Santri At-Taqwa Khatamkan Kitab Tajwid Legendaris Bersama Pakar Tajwid Ternama Mesir
Oleh: Bana Fatahillah (Direktur SMA At-Taqwa College Depok)
Artikel Ilmiah
Liputan Kegiatan
Santri-santri Pesantren At-Taqwa Depok baru saja mengkhatamkan kitab tajwid legendaris Al-Manzhumah al-Khaqaniyyah pada Sabtu, 24 Januari 2026. Kegiatan ini menjadi istimewa karena diampu langsung oleh Syekh Muhammad Dasuqi Amin Kahilah, pakar qira`at, tajwid, dan mushaf al-Qur`an asal Mesir. Selain santri, para peserta dari luar juga ikut meramaikan kajian ilmiah ini.
Al-Manzhumah al-Khaqaniyyah dikenal sebagai kitab pertama dalam ilmu tajwid. Berisikan 51 bait yang mencakup hukum tajwid dan tahsin qiraat. Penulis banyak mengingatkan seputar kesalahan yang kerap terjadi dalam bacaan al-Quran. Seperti halnya: jangan berlebihan dalam mengucapkan huruf fathah, perjelas huruf `ain dan ha, bedakan antara yang panjang (madd) dan tidak (qashr) dan lain sebagainya.
Dalam penjelasannya, Syekh Kahilah tidak hanya menguraikan bait per bait dengan penjelasan, namun juga mempraktikkan sisi-sisi kesalahan bacaan khususnya dalam pelafalan huruf. Sebab setiap huruf harus diberikan haknya, takarannya. Sebagaimana yang disampaikan penulis matan:
βTimbanglah (ucapkanlah) setiap huruf dengan tepat, jangan engkau keluarkan ia dari batas timbangannya; karena menimbang huruf-huruf dzikir dengan benar termasuk seutama-utama bentuk kebajikan.β
Salah satu penjelasan menarik yang disampaikan Syekh Dasuqi adalah terkait pelafalan kata βanaβ. Beliau menjelaskan bahwa lafaz tersebut dibaca tanpa mad, dan hal itu bukan tanpa hikmah. Menurut beliau, kata ana sangat erat kaitannya dengan potensi kesombongan dan keangkuhan. Bacaan tanpa pemanjangan ini seakan menjadi pengingat agar manusia tidak membesarkan ego dan menonjolkan diri secara berlebihan.
Beliau menjelaskan setiap bait dengan sangat detail. banyak faidah yang tergolong baru didengar, berkat kedalaman bacaan dan keluasan ilmunya. Salah satunya terkait huruf alif. Syekh Dasuqi memisalkan: jika ada sebuah jendela yang bentuknya persis seperti jendela, tetapi tidak pernah dibuka, apakah ia masih disebut jendela? Sebagian menjawab iya, sebagian lain menolak karena tidak berfungsi.
Perumpamaan ini beliau gunakan untuk menjelaskan perbedaan pendapat ulama tentang jumlah huruf hijaiyah: ada yang menyatakan 28 karena alif tidak menerima harakat dan selalu sukun, sementara yang lain menetapkannya 29 karena alif tetap ada dan terlihat sebagai huruf. Meski persoalan ini dikenal dalam literatur tajwid, tamsil yang disampaikan beliau sangat membantu mendekatkan pemahaman secara jernih dan mudah dicerna.
Di akhir sesi, Syekh Muhammad Dasuqi Amin Kahilah memberikan sanad buku ini setelah menuntaskan penjelasan seluruh bait Manzhumah al-Khaqaniyyah yang berjumlah 51 bait. Ini menjadi momen bermakna, sekaligus pengikat sanad keilmuan antara ulama al-Qur`an Mesir dan para santri Pesantren At-Taqwa.
Kegiatan ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi santri untuk terus mendalami ilmu Al-Qur`an dengan adab, kedalaman, dan tanggung jawab ilmiah.