Cendekiawan Malaysia Kagumi “Keanehan“ Saat Kunjungan ke Pesantren At-Taqwa Depok

Oleh: Nabil Abdurrahman (Alumni At-Taqwa Depok)
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
gambar_artikel

Seusai menghadiri Second International Conference on Worldview and Civilization di Bogor pada 4-6 September 2026, sejumlah tokoh dari Malaysia menyempatkan diri berkunjung ke Pondok Pesantren At-Taqwa Depok.

Di antara mereka adalah Dr. Mohd Zaidi Ismail, Deputy Director-General Institute of Islamic Understanding Malaysia (IKIM); Dr. Mohd Farid Mohd Shahran, Principal Fellow dan Director, Centre of the Study of Akidah, Comparative Religion and Harmony, IKIM; Dr. Mohd Hilmi Ramli, Director of RZS-CASIS; Dr. Muhammad Imran Mustafa, Senior Lecturer di Department of Physics, Faculty of Science, Universiti Malaya;  Dr Siti Nur `Alaniah Abdul Wahid, Council of Majlis Ugama Islam Singapore; dan Tuan Haji Farid Jaafar, Pengarah Ma`had Ad-Deeniyah, Ipoh, Perak.

Pertemuan berlangsung sederhana. Tidak banyak acara seremonial. Para tamu lebih banyak berbincang, melihat suasana pesantren, dan mengenal lebih dekat bagaimana pendidikan di At-Taqwa dijalankan.

Dari perbincangan itu, tampak bahwa ada satu hal yang cukup menarik perhatian mereka: pendidikan yang tidak tergesa-gesa mengejar hasil, tetapi sungguh-sungguh memperhatikan pembentukan manusia.

Di Pesantren At-Taqwa Depok, santri yang masih berada pada usia pendidikan menengah telah diperkenalkan kepada materi-materi keislaman dari guru-guru yang memiliki perhatian besar terhadap ilmu dan adab. Guru tidak hanya hadir ketika pelajaran dimulai. Mereka menemani kehidupan santri, membimbing, mengingatkan, dan mengawasi adab mereka. Tidak sedikit pula guru-guru yang merupakan cendekiawan besar yang kemudian berkenan mengajar di Pesantren At-Taqwa Depok. Para Doktor terbaik yang merupakan pakar di bidangnya masing-masing.

Salah seorang tamu, Dr. Muhammad Imran Mustafa, sampai berkomentar, “Ini yang tidak ada di Malaysia.”

Ustadz Adian Husaini menjawab ringan, “Tidak hanya di Malaysia, di Indonesia pun dianggap aneh.”

Ada sesuatu yang menarik dari percakapan tersebut. Yang dianggap “aneh” itu sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Justru ia merupakan bagian dari tradisi pendidikan Islam: guru dekat dengan murid, ilmu berjalan bersama adab, dan pendidikan tidak berhenti pada ruang kelas.

Inilah pula yang menjadi perhatian dalam pemikiran Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Pendidikan bukan sekadar membuat seseorang mengetahui banyak hal. Pendidikan harus membentuk manusia yang mengenal kedudukannya dengan benar. Karena itu, ta`dib menjadi inti yang tidak boleh ditinggalkan.

Ketika ditanyakan apa yang paling dijaga dalam pendidikan di At-Taqwa, jawabannya pun sederhana: penanaman adab dan pemikiran yang benar.

Tentu, menjaga hal ini bukan pekerjaan ringan. Ia membutuhkan guru yang mau berkorban dan bersedia hadir dalam proses pendidikan santri, bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai pendidik. 

Mungkin karena itulah At-Taqwa tidak menjanjikan sekadar jalan menuju perguruan tinggi. Kepada santri dan wali santri disampaikan dengan tegas: “Kalau Anda datang untuk mencari ilmu dengan tujuan utama masuk perguruan tinggi tertentu, di sini tidak cocok.”

Sebab yang ingin dibangun bukan hanya lulusan yang melanjutkan studi, tetapi manusia yang memiliki ilmu, adab, dan cara pandang yang benar.

Kunjungan ini menjadi silaturahmi yang berharga. Ada yang datang dari Malaysia, ada yang menyambut dari Indonesia. Tetapi ada satu kegelisahan yang sama: bagaimana pendidikan Islam tetap memiliki ruh di tengah perubahan zaman. Untuk itu, pendidikan harus terus diperiksa dan diperbaiki—konsepnya, kurikulumnya, pelaksanaannya, dan cara menghadapi tantangan mendatang.

AT-TAQWA DEPOK
Jl. Usman Hasbi, RT.04 RW 04 Jatimulya, Cilodong - Depok
info@attaqwa.id
(+62)856 0980 9086