Refleksi Imam Al-Ghazali Tentang Kebenaran Sejati

Oleh: Farrel Ahmad Wijaksana (Santri SMA At-Taqwa College Depok, 17 tahun)
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
gambar_artikel

Mengingat peran sentral Imam al-Ghazali terhadap perkembangan tradisi ilmu dalam Islam, pada tanggal 20/01/2026 santri ATCO II (setingkat 3 SMA) memulai pengkajian serius terhadap sosok Imam al-Ghazali lewat kitab otobiografis yang monumental, Al-Munqidz min ad-Dhalal

Kuliah ini diselenggarakan dalam format Reading Text yangdiampu oleh Dr. Nirwan Syafrin. Sebelumnya beliau telah membimbing kami dalam mengkaji karya Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, dari halaman pertama hingga khatam.

Kitab Al-Munqidz ditulis menjelang wafatnya Imam al-Ghazali. Kini, kitab tersebut memiliki banyak pentahqiq, di antara yang paling populer ialah Darul Minhaj dan Darul Andalus.Dua versi inilah yang digunakan ustadz Nirwan dalam kajian ini. 

Melalui pendahuluan Al-Munqidz, Imam al-Ghazali menghadirkan sebuah refleksi mendalam atas kondisi zamannya, yakni realitas umat yang dipenuhi oleh beragam mazhab, firqah, dan aliran pemikiran. Masing-masing kelompok mengajukan klaim kebenaran yang eksklusif, sehingga memunculkan kebingungan epistemologis: manakah kebenaran yang sejati? Pertanyaan inilah yang menjadi latar sekaligus kegelisahan intelektual sang Imam.

Menurut Dr. Nirwan, dalam bagian awal ini Imam al-Ghazali sedang memetakan lanskap epistimologi dan kondisi sosial umat waktu pada masanya. Situasi umat ketika itu, sebagaimana ditegaskan penulisnya, menunjukkan fragmentasi pemikiran, di mana klaim kebenaran yang saling berhadapan antar-firqah melahirkan konflik, keguncangan, dan krisis kepercayaan. Kondisi tersebut, secara garis besar, memiliki kemiripan yang kuat dengan realitas umat Islam kontemporer.

Pertanyaan besar yang hendak dijawab oleh Imam al-Ghazali dalam bagian awal ini adalah: tentang bagaimana beliau menemukan kebenaran sejati di tengah kondisi demikian. Dalam bahasa Pak Nirwan, Imam al-Ghazali ingin menjelaskan “bagaimana menepatkan kriteria kebenaran berdasarkan pengalaman intelektual dan spiritualnya selama hidup.” Langkah pertama yang disorot oleh al-Ghazali adalah pembebasan dari taklid yang rendah, menuju kepada tingginya istibsar, pencerahan akal.

Sikap melepas diri dari taqlid dapat dilihat dari proses sang Imam mencari intisari kebenaran dari banyaknya aliran pemikiran. Sebagaimana yang disebut oleh beliau sendiri, bahwa “pertama aku mengambil faedah dari ilmu kalam, kedua; apa yang kuterima dan tolak dari kalangan ta`lim (syiah batiniyyah) yang membatasi kebenaran kepada daulat Imam, ketiga; apa yang kuteliti dan sikapi dari jalan filsafat, dan keempat; apa yang kuterima dari tasawwuf, yang menyingkapkan dirinya kepadaku…” dari perjalanan intelektualnya, 

Dari perjalanan tersebut, Dr. Nirwan merumuskan metode berpikir Imam al-Ghazali sebagai reflektif-kritis dengan kesadaran epistemis yang tinggi, yakni suatu sikap intelektual yang menegaskan bahwa kebenaran ditentukan oleh dalil dan bukti, bukan oleh afiliasi kelompok atau identitas mazhab

Berakhirnya Imam al-Ghazali dalam tasawwuf penting untuk digarisbawahi. Berbeda dengan pendapat sebagian kalangan, tasawuf bagi imam al-Ghazali bukanlah pelarian emosional akibat kekecewaan intelektual. Sebaliknya, tasawuf merupakan buah dari perjalanan panjang pencarian kebenaran yang telah melewati fase taqlid, kajian kalam, penilaian kritis terhadap Batiniyyah, serta pengujian rasional filsafat.

Karena itulah, Dr. Nirwan mengingatkan pentingnya membaca imam al-Ghazali secara utuh dan kronologis, agar dapat dipahami bagaimana dan mengapa beliau sampai pada tasawuf. Imam al-Ghazali tidak menolak akal, tetapi menolak klaim bahwa kebenaran sejati dapat diraih hanya dengan akal semata. Melalui proses tazkiyat an-nafs dan penyucian diri, sebagaimana diajarkan dalam tasawuf, kebenaran sejati pada akhirnya dapat tersingkap dan dialami secara utuh

AT-TAQWA DEPOK
Jl. Usman Hasbi, RT.04 RW 04 Jatimulya, Cilodong - Depok
info@attaqwa.id
(+62)856 0980 9086