3 Santri At-Taqwa Depok Presentasi Makalah di SMA Alazka Jakarta
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
Tiga santri SMA Pesantren At-Taqwa Depok, pada Kamis (16/4/26), presentasi makalah di SMA Al-Azhar Kelapa Gading (Alazka), Jakarta. Ketiganya membawakan makalah tentang bagaimana upaya menumbuhkan literasi yang beradab, di tengah anak muda Muslim.
Qaulan Tsaqila Qurana (16 Tahun) mendapat giliran pertama. Makalahnya berjudul “Faktor Bangkit dan Runtuhnya Baitul Hikmah: Lentera Keilmuan Islam yang Padam”.
Dalam presentasinya, Qaulan menceritakan bahwa di masa lalu, Islam pernah punya peradaban besar, yang besar karena ilmu. Dari penguasa sampai masyarakat, mayoritas dari mereka cinta ilmu dan menghargai orang-orang berilmu. Itu terjadi masa Abbasiyah.
Simbol kejayaannya: Baitul Hikmah, perpustakaan terbesar di dunia. Koleksi bukunya, kata Qaulan, mencapai 60.000 buku, sebuah jumlah yang fantastis kala itu. Selain dari para ulama dan ilmuwan Islam, buku-buku itu juga berasal dari banyak peradaban di luar Islam.
“Selain sebagai perpustakaan, Baitul Hikmah juga mengambil peran sebagai lembaga pendidikan dan penelitian yang dilengkapi dengan observatorium astronomi, serta lembaga penerjemahan dan penyalinan literatur,” jelasnya.
Qaulan menuturkan, Baitul Hikmah bisa sebesar itu karena dukungan dan penghargaan dari tiga pihak:
Qaulan Tsaqila Qurana (16 Tahun) mendapat giliran pertama. Makalahnya berjudul “Faktor Bangkit dan Runtuhnya Baitul Hikmah: Lentera Keilmuan Islam yang Padam”.
Dalam presentasinya, Qaulan menceritakan bahwa di masa lalu, Islam pernah punya peradaban besar, yang besar karena ilmu. Dari penguasa sampai masyarakat, mayoritas dari mereka cinta ilmu dan menghargai orang-orang berilmu. Itu terjadi masa Abbasiyah.
Simbol kejayaannya: Baitul Hikmah, perpustakaan terbesar di dunia. Koleksi bukunya, kata Qaulan, mencapai 60.000 buku, sebuah jumlah yang fantastis kala itu. Selain dari para ulama dan ilmuwan Islam, buku-buku itu juga berasal dari banyak peradaban di luar Islam.
“Selain sebagai perpustakaan, Baitul Hikmah juga mengambil peran sebagai lembaga pendidikan dan penelitian yang dilengkapi dengan observatorium astronomi, serta lembaga penerjemahan dan penyalinan literatur,” jelasnya.
Qaulan menuturkan, Baitul Hikmah bisa sebesar itu karena dukungan dan penghargaan dari tiga pihak:
- para penguasa dan hartawan yang mendukung kerja intelektual lewat sumbangan limpahan harta, bahkan ada dari mereka yang ikut langsung dalam pengembangan ilmu pengetahuan;
- masyarakat umum yang begitu cinta akan ilmu, buku, dan orang berilmu, sampai-sampai dikatakan “mereka lebih senang kehilangan harta dari pada kehilangan buku”;
- ulama dan ilmuwan yang tak henti-hentinya menerjemahkan, men-tahqiq, dan menyalin banyak buku dari peradaban lain, meneliti, mengkaji, dan menciptakan karya-karya baru yang berkontribusi besar dalam perkembangan keilmuan
Begitulah kemudian Peradaban Islam mempunyai Baitul Hikmah. Dengannya, Peradaban Islam mampu memimpin dunia, menjadi kiblat peradaban, dan memberi pengaruh keilmuan yang luar biasa kepada peradaban-peradaban lain, khususnya Peradaban Eropa.
Sejarah kaagungan ilmu dalam Peradaban Islam ini penting guna memberi motivasi bagi setiap Muslim-Muslimah untuk semangat belajar.
Presentasi Qaulan dilanjutkan oleh Huzaifa Mumtaz Ahmad (16 tahun) dengan makalah berjudul “Peran Agama Islam dalam Menumbuhkan Budaya Ilmu Menurut Mohammad Natsir”.
Penekanan Huzaifa lebih kepada sisi ajaran Islam yang sangat menjunjung tinggi ilmu dan mendukung lahirnya budaya ilmu di tengah masyarakat. Hal itu ia rujuk dari tokoh besar Islam sekaligus Pahlawan Nasional, Mohammad Natsir.
Mengutip buku M. Natsir, Kebudayaan Islam dalam Perspektif Sejarah, Huzaifa menjelaskan bahwa setidaknya ada enam poin inti dalam Islam yang menjadi sumber kekuatan bagi lahirnya budaya ilmu di tengah masyarakat, yang kemudian ikut mendorong naiknya Peradaban Islam ke puncak kejayaannya:
Sejarah kaagungan ilmu dalam Peradaban Islam ini penting guna memberi motivasi bagi setiap Muslim-Muslimah untuk semangat belajar.
