Santri SMA At-Taqwa Depok Hadiri Kuliah Bersama Profesor Pemikiran Islam
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
Ahad (12 April 2026), Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) menggelar Special Lecture yang menghadirkan Profesor Ugi Suharto sebagai pemateri. Kegiatan ini disambut baik oleh pihak Pesantren At-Taqwa Depok dengan mengikutsertakan sejumlah santri SMA-nya. Adapun tema yang diangkat adalah “Struktur Pemikiran Islam: Memahami Keseragaman dan Keberagaman Umat Islam.”
Selama lebih dari setengah hari, Prof. Ugi memaparkan berbagai corak pemikiran dalam Islam yang mencerminkan adanya keseragaman sekaligus keberagaman. Ia menjelaskan bahwa pembahasan mengenai struktur pemikiran ini sangat erat kaitannya dengan adab.
Dengan memahami adanya hierarki dan tingkatan dalam pemikiran, seseorang akan mampu menempatkan sesuatu—termasuk dirinya—secara tepat dan proporsional. Hal ini menjadi penting, karena seorang muslim diperintahkan untuk berlaku adil.
Di awal pemaparan, Prof. Ugi menunjukkan kejujuran ilmiahnya dengan menyebutkan bahwa sebagian gagasan yang disampaikannya merujuk pada pemikiran Profesor Syed Muhammad Naquib al-Attas, yang kemudian dijelaskan lebih lanjut oleh muridnya, Profesor Mohd Nor Daud.
Selain itu, ia juga mengutip pandangan ulama kontemporer, Syaikh Muhammad Abu Zahrah al-Azhari. Dalam karyanya Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah wa as-Siyasah wa al-`Aqaid serta Tarikh al-Madzahib al-Fiqhiyah, disebutkan bahwa pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW, umat Islam mengalami perbedaan dalam bidang akidah, fiqh dan politik. Namun demikian, seluruh perbedaan tersebut tetap berada dalam satu bingkai besar, yaitu Islam.
Berdasarkan gagasan para ulama tersebut, Prof. Ugi merumuskan struktur pemikiran Islam dalam beberapa tingkatan. Tingkatan pertama adalah worldview of Islam yang menempati posisi tertinggi. Pada level ini dibahas hal-hal mendasar seperti hakikat, wujud, kebenaran dan realitas semesta. Sifatnya final dan menjadi titik kesepakatan seluruh umat Islam. Sebagai contoh, seluruh muslim sepakat melaksanakan shalat dan menghadap ke arah Ka`bah.
Tingkatan kedua adalah ilmu kalam, yaitu pembahasan tentang bagaimana worldview Islam diungkapkan dan dipahami. Pada tahap ini muncul berbagai kelompok seperti Ahlussunnah wal Jama`ah, Mu`tazilah, Khawarij, Syi`ah, dan lainnya. Selama tidak keluar dari worldview Islam, kelompok-kelompok tersebut tetap berada dalam lingkup umat Islam.
Selanjutnya adalah tingkatan fiqh, yang berkaitan dengan metode berpikir dan berargumentasi dalam beramal dan beribadah. Dalam ranah ini terdapat berbagai mazhab yang masih dikenal hingga saat ini, seperti mazhab Syafi`i, Maliki, Hanafi, dan Hanbali. Perbedaan di tingkat ini merupakan hal yang wajar dan telah menjadi bagian dari khazanah keilmuan Islam.
Adapun tingkatan terakhir adalah ranah sosial, politik, dan ekonomi. Pada level ini, umat Islam tersebar di berbagai negara dengan sistem yang beragam. Prof. Ugi menyebutkan bahwa terdapat puluhan negara dengan penduduk muslim, yang masing-masing memiliki kondisi sosial-politik yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling mengkafirkan.
Melalui pemahaman struktur ini, seseorang dapat menempatkan kapan harus bersatu, kapan boleh berbeda, dan bagaimana menyikapi perbedaan dengan adab. Prof. Ugi kemudian memberikan beberapa panduan. Pada tingkat worldview, umat Islam harus bersatu dan bersepakat. Pada tingkat kalam, dianjurkan berpegang pada mayoritas Ahlussunnah wal Jama`ah, sambil tetap menghormati kelompok lain. Pada tingkat fiqh, seorang muslim dianjurkan mengikuti salah satu mazhab dan menjaga adab dalam perbedaan pendapat. Sedangkan dalam ranah sosial-politik, segala perbedaan perlu dirujukkan kembali kepada prinsip-prinsip yang lebih tinggi.
Sebagai penutup, Prof. Ugi menegaskan bahwa umat Islam harus saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Ia juga menyampaikan pesan penting, “Peradaban Islam tidak akan terbangun dengan pemikiran yang sempit, tetapi dengan iman, ilmu, dan amal.”
Santri At-Taqwa dididik untuk mencintai ilmu sekaligus menumbuhkan budaya literasi dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu wujudnya adalah dengan menghadiri kajian ilmiah dan forum-forum bergengsi seperti ini. Namun, mereka tidak hanya hadir sebagai pendengar, melainkan juga aktif mencatat dan menuliskan kembali gagasan yang disampaikan.
