Begini Cara Pesantren At-Taqwa Depok Latih Gen-Z Melek Literasi, Berpikir Kritis, Lawan Brain Rot
Oleh: Fatih Madini (Guru Menulis Pesantren At-Taqwa Depok)
Artikel Ilmiah
Liputan Kegiatan
Santri kelas 1 SMA Pesantren At-Taqwa Depok, pada Kamis-Jumat (22-23/1/26), baru saja mempresentasikan makalah ilmiah mereka di hadapan para guru. Makalah belasan sampai puluhan halaman itu ditulis secara serius, bersama para guru pembimbing, selama beberapa bulan.
Setiap anak presentasi di hadapan 5-6 guru, ditanya, diberi kritik dan saran. Mereka harus siap mental. Siap mempertanggungjawabkan sumber-sumber yang dirujuk, logika penulisannya, kesinambungan rumusan masalah dan kesimpulan, sampai hal-hal detail seputar teknis penulisan. Tentu semua itu menyesuaikan kapasitas mereka selaku anak SMA.
*******
Guru besar Amerika, belum lama ini, semakin cemas dengan minat dan kualitas baca-tulis para mahasiswanya yang Gen-Z. Kata Profesor Sastra Pepperdine University, Jessica Hooten Wilson, mereka bukan hanya sulit berpikir kritis, tapi bahkan “tidak mampu membaca kalimat.”
Wilson sampai terpaksa menghapus tugas membaca di luar kelas. Ia menggantinya dengan pembacaan bersama di dalam kelas, baris demi baris. Tapi itu pun tidak efektif.
“Saya merasa harus membaca keras-keras karena tidak ada yang membaca malam sebelumnya,“ kata Wilson.
“Bahkan ketika dibacakan di kelas, masih banyak hal yang tidak mampu mereka proses dari kata-kata yang ada di halaman,“imbuh guru besar sastra itu.
Kepelikan itu juga terjadi di University of Notre Dame. Profesor Teologi Timothy O`Malleymengatakan,kalau dulu ia bisa memberi tugas membaca 25-40 halaman per kelas, kini jumlah itu dirasamustahil dilakukan.
“Hari ini, jika Anda memberikan bacaan sebanyak itu, mereka sering kali tidak tahu harus bagaimana,“ ujarnya, seraya menambahkan bahwa sebagian besar mahasiswa Gen Z bertahan dengan ringkasan dari AI.
“Mereka dibentuk dengan pola membaca yang hanya scanning,“ ungkapnya. (https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260115121849-37-702618/fenomena-banyak-gen-z-masuk-kuliah-tidak-bisa-baca-dosen-menyerah)
Rendahnya nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 lalu, salah satu faktor utamanya, kata Kepala BSKAP Kemendikdasmen Prof. Toni Toharudin, adalah rendahnya minat dan daya baca serta kualitas berpikir siswa SMA di Indonesia.
Bahkan matpel Bahasa Indonesia Wajib pun, nilai rata-ratanya hanya sekitar 55. Kata Prof. Toni, banyak siswa yang terbiasa mencari jawaban cepat, enggan membaca secara mendalam. Mereka sulit menarik kesimpulan atau gagasan pokok sebuah teks (https://www.youtube.com/watch?v=PwDyAh8U82E).
Mengutip laman Kompas, berdasarkan Data Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah, hanya 0,001 persen.
“Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca,” tulisnya.
Kalau diusut tantangan terbesarnya, tentu gadget dan konten-konten sosmed. Konten sosmed yang “receh” dan terlampau singkat, tidak hanya mengalihkan anak dari baca-tulis, tapi juga begitu masif menyerang daya tahan anak untuk membaca & berpikir.
Pembusukan Otak (Brain Rot) pun terjadi. Itulah yang sejak tahun 2024 sudah diwanti-wanti oleh Oxford(https://corp.oup.com/news/brain-rot-named-oxford-word-of-the-year-2024/). Diajak membaca, susah tahan. Diajak menulis, sulit fokus. Diajak berpikir kritis, tak minat.
******
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Abdul Mu`ti pun kemudian membuat kebijakan untuk memperbanyak PR berupa membaca dan menulis resensi buku. Dengan cara ini, katanya, siswa tidak hanya bisa melek literasi, tapi juga tumbuh kemampuan berpikir kritis.
