Santri Tidak Bisa Berkontribusi untuk Negara?
Oleh: Ilcira Edgina Zahidah Martin, (Santri 1 SMA At-Taqwa Depok, 15 tahun)
Artikel Ilmiah
Liputan Kegiatan
Direktur SMA (`Ulya) Pesantren At-Taqwa Depok, Ustadz Bana Fatahillah, dalam Studium General (17/7/26), membawakan materi berjudul “Nilai Termahal yang sedang Ditanam Pesantren dalam Dirimu”.
Ustadz Bana membahas materi ini karena beliau melihat seorang content creator berlabelkan “guru” mengatakan bahwa anak pondok itu tidak bisa berbuat apa-apa untuk kemajuan negara atau peradaban. Menurutnya santri hanya ditekankan untuk menghafal Al-Qur`an, hadist, mahfuzhat, mengadakan maulid, tahlil, dan semacamnya.
Ustadz Bana menjawabnya dengan tiga jawaban. Pertama, pada dasarnya, santri memang tidak bisa membantu kemajuan peradaban secara langsung karena mereka masih menetap di pondok. Tugas utama mereka, adalah memupuk diri dengan ilmu dan adab, setinggi-tingginya.
Kedua tuduhan itu jelas menyelisih fakta. Selain belajar, kata Ustadz Bana, santri juga ditimpa dengan pendidikan kebangsaan dan ilmu kehidupan. Pesantren menanamkan personal power dalam diri santri, yaitu keikhlasan, kepercayaan diri untuk menyampaikan; dan problem solving, rasa pengorbanan, rasa kepemilikan, dan pengambilan keputusan.
Pesantren menanamkan personal power dengan cara memberi ruang belajar dan berlatih, memberi amanah sebagai proses pembentukan pribadi, mengajari bahwa masalah kecil adalah latihan menghadapi tantangan besar, amanah menumbuhkan disiplin, keteguhan, dan kepemimpinan, dan amanah bukan beban, tapi modal masa depan.
“Menurut Dr. Adian Husaini pun penanaman adab hanya dapat terwujud dengan keteladanan, pembiasaan, pemotivasian, penegakan aturan, dan do`a,” ucap Ustadz Bana.
“Banyak pengusaha yang ogah merekrut Gen Z karena kekurangan soft skill, namun pesantren dapat mengisi kekosongan hal tersebut,” ujarnya lagi.
Mengutip Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, Ustadz Bana menegaskan bahwa memimpin tidak selalu berarti mendidik, tapi mendidik sudah tentu harus memimpin. Menjadi seorang pendidik berarti juga harus menjadi pemimpin.
Pendidikan itu pengajaran, pembentukan, pembiasaan, pengarahan, pengawasan, pelatihan, penegasan, dan diikuti dengan uswatun hasanah. Ustadz Bana menyampaikan cara untuk menjadi pemimpin yaitu dengan planning, organizing, actualizing, controling, evaluating, yang disingkat sebagai POACE.
Jawaban ketiga adalah dalam Islam, kemajuan bukan hanya dari sisi fisiknya saja atau hanya berdasarkan sains dan teknologi. Santri-santri yang usai lulus, mengajarkan ilmu dan menanamkan adab kepada masyarakat di berbagai tempat sampai di pelosok-pelosok demi melahirkan manusia-manusia baik yang bisa berdampak baik bagi negara, apakah itu bukan suatu kemajuan dan kesuksesan?
Itulah mengapa di pesantren, santri tidak hanya dididik untuk disiplin dalam bertindak, tapi juga disiplin dalam berpikir dan memandang suatu realitas. Santri, khususnya santri At-Taqwa, juga dibentuk cara pandanganya, apakah sesuai dengan cara pandang Islam atau tidak. Sebab banyak orang yang mungkin mengakui Islam, tapi cara pandanganya sekular dan materialis terlampau dalam memuja dunia dan aspek fisik sampai lupa akhirat dan yang metafisik.