Presentasi Qaulan dilanjutkan oleh Huzaifa Mumtaz Ahmad (16 tahun) dengan makalah berjudul “Peran Agama Islam dalam Menumbuhkan Budaya Ilmu Menurut Mohammad Natsir”.
Penekanan Huzaifa lebih kepada sisi ajaran Islam yang sangat menjunjung tinggi ilmu dan mendukung lahirnya budaya ilmu di tengah masyarakat. Hal itu ia rujuk dari tokoh besar Islam sekaligus Pahlawan Nasional, Mohammad Natsir.
Mengutip buku M. Natsir, Kebudayaan Islam dalam Perspektif Sejarah, Huzaifa menjelaskan bahwa setidaknya ada enam poin inti dalam Islam yang menjadi sumber kekuatan bagi lahirnya budaya ilmu di tengah masyarakat, yang kemudian ikut mendorong naiknya Peradaban Islam ke puncak kejayaannya:
- Islam menghormati & memerintahkan akal untuk memeriksa dan memikirkan keadaan alam. Nabi bersabda “Agama itu ialah akal, tak ada agama bagi seseorang yang tidak mempunyai akal.”
- Islam mewajibkan pemeluknya menuntut ilmu. Nabi bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim”
- Islam melarang keras umatnya bertaklid buta dalam arti: “menerima sesuatu sebelum diperiksa, walaupun datangnya dari kalangan sebangsa dan seagama, walaupun dari ibu bapak dan nenek moyang sekalipun.” Soal ini, Natsir merujuk Surat Al- Isra` ayat 36.
- Islam selalu mendorong umatnya untuk inisiatif dan kreatif, dalam arti “mengadakan barang yang belum ada, merintis jalan yang belum ditempuh... yang memberi manfaat untuk masyarakat.”
- Dengan visi ridha Allah dan alam akhirat, kata Natsir, Islam “menyuruh mempergunakan hak-haknya atas keduniaan, dalam pimpinan peraturan agama.” Soal ini, Natsir merujuk Surat Al-Qashas ayat 77 yang menyiratkan untuk memenangkan dunia tanpa perlu mencintainya.
- Islam menganjurkan umatnya melakukan akulturasi kebudayaan dengan mengembara ke berbagai tempat, bertemu berbagai macam orang, saling bertukar ilmu, pandangan, pikiran, dan perasaan. Terkait hal ini, Natsir merujuk Surat Al-Hajj ayat 46.
“Tidaklah sekali-sekali wahyu itu takut kepada akal, tidak berusaha menutup-nutupi aqal, apalagi mematikan aqal. Maka memanggil aqal untuk melakukan fungsinya. Dipanggilnya panca indera untuk memberi “makanan pada aqal”, aqal manusia harus hidup, tidak boleh mati, tidak boleh lumpuh,” tutur Huzaifa merujuk salah satu buku fenomenal Mohammad Natsir, Fiqhud Dakwah
Penjelasan Zaif ini penting guna menyadarkan setiap Muslim-Muslimah bahwa, suatu hal yang mengherankan kalau orang Islam tidak cinta ilmu atau setidaknya semangat belajar.
Presentasi terakhir dibawakan oleh Amirah Abdullah (15 tahun). Makalahnya berjudul “Analisis Komparatif Otoritas Keilmuan Dalam Perspektif Islam dan Barat.”
Kini giliran Amirah yang memberikan “arah” kepada literasi yang telah diupayakan untuk tumbuh oleh dua kawannya. Penjelasan Amirah penting, supaya literasi tidak sekadar tumbuh kemudian marak, tapi tumbuh dengan tuntunan, tumbuh secara beradab, lewat “otoritas”.
Baik Islam maupun Barat, kata Amirah, sama-sama menekankan pentingnya otoritas atau kepakaran dalam ilmu pengetahuan. Tujuannya, supaya ilmu yang tersebar, khususnya lewat karya tulis, tidak salah karena disalahpahami oleh intelektual gadungan.
“Sikap selalu-merasa-benar dan penolakan terhadap kepakaran baru-baru ini seakan menunjukkan… bahwa ini bukan hanya masalah ketidakpercayaan atau keraguan: Ini adalah narsisme, yang digabung dengan penghinaan terhadap kepakaran,” tutur Amirah mengutip Profesor US Naval War College dan Harvard Extention School, Tom Nichols dalam bukunya, Matinya Kepakaran.
Tapi soal siapa yang layak punya otoritas, Islam melangkah lebih jauh dari Barat. Otoritas dalam Islam tidak hanya diukur dengan kecerdasan (rasionalism), pengalaman (experience) dorongan pribadi (individualism) dan pengakuan orang lain (claim).
Ada aspek lain yang lebih fundamental, yakni adab. “Dalam autoriti mengikuti kecerdasan, ilmu ruhaniah dan budi pekerti,” tegas Amirah mengutip buku Islam and Secularism karya pemikir besar Islam, Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas.
Amirah menjelaskan, dengan adab, seorang yang memiliki otoritas dalam satu bidang ilmu dapat mengenal dan meletakkan limpahan ilmunya pada tempat yang benar, sesuai dengan ketentuan Allah. Ilmunya bermanfaat, tidak merusak. Ilmunya ditujukan kepada Allah, bukan dunia sehingga rela berbuat apa pun demi keuntungan dunia.
Para penyandang otoritas yang berilmu dan beradab seperti itu, akan memproduksi ilmu-ilmu yang benar. Mereka akan menulis banyak literatur yang tidak hanya menguntungkan, tapi juga bermanfaat. Berkat mereka, literasi yang beradab dapat tumbuh dan marak
Sebaliknya, “Jika aspek adab diabaikan, dan semua orang berhak belajar di tingkat perguruan tinggi, maka akan muncul pemimpin-pemimpin yang zhalim di setiap bidang kehidupan,” tegas Amirah mengutip buku Konsep Adab Syed Muhammad Naquib Al-Attas dan Aplikasinya di Perguruan Tinggi karya gurunya, Dr. M. Ardiansyah.
Ini adalah presentasi mereka tahap ketiga. Tahap pertama, di depan para guru pada Januari. Tahap kedua, di depan para santri, Maret lalu. Kali ini, giliran angkatan ke-8 yang melakukannya. Artinya, sudah delapan tahun At-Taqwa konsisten menerapkan kebijakan ini.
Penjelasan Zaif ini penting guna menyadarkan setiap Muslim-Muslimah bahwa, suatu hal yang mengherankan kalau orang Islam tidak cinta ilmu atau setidaknya semangat belajar.
Presentasi terakhir dibawakan oleh Amirah Abdullah (15 tahun). Makalahnya berjudul “Analisis Komparatif Otoritas Keilmuan Dalam Perspektif Islam dan Barat.”
Kini giliran Amirah yang memberikan “arah” kepada literasi yang telah diupayakan untuk tumbuh oleh dua kawannya. Penjelasan Amirah penting, supaya literasi tidak sekadar tumbuh kemudian marak, tapi tumbuh dengan tuntunan, tumbuh secara beradab, lewat “otoritas”.
Baik Islam maupun Barat, kata Amirah, sama-sama menekankan pentingnya otoritas atau kepakaran dalam ilmu pengetahuan. Tujuannya, supaya ilmu yang tersebar, khususnya lewat karya tulis, tidak salah karena disalahpahami oleh intelektual gadungan.
“Sikap selalu-merasa-benar dan penolakan terhadap kepakaran baru-baru ini seakan menunjukkan… bahwa ini bukan hanya masalah ketidakpercayaan atau keraguan: Ini adalah narsisme, yang digabung dengan penghinaan terhadap kepakaran,” tutur Amirah mengutip Profesor US Naval War College dan Harvard Extention School, Tom Nichols dalam bukunya, Matinya Kepakaran.
Tapi soal siapa yang layak punya otoritas, Islam melangkah lebih jauh dari Barat. Otoritas dalam Islam tidak hanya diukur dengan kecerdasan (rasionalism), pengalaman (experience) dorongan pribadi (individualism) dan pengakuan orang lain (claim).
Ada aspek lain yang lebih fundamental, yakni adab. “Dalam autoriti mengikuti kecerdasan, ilmu ruhaniah dan budi pekerti,” tegas Amirah mengutip buku Islam and Secularism karya pemikir besar Islam, Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas.
Amirah menjelaskan, dengan adab, seorang yang memiliki otoritas dalam satu bidang ilmu dapat mengenal dan meletakkan limpahan ilmunya pada tempat yang benar, sesuai dengan ketentuan Allah. Ilmunya bermanfaat, tidak merusak. Ilmunya ditujukan kepada Allah, bukan dunia sehingga rela berbuat apa pun demi keuntungan dunia.
Para penyandang otoritas yang berilmu dan beradab seperti itu, akan memproduksi ilmu-ilmu yang benar. Mereka akan menulis banyak literatur yang tidak hanya menguntungkan, tapi juga bermanfaat. Berkat mereka, literasi yang beradab dapat tumbuh dan marak
Sebaliknya, “Jika aspek adab diabaikan, dan semua orang berhak belajar di tingkat perguruan tinggi, maka akan muncul pemimpin-pemimpin yang zhalim di setiap bidang kehidupan,” tegas Amirah mengutip buku Konsep Adab Syed Muhammad Naquib Al-Attas dan Aplikasinya di Perguruan Tinggi karya gurunya, Dr. M. Ardiansyah.
Ini adalah presentasi mereka tahap ketiga. Tahap pertama, di depan para guru pada Januari. Tahap kedua, di depan para santri, Maret lalu. Kali ini, giliran angkatan ke-8 yang melakukannya. Artinya, sudah delapan tahun At-Taqwa konsisten menerapkan kebijakan ini.