Dari sinilah budaya ilmu tumbuh. Yaitu melalui kesungguhan dalam mendengar, memahami dan mengabadikan pengetahuan dalam tulisan.
Selama lebih dari setengah hari, Prof. Ugi memaparkan berbagai corak pemikiran dalam Islam yang mencerminkan adanya keseragaman sekaligus keberagaman. Ia menjelaskan bahwa pembahasan mengenai struktur pemikiran ini sangat erat kaitannya dengan adab.
Dengan memahami adanya hierarki dan tingkatan dalam pemikiran, seseorang akan mampu menempatkan sesuatu—termasuk dirinya—secara tepat dan proporsional. Hal ini menjadi penting, karena seorang muslim diperintahkan untuk berlaku adil.
Di awal pemaparan, Prof. Ugi menunjukkan kejujuran ilmiahnya dengan menyebutkan bahwa sebagian gagasan yang disampaikannya merujuk pada pemikiran Profesor Syed Muhammad Naquib al-Attas, yang kemudian dijelaskan lebih lanjut oleh muridnya, Profesor Mohd Nor Daud.
Selain itu, ia juga mengutip pandangan ulama kontemporer, Syaikh Muhammad Abu Zahrah al-Azhari. Dalam karyanya Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah wa as-Siyasah wa al-`Aqaid serta Tarikh al-Madzahib al-Fiqhiyah, disebutkan bahwa pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW, umat Islam mengalami perbedaan dalam bidang akidah, fiqh dan politik. Namun demikian, seluruh perbedaan tersebut tetap berada dalam satu bingkai besar, yaitu Islam.
Berdasarkan gagasan para ulama tersebut, Prof. Ugi merumuskan struktur pemikiran Islam dalam beberapa tingkatan. Tingkatan pertama adalah worldview of Islam yang menempati posisi tertinggi. Pada level ini dibahas hal-hal mendasar seperti hakikat, wujud, kebenaran dan realitas semesta. Sifatnya final dan menjadi titik kesepakatan seluruh umat Islam. Sebagai contoh, seluruh muslim sepakat melaksanakan shalat dan menghadap ke arah Ka`bah.
Tingkatan kedua adalah ilmu kalam, yaitu pembahasan tentang bagaimana worldview Islam diungkapkan dan dipahami. Pada tahap ini muncul berbagai kelompok seperti Ahlussunnah wal Jama`ah, Mu`tazilah, Khawarij, Syi`ah, dan lainnya. Selama tidak keluar dari worldview Islam, kelompok-kelompok tersebut tetap berada dalam lingkup umat Islam.
Selanjutnya adalah tingkatan fiqh, yang berkaitan dengan metode berpikir dan berargumentasi dalam beramal dan beribadah. Dalam ranah ini terdapat berbagai mazhab yang masih dikenal hingga saat ini, seperti mazhab Syafi`i, Maliki, Hanafi, dan Hanbali. Perbedaan di tingkat ini merupakan hal yang wajar dan telah menjadi bagian dari khazanah keilmuan Islam.
Adapun tingkatan terakhir adalah ranah sosial, politik, dan ekonomi. Pada level ini, umat Islam tersebar di berbagai negara dengan sistem yang beragam. Prof. Ugi menyebutkan bahwa terdapat puluhan negara dengan penduduk muslim, yang masing-masing memiliki kondisi sosial-politik yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling mengkafirkan.
Melalui pemahaman struktur ini, seseorang dapat menempatkan kapan harus bersatu, kapan boleh berbeda, dan bagaimana menyikapi perbedaan dengan adab. Prof. Ugi kemudian memberikan beberapa panduan. Pada tingkat worldview, umat Islam harus bersatu dan bersepakat. Pada tingkat kalam, dianjurkan berpegang pada mayoritas Ahlussunnah wal Jama`ah, sambil tetap menghormati kelompok lain. Pada tingkat fiqh, seorang muslim dianjurkan mengikuti salah satu mazhab dan menjaga adab dalam perbedaan pendapat. Sedangkan dalam ranah sosial-politik, segala perbedaan perlu dirujukkan kembali kepada prinsip-prinsip yang lebih tinggi.
Sebagai penutup, Prof. Ugi menegaskan bahwa umat Islam harus saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Ia juga menyampaikan pesan penting, “Peradaban Islam tidak akan terbangun dengan pemikiran yang sempit, tetapi dengan iman, ilmu, dan amal.”
Santri At-Taqwa dididik untuk mencintai ilmu sekaligus menumbuhkan budaya literasi dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu wujudnya adalah dengan menghadiri kajian ilmiah dan forum-forum bergengsi seperti ini. Namun, mereka tidak hanya hadir sebagai pendengar, melainkan juga aktif mencatat dan menuliskan kembali gagasan yang disampaikan.
Dari sinilah budaya ilmu tumbuh. Yaitu melalui kesungguhan dalam mendengar, memahami dan mengabadikan pengetahuan dalam tulisan.