“Anak-anak kita tidak mampu menulis dan ini masalah yang sangat serius. Mereka tidak akan mungkin menjadi generasi yang kritis kalau mereka tidak menjadi pembaca yang baik,” tuturnya (https://www.kompas.id/artikel/pemerintah-wajibkan-murid-membaca-buku-lalu-menulis-resensi)
Jauh sebelum Pak Mu`ti mencanangkan hal itu, Pesantren At-Taqwa Depok sudah lama mengaplikasikannya. Salah satunya melalui penulisan dan presentasi makalah ilmiah oleh anak kelas 1 SMA sebagai salah satu syarat kenaikan tingkat mereka.
Kali ini, giliran angkatan ke-8 yang melakukannya. Artinya, sudah delapan tahun At-Taqwa konsisten menerapkan kebijakan ini. Makalah-makalah anak usia belasan tahun itu punya gagasan yang besar.
Mereka tidak asal menulis, kaya akan rujukan, penuh pertimbangan. Mereka berusaha memberi manfaat kepada masyarakat luas melalui karya tulis itu.Berikut judul-judul makalah 29 santri kelas 1 SMA itu:
1. SOLUSI PERMASALAHAN BRAIN ROT DI KALANGAN PEMUDA DALAM PANDANGAN ISLAM
(Fadhilah Khoyrunnisa, 15 Tahun)
(Fadhilah Khoyrunnisa, 15 Tahun)
2. PERAN AGAMA ISLAM DALAM MENUMBUHKAN BUDAYA ILMU MENURUT MOHAMMAD NATSIR
(Huzaifa Mumtaz Ahmad, 15 Tahun)
(Huzaifa Mumtaz Ahmad, 15 Tahun)
3. PEMIKIRAN BUYA HAMKA TENTANG PENDIDIKAN JIWA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS BONUS DEMOGRAFI DI INDONESIA
(M. Rofi Abdurrahim, 17 Tahun)
(M. Rofi Abdurrahim, 17 Tahun)
4. FAKTOR BANGKIT DAN RUNTUHNYA BAITUL HIKMAH: LENTERA KEILMUAN ISLAM YANG PADAM
(Qaulan Tsaqila Qurana, 16 Tahun)
(Qaulan Tsaqila Qurana, 16 Tahun)
5. DAMPAK PERANG SALIB TERHADAP PERKEMBANGAN BUDAYA DAN INTELEKTUAL BARAT
(Jafar Abdurrahman Sani, 16 Tahun)
(Jafar Abdurrahman Sani, 16 Tahun)
6. PANDANGAN IMAM AL-GHAZALI TERHADAP ISTILAH-ISTILAH ILMU
(Aflaha Man Tazakka, 16 Tahun)
(Aflaha Man Tazakka, 16 Tahun)
7. KAUM MUDA DAN SEKS DI ERA DIGITAL: PENYEBAB, DAMPAK, DAN SOLUSINYA
(Khoirotunisa Dwi Putri, 16 Tahun)
(Khoirotunisa Dwi Putri, 16 Tahun)
8. ANALISA KOMPARATIF OTORITAS KEILMUAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM DAN BARAT
(Amirah Abdullah, 15 Tahun)
(Amirah Abdullah, 15 Tahun)
9. MENIMBANG ULANG PEMIKIRAN “AGAMA KULTURAL” DENNY JA
(Afkarmalik Mevlana Hasan, 16 Tahun)
(Afkarmalik Mevlana Hasan, 16 Tahun)
10. PANDANGAN DR. IHSAN ILAHI ZHAHIR TERHADAP AHMADIYYAH AL-QADINIYAH
(Fatih Daanish Tosiwani, 15 Tahun)
(Fatih Daanish Tosiwani, 15 Tahun)
11. KRITIK DAN SOLUSI IMAM SYAMSI ALI TERHADAP ISLAMOFOBIA
(Hisyam Rajabi Sutrisno, 15 Tahun)
(Hisyam Rajabi Sutrisno, 15 Tahun)
12. KATARSIS DALAM PANDANGAN ISLAM
(Haura Maksum Dawam, 16 Tahun)
(Haura Maksum Dawam, 16 Tahun)
