Isra` Mi`raj dan Transisi Peradaban
Oleh: Syamil Ahsan & Andika Yusuf (Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 15 Tahun)
Artikel Ilmiah
Liputan Kegiatan
Pada 25 Januari 2026, salah satu dosen Pondok Pesantren At-Taqwa Depok, Dr. Alwi Alatas, berkesempatan hadir di lingkungan pesantren. Di sela kesibukannya, beliau menyempatkan diri memberikan kuliah umum kepada para santri. Tema yang diangkat terbilang menarik dan reflektif: Isra` Mi`raj dan Peradaban.
Pada masa Rasulullah, perjalanan yang sangat jauh dan ditempuh dalam waktu yang singkat merupakan sesuatu yang mustahil menurut logika manusia kala itu. Karena itulah, tidak sedikit sahabat yang merasa heran ketika mendengar kisah Isra` Mi`raj yang disampaikan oleh Rasulullah . Hal ini tentu berbeda dengan zaman modern saat ini, di mana teknologi transportasi mampu memangkas jarak dan waktu perjalanan secara drastis.
Secara bahasa, isra` berarti perjalanan panjang yang dilakukan pada malam hari. Maka yang dimaksud dengan Isra` Rasulullah adalah perjalanan beliau dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa pada malam hari. Adapun mi`raj adalah perjalanan Rasulullah dari Masjidil Aqsa menuju Sidratul Muntaha. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa peristiwa Isra` Mi`raj merupakan bentuk hiburan dan penguatan dari Allah kepada Rasulullah setelah beliau melewati `Amul Huzni, tahun penuh kesedihan.
Beberapa tahun setelah peristiwa tersebut, Nabi Muhammad mulai mendakwahkan Islam melalui surat-surat yang dikirimkan kepada para raja dan penguasa dunia. Salah satu surat itu sampai kepada Raja Heraklius, penguasa Romawi Timur, yang kala itu berada di Yerusalem. Saat menerima surat tersebut, Heraklius mengajukan beberapa pertanyaan tentang Rasulullah kepada Abu Sufyan, yang kebetulan sedang berada di wilayah itu. Abu Sufyan diminta menjawab dengan jujur, meskipun saat itu ia masih memusuhi Islam.
Menariknya, jawaban-jawaban Abu Sufyan justru membuat Heraklius semakin berempati kepada Rasulullah. Merasa situasi itu tidak menguntungkan, Abu Sufyan kemudian menceritakan kisah Isra` Mi`raj dengan maksud menjatuhkan kredibilitas dan harga diri Rasulullah.
Sekejap, suasana ruangan menjadi hening. Hingga akhirnya seorang pendeta mengangkat tangan dan mengaku mengetahui kisah tersebut. Pendeta itu adalah penjaga sekaligus juru kunci Masjidil Aqsa. Ia menceritakan bahwa suatu malam, ketika hendak mengunci pintu masjid, kuncinya tiba-tiba rusak. Ia telah memanggil ahli kunci, namun tak satu pun mampu memperbaikinya karena hari sudah larut. Keesokan harinya, saat ia kembali, kunci itu mendadak berfungsi normal.
Namun ada satu hal yang membuatnya heran: ia mendapati bekas tambatan hewan tunggangan di suatu tempat. Dalam riwayat yang ia ketahui, tempat tersebut adalah lokasi para nabi menambatkan tunggangannya. Dari situ ia menyimpulkan, tidak mungkin ada yang masuk ke Masjidil Aqsa pada malam itu kecuali seorang nabi.
Mendengar kesaksian tersebut, Raja Heraklius semakin yakin dengan tanda-tanda kenabian Muhammad. Ia bahkan meyakini bahwa agama yang dibawa Rasulullah kelak akan melahirkan sebuah peradaban besar, bahkan melampaui peradabannya sendiri. Sejarah kemudian membuktikan hal itu. Islam berhasil menggeser dominasi peradaban Romawi, khususnya pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab.
