Santri 18 Tahun Lulus Dengan Penelitian Miskonsepsi Hari Akhir, Soroti Pengaruh Media Sosial
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
Pada Selasa, 9 Juni 2026, santri akhir Pondok Pesantren At-Taqwa Depok, Irsyad Akmal Syarif (18 tahun) menjalani sidang skripsi berjudul “Sejumlah Miskonsepsi dalam Pemahaman Eskatologi: Rincian dan Bantahan.” Skripsi tersebut diuji oleh Dr. Muhammad Ardiansyah, Mudir Pesantren dan Erikson Ziyad, M.A, Direktur SMP.
Dalam penelitiannya, Irsyad menyoroti berbagai kesalahpahaman yang berkembang di masyarakat terkait persoalan hari akhir. Menurutnya, miskonsepsi dalam masalah eskatologi bukan sekadar kesalahan informasi, tetapi dapat memengaruhi pola keberagamaan seseorang, baik dalam bentuk sikap berlebihan maupun meremehkan ajaran agama.
Ia menjelaskan bahwa salah satu faktor utama munculnya miskonsepsi adalah rendahnya literasi keagamaan. Banyak orang menerima informasi agama secara instan melalui potongan ceramah, kutipan tokoh atau konten media sosial tanpa melakukan verifikasi terhadap sumbernya. Akibatnya, berbagai persoalan akidah, termasuk tentang kiamat, surga dan neraka, sering dipahami secara tidak utuh.
Selain menguraikan faktor penyebabnya, Irsyad juga menawarkan pendekatan dalam menyikapi persoalan-persoalan eskatologi. Menurutnya, penting membedakan antara sesuatu yang mustahil secara akal dan sesuatu yang berada di luar jangkauan akal manusia. Ajaran tentang hari akhir tidak bertentangan dengan akal, melainkan berada pada wilayah yang hanya dapat diketahui melalui wahyu.
Dalam skripsinya, Irsyad turut membahas sejumlah contoh miskonsepsi yang banyak beredar di masyarakat. Salah satunya adalah anggapan bahwa khamar diharamkan di dunia tetapi justru dijanjikan di surga. Ia menjelaskan bahwa khamar surga berbeda dengan khamar dunia karena tidak mengandung unsur yang membahayakan dan tidak menyebabkan mabuk, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Ash-Shaffat ayat 46-47.
Irsyad menyimpulkan bahwa keimanan kepada hari akhir memiliki pengaruh besar terhadap cara pandang dan perilaku seorang Muslim. Pemahaman yang benar tentang eskatologi akan membantu seseorang menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana, bertanggung jawab dan sadar bahwa seluruh amal perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Sidang berlangsung khidmat dengan berbagai pertanyaan, kritik, dan masukan dari para penguji. Salah satu pembahasan yang mengemuka adalah fenomena maraknya kajian akhir zaman di media sosial. Menurut Irsyad, perkara-perkara yang bersifat sam`iyyat perlu ditempatkan secara proporsional: diimani berdasarkan dalil yang sahih tanpa terjebak pada spekulasi yang berlebihan.
Kedua penguji mengapresiasi usaha Irsyad yang telah menulis skripsi bertema akidah di usia yang masih setingkat pelajar SMA. Dr. Muhammad Ardiansyah menilai tema yang diangkat cukup penting karena berkaitan dengan keyakinan umat Islam, sekaligus mendorong agar penelitian tersebut terus dikembangkan dengan referensi dan pembahasan yang lebih luas.
Menutup sidangnya, Irsyad mengungkapkan rasa syukur atas kelancaran proses yang dijalaninya. Ia berharap penelitiannya dapat membantu masyarakat memahami persoalan hari akhir secara lebih tepat dan terhindar dari berbagai kesalahpahaman yang banyak beredar di tengah masyarakat.
Dalam penelitiannya, Irsyad menyoroti berbagai kesalahpahaman yang berkembang di masyarakat terkait persoalan hari akhir. Menurutnya, miskonsepsi dalam masalah eskatologi bukan sekadar kesalahan informasi, tetapi dapat memengaruhi pola keberagamaan seseorang, baik dalam bentuk sikap berlebihan maupun meremehkan ajaran agama.
Ia menjelaskan bahwa salah satu faktor utama munculnya miskonsepsi adalah rendahnya literasi keagamaan. Banyak orang menerima informasi agama secara instan melalui potongan ceramah, kutipan tokoh atau konten media sosial tanpa melakukan verifikasi terhadap sumbernya. Akibatnya, berbagai persoalan akidah, termasuk tentang kiamat, surga dan neraka, sering dipahami secara tidak utuh.
Selain menguraikan faktor penyebabnya, Irsyad juga menawarkan pendekatan dalam menyikapi persoalan-persoalan eskatologi. Menurutnya, penting membedakan antara sesuatu yang mustahil secara akal dan sesuatu yang berada di luar jangkauan akal manusia. Ajaran tentang hari akhir tidak bertentangan dengan akal, melainkan berada pada wilayah yang hanya dapat diketahui melalui wahyu.
Dalam skripsinya, Irsyad turut membahas sejumlah contoh miskonsepsi yang banyak beredar di masyarakat. Salah satunya adalah anggapan bahwa khamar diharamkan di dunia tetapi justru dijanjikan di surga. Ia menjelaskan bahwa khamar surga berbeda dengan khamar dunia karena tidak mengandung unsur yang membahayakan dan tidak menyebabkan mabuk, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Ash-Shaffat ayat 46-47.
Irsyad menyimpulkan bahwa keimanan kepada hari akhir memiliki pengaruh besar terhadap cara pandang dan perilaku seorang Muslim. Pemahaman yang benar tentang eskatologi akan membantu seseorang menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana, bertanggung jawab dan sadar bahwa seluruh amal perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Sidang berlangsung khidmat dengan berbagai pertanyaan, kritik, dan masukan dari para penguji. Salah satu pembahasan yang mengemuka adalah fenomena maraknya kajian akhir zaman di media