Keselarasan Antara Iman, Akhlak, dan Amal
Oleh: Zufar Arzy Zuhdi (Santri 3 SMP At-Taqwa Depok, 14 Tahun)
Artikel Ilmiah
Liputan Kegiatan
Guru Pesantren At-Taqwa Depok, Dr. Suidat, pada apel kedatangan santri (31/8/26), menyampaikan nasihat tentang keselarasan antara iman dan akhlak mulia atau amal shalih. Iman, penting sebagai landasan amal, agar amal baik diterima di sisi Allah.
“Maka di zaman ini, jangan pernah kita berhenti menjaga iman, agar tidak batal,” ucap Ustadz Suidat.
Akhlak mulia dan amal shalih, penting sebagai pembuktian iman. Orang Islam yang beriman kepada Allah dan terus berupaya berakhlak mulia dan beramal baik, merupakan bukti upayanya menyempurnakan keimanannya.
“Sebagaimana sabda Nabi, `akmalul mu`miniina iimaanan ahsunuhum khuluqan,` orang mu`min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya,” tegas Ustadz Suidat.
Jadi, akhlak dan amal merupakan konsekuensi menjadi seorang muslim dan mu`min. Orang Islam harus selalu berusaha memperbaiki segala akhlak dan amalnya supaya baik. Ketika sedang terjerumus kepada keburukan, ia harus selalu berusaha memperbaikinya. Terlebih, di Indonesia, umat Islam adalah mayoritas, sehingga soal ini menjadi hal yang begitu penting.
Seharusnya umat Islam, khususnya umat Islam di Indonesia, menjadi yang terdepan soal akhlak mulia dan amal shalih, karena itulah yang sangat Nabi Muhammad tekankan. Bahkan Nabi Muhammad menegaskan bahwa ia diutuskan untuk menyempurnakan akhlak mulia.
Oleh karena itu haruslah kita berusaha untuk memperbaiki akhlak dan amal, agar kita, sebagai umat Islam, tidak selamanya dicap buruk oleh orang-orang di luar Islam, supaya Islam selalu dicap baik oleh mereka yang terbiasa melihat sesuatu secara zahir semata.