Dari sini kita menyaksikan secara nyata terjadinya transisi peradaban: dari Romawi menuju Islam. Meski pada saat itu peradaban Romawi memang tengah melemah, hal tersebut merupakan sunnatullah dalam perjalanan sejarah. Setiap peradaban memiliki masa puncak dan masa surut. Namun Islam datang bukan sekadar sebagai kekuatan politik, melainkan sebagai peradaban yang dibangun di atas wahyu dan akhlak.
Pada masa Rasulullah, perjalanan yang sangat jauh dan ditempuh dalam waktu yang singkat merupakan sesuatu yang mustahil menurut logika manusia kala itu. Karena itulah, tidak sedikit sahabat yang merasa heran ketika mendengar kisah Isra` Mi`raj yang disampaikan oleh Rasulullah . Hal ini tentu berbeda dengan zaman modern saat ini, di mana teknologi transportasi mampu memangkas jarak dan waktu perjalanan secara drastis.
Secara bahasa, isra` berarti perjalanan panjang yang dilakukan pada malam hari. Maka yang dimaksud dengan Isra` Rasulullah adalah perjalanan beliau dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa pada malam hari. Adapun mi`raj adalah perjalanan Rasulullah dari Masjidil Aqsa menuju Sidratul Muntaha. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa peristiwa Isra` Mi`raj merupakan bentuk hiburan dan penguatan dari Allah kepada Rasulullah setelah beliau melewati `Amul Huzni, tahun penuh kesedihan.
Beberapa tahun setelah peristiwa tersebut, Nabi Muhammad mulai mendakwahkan Islam melalui surat-surat yang dikirimkan kepada para raja dan penguasa dunia. Salah satu surat itu sampai kepada Raja Heraklius, penguasa Romawi Timur, yang kala itu berada di Yerusalem. Saat menerima surat tersebut, Heraklius mengajukan beberapa pertanyaan tentang Rasulullah kepada Abu Sufyan, yang kebetulan sedang berada di wilayah itu. Abu Sufyan diminta menjawab dengan jujur, meskipun saat itu ia masih memusuhi Islam.
Menariknya, jawaban-jawaban Abu Sufyan justru membuat Heraklius semakin berempati kepada Rasulullah. Merasa situasi itu tidak menguntungkan, Abu Sufyan kemudian menceritakan kisah Isra` Mi`raj dengan maksud menjatuhkan kredibilitas dan harga diri Rasulullah.
Sekejap, suasana ruangan menjadi hening. Hingga akhirnya seorang pendeta mengangkat tangan dan mengaku mengetahui kisah tersebut. Pendeta itu adalah penjaga sekaligus juru kunci Masjidil Aqsa. Ia menceritakan bahwa suatu malam, ketika hendak mengunci pintu masjid, kuncinya tiba-tiba rusak. Ia telah memanggil ahli kunci, namun tak satu pun mampu memperbaikinya karena hari sudah larut. Keesokan harinya, saat ia kembali, kunci itu mendadak berfungsi normal.
Namun ada satu hal yang membuatnya heran: ia mendapati bekas tambatan hewan tunggangan di suatu tempat. Dalam riwayat yang ia ketahui, tempat tersebut adalah lokasi para nabi menambatkan tunggangannya. Dari situ ia menyimpulkan, tidak mungkin ada yang masuk ke Masjidil Aqsa pada malam itu kecuali seorang nabi.
Mendengar kesaksian tersebut, Raja Heraklius semakin yakin dengan tanda-tanda kenabian Muhammad. Ia bahkan meyakini bahwa agama yang dibawa Rasulullah kelak akan melahirkan sebuah peradaban besar, bahkan melampaui peradabannya sendiri. Sejarah kemudian membuktikan hal itu. Islam berhasil menggeser dominasi peradaban Romawi, khususnya pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab.
Dari sini kita menyaksikan secara nyata terjadinya transisi peradaban: dari Romawi menuju Islam. Meski pada saat itu peradaban Romawi memang tengah melemah, hal tersebut merupakan sunnatullah dalam perjalanan sejarah. Setiap peradaban memiliki masa puncak dan masa surut. Namun Islam datang bukan sekadar sebagai kekuatan politik, melainkan sebagai peradaban yang dibangun di atas wahyu dan akhlak.