13. LIRIK LAGU DALAM PANDANGAN WORLDVIEW ISLAM
(Darial Al-Fatih Alamsya Pohan, 16 Tahun)
(Darial Al-Fatih Alamsya Pohan, 16 Tahun)
14. KRITIK AHMAD HASSAN TERHADAP PEMIKIRAN SEKULAR SOEKARNO
(Abdullah Azzam, 15 Tahun)
(Abdullah Azzam, 15 Tahun)
15. PESAN ANTI-RASISME DALAM KHUTBATUL WADA`: RELEVANSI TERHADAP ISU-ISU KONTEMPORER
(Barly`S Wiratama, 16 Tahun)
(Barly`S Wiratama, 16 Tahun)
16. MENELADANI KEPEMIMPINAN UMAR BIN ABDUL AZIZ DALAM NILAI-NILAI KEZUHUDAN DAN KEADILAN
(M. Izzat Muflih Setiawan, 15 tahun)
(M. Izzat Muflih Setiawan, 15 tahun)
17. MENELADANI ADAB DAN KEBIJAKSANAAN ABU BAKAR AL-SHIDDIQ DALAM MEMIMPIN NEGARA (Muhammad Attharaziq, 16 Tahun)
18. KEBIJAKSANAAN PENGELOLAAN EKONOMI UMAR BIN KHATTAB
(Shofia Amirah Khoirunnisa, 16 Tahun)
(Shofia Amirah Khoirunnisa, 16 Tahun)
19. MENELADANI DAKWAH AHMAD DAHLAN
(Adhwa El Fariza, 15 Tahun)
(Adhwa El Fariza, 15 Tahun)
20. KONSEP DAN PEMIKIRAN JIHAD TEUNGKU MUHAMMAD DAUD BEUREUEH
(Azkya Adhawiya Zain, 15 Tahun)
(Azkya Adhawiya Zain, 15 Tahun)
21. GAGASAN M. NATSIR TENTANG UKHUWAH ISLAMIYAH SEBAGAI MOTIVASI BERSATU UNTUK KEBANGKITAN BANGSA
(Himada Syamil Ibrahim, 15 Tahun)
(Himada Syamil Ibrahim, 15 Tahun)
22. PEMIKIRAN DAN PERAN PROF. DR. KH. DIDIN HAFIDHUDDIN DALAM PEMBERDAYAAN EKONOMI UMAT ISLAM INDONESIA
(Faqih Mujahidin, 16 Tahun)
(Faqih Mujahidin, 16 Tahun)
23. WALI ALLAH MENURUT PERSPEKTIF AHLUSSUNAH WAL JAMAAH: STUDI KETELADANAN SYEKH ABDUL QADIR AL-JILANI
(Abdurrahman Hanif, 16 Tahun)
(Abdurrahman Hanif, 16 Tahun)
24. KOMUNIKASI ORANG TUA DAN ANAK DALAM AL-QUR`AN: PROBLEMATIKA DAN SOLUSI
(Nadhifa, 16 Tahun)
(Nadhifa, 16 Tahun)
25. TAULADAN BUYA HAMKA DALAM MENYIKAPI ORANG TUA YANG BERCERAI
(Adzkia Afifah Effendi, 16 Tahun)
(Adzkia Afifah Effendi, 16 Tahun)
26. PANDANGAN BUYA HAMKA TERHADAP FENOMENA STRICT PARENT
(Kirana Syakirah Trisha Putri, 16 Tahun)
(Kirana Syakirah Trisha Putri, 16 Tahun)
27. ADAB BERGAUL DENGAN MANUSIA DALAM PERSPEKTIF MUHAMMAD ALI AL-HAMIDY: STUDI KITAB ADAB AL-INSAN FI AL-ISLAM
(Shofwan Azmi al-Faruq, 17 Tahun)
(Shofwan Azmi al-Faruq, 17 Tahun)
28. ADAB BERINTERAKSI DALAM BIDAYAH AL-HIDAYAH DAN APLIKASINYA DI RANAH PERCAKAPAN DARING DAN KOLOM KOMENTAR
(Annisa Nayla Rahma, 16 Tahun)
(Annisa Nayla Rahma, 16 Tahun)
29. PRINSIP DAN ETIKA PERTEMANAN DALAM KITAB WASHOYA KARYA SYAIKH MUHAMMAD SYAKIR
(Zaky Amma Khalifa, 15 Tahun)
(Zaky Amma Khalifa, 15 Tahun)
Tentu makalah-makalah itu tidak sempurna, masih banyak yang perlu diperbaiki dan dievaluasi. Tapi semoga semangat dan keseriusan At-Taqwa dalam membangun budaya literasi di tengah anak-anak muda ini, bisa memberi manfaat bagi masyarakat luas.