Maulid Nabi: Ikhtiar Mengharap Syafaat, Kelak di Akhirat

Oleh: Abdurrahman Hanif (Santri SMA At-Taqwa Depok, 17 Tahun)
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
gambar_artikel

Allah berfirman, “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Pada 12 Rabiul Awal 1448/25 Agustus 2026, Pondok Pesantren At-Taqwa turut menyemarakkan peringatan kelahiran baginda Rasulullah SAW. Pada kesempatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Pesantren At-Taqwa Depok menghadirkan narasumber spesial, Habib Geys Assegaf.

Kedatangan Habib Geys disambut meriah oleh para santri Sayyidul Kawnain dengan lantunan nasyid Thola`al Badru. Setelah itu, Habib Geys memulai tausiyahnya dengan menjelaskan makna kata maulid.

Berdasar pemaparan Habib Geys, maulid merupakan bentuk mashdar dari kata walada-yalidu yang berarti lahir. Dalam bahasa Arab, mashdar dapat menunjukkan dua hal, yaitu tempat dan waktu.

Pertama, tempat. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dilahirkan di Kota Makkah Al-Mukarramah, yang sekarang dijadikan sebagai perpustakaan Maktabah Makkah Al-Mukarramah di Arab Saudi.

Kedua, zaman atau waktu. Sayyidul Anbiya lahir pada hari Senin, yang dalam bahasa Arab disebut itsnain atau bermakna kedua. Adapun ahad bermakna satu. Allah berfirman, “Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa.”

Maksudnya, setelah seorang Muslim memuliakan Allah karena Dia adalah Zat Yang Mahakuasa, ia pun harus memuliakan kekasih Allah, yaitu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena beliau adalah rahmatul lil `alamin.

Maulid menjadi penting karena seorang hamba sangat membutuhkan syafaat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam di akhirat kelak. Namun, yang perlu dipahami, maulid bukanlah sesuatu yang dibutuhkan oleh Baginda Nabi, melainkan umatnyalah yang membutuhkan momentum untuk kembali mengenal dan mencintai beliau.

Namun Habib Geys mengingatkan bahwa meninggalkan yang fardu karena sesuatu yang sunah merupakan kesia-siaan. Jangan sampai seseorang begitu bersemangat membaca Qasidah Burdah dari ba`da Isya hingga tahajud, tetapi karena kelelahan justru meninggalkan salat Subuh.

Sebab, keseimbangan dalam beribadah itu penting. Ibadah sunah semestinya mendukung ibadah wajib, bukan malah menjadi sebab ditinggalkannya kewajiban.

Sebelum mengakhiri tausiyahnya, Habib Geys menyampaikan empat pesan penting bagi para santri.

Pertama, seseorang tidak akan bisa bahagia tanpa ilmu agama. Dengan ilmu agama, seorang hamba dapat mengetahui bagaimana menjalani kehidupan dan memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat. Jangan sampai kita tidak mengetahui maksud Allah menurunkan Al-Qur`an sebagai mukjizat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Kedua, jangan lupakan jasa orang tua. Merekalah yang telah merawat dan mendidik kita sejak kecil hingga kini. Durhaka kepada orang tua termasuk bentuk kedurhakaan kepada Allah Azza wa Jalla.

Ketiga, jangan lupakan jasa guru-guru yang telah mengajarkan ilmu kepada kita. Seseorang yang sukses, di mana pun dan kapan pun ia berada, tidak boleh melupakan jasa gurunya. Sebab, melalui jasa gurunyalah ia menjadi orang yang hebat. Guru juga merupakan orang tua kedua bagi kita.

Keempat, jangan lupa meluangkan waktu untuk mengingat dan mensyukuri kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Salah satu caranya adalah dengan membaca Qasidah Burdah karangan Imam Al-Bushiri. Seminimal-minimalnya, kita dapat melakukannya satu tahun sekali.

Pada akhirnya, Maulid Nabi bukan sekadar tentang meramaikan sebuah acara. Ia menjadi momentum untuk kembali mengenal, mencintai, dan meneladani Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sekaligus berikhtiar agar kelak mendapatkan syafaat beliau di akhirat.

AT-TAQWA DEPOK
Jl. Usman Hasbi, RT.04 RW 04 Jatimulya, Cilodong - Depok
info@attaqwa.id
(+62)856 0980 9086