus direspons dengan sesuai. Saat sedang berada di atas, hendaknya kita tidak lupa diri. Begitu pun saat jatuh, sudah selayaknya kita tidak terlalu terpuruk.
Penulis yang merupakan salah satu santri yang mengikuti kelas ini merasa bersyukur karena bisa memperoleh ilmu sejarah langsung dari ahlinya. Meski secara umum kelas ini dilaksanakan pada malam hari, namun keramahan sang guru dalam menyampaikan materi selalu membuat para santri senang dan antusias.
Terakhir, semoga pemahaman tentang sejarah Islam ini dapat menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali semangat ber-Islam yang telah lama redup.
Sejarah Islam adalah pelajaran wajib bagi seluruh santri At-Taqwa sejak kelas 1 SMP. Mulai dari Sejarah Nabi Muhammad dan Para Sahabat, Sejarah Peradaban Islam semasa kekhilafahan Umayyah, Abbasiyah dan Turki Utsmani, sampai sejarah Peradaban Islam di Indonesia.
At-Taqwa meyakini bahwa mengkaji sejarah merupakan hal yang wajib dilakukan oleh setiap muslim. Karena untuk menghadapi permasalahan hari ini, kita perlu untuk mengenal para pendahulu dan mengambil hikmah yang dapat diaplikasikan kini.
Selain itu, Peradaban Islam juga memiliki sejarah yang gemilang yang dapat menjadi motivasi bagi umat Islam, terutama di kalangan pemuda hari ini. Bahwa dari perjalanan jatuh-bangunnya umat Islam dalam sejarah, mereka dapat mempelajari cara untuk membangkitkan kembali peradaban ini.
Para santri kelas 2 SMA itu menyelesaikan materi Sejarah Peradaban Islam bersama Ustadz Aldi selama tujuh bulan, dalam dua semester, 14 pertemuan. Pertemuan 1-13, disampaikan secara daring. Pada pertemuan terakhir, ke-14, Ustadz Alwi hadir langsung dan menuntaskannya.
Pada enam pertemuan pertama di Semester I, Ustadz Alwi menyampaikan sejarah tentang Peradaban Islam di Era Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Tema yang dibahas adalah tentang awal mula berdirinya, khalifah yang menjabat, hal-hal yang berhasil dicapai, masyarakat pada saat itu yang didominasi para Sahabat dan Tabi`in, hingga kronologi kemunduran dan keruntuhan kedua dinasti itu.
Ustadz Alwi mengajarkan sejarah Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam satu pertemuan tersendiri. Meski kepemimpinannya hanya berlangsung selama kurang dari tiga tahun, masyarakat muslim maupun non-Muslim pada saat itu hidup dalam keadaan sejahtera. Semua orang mendapatkan haknya masing-masing hingga Baitul Mal pun penuh dengan harta zakat lantaran rakyat hidup berkecukupan.
Ustadz Alwi menyampaikan bahwa untuk melahirkan pemimpin yang adil hari ini, maka mulailah dari diri sendiri untuk memahami hak orang-orang di sekitar kita. Sehingga, keadilan itu dibangun dalam setiap individu terutama generasi muda yang akan menjadi pemimpin di masa depan.
Selama delapan pertemuan di Semester II, materi yang diajarkan oleh penulis buku Sirah Nabawiyah Ringkas ini membahas tentang Dinasti Utsmaniyah; mulai dari asal-usul, masa kejayaan, hingga keruntuhannya yang menjadi akhir dari kekhilafahan Islam.
Pada pertemuan terakhir, para santri At-Taqwa College (ATCO) 1 itu belajar tentang stagnasi dan kemunduran yang dialami Turki Utsmani pada masa akhir perjalanannya. Bersamaan dengan Eropa yang sedang mengalami kemajuan pesat, Turki Utsmani pun memilih untuk mengikuti mereka dengan melakukan modernisasi agar ikut berkembang pula.
Seiring berjalannya waktu, solusi yang dipilih ini malah mengakibatkan kegagalan. Alih-alih berhenti, reformasi dilakukan semakin masif dan menyeluruh. Awalnya hanya sistem militer yang diubah, namun kini label kekhilafahan pun berubah menjadi republik.
Ustadz Alwi menganalogikan kondisi mereka saat itu dengan orang sakit yang salah minum obat, lantas semakin parah, bukannya berhenti dan mencari yang benar, malah mengonsumsinya semakin banyak. Jika keduanya telah sampai pada batasnya, maka mereka akan runtuh dan mati.
Peristiwa runtuhnya dinasti terakhir Islam ini menyiratkan hikmah bahwa dalam menghadapi suatu tantangan, kita harus memahami permasalahan itu sendiri dan memilih solusi yang solutif, alih-alih membuat masalah baru.
Ustadz Alwi juga berpesan bahwa dalam meniru musuh, kita perlu menyadari posisi diri sendiri. Jangan sampai serta merta menyontek dan malah meruntuhkan prinsip yang telah lama dipegang. Secara umum, sang guru selalu menekankan tentang maju-mundur dan jatuh-bangunnya suatu peradaban.
Semuanya memiliki masa gemilang dan kemerosotannya yang harus direspons dengan sesuai. Saat sedang berada di atas, hendaknya kita tidak lupa diri. Begitu pun saat jatuh, sudah selayaknya kita tidak terlalu terpuruk.
Penulis yang merupakan salah satu santri yang mengikuti kelas ini merasa bersyukur karena bisa memperoleh ilmu sejarah langsung dari ahlinya. Meski secara umum kelas ini dilaksanakan pada malam hari, namun keramahan sang guru dalam menyampaikan materi selalu membuat para santri senang dan antusias.
Terakhir, semoga pemahaman tentang sejarah Islam ini dapat menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali semangat ber-Islam yang telah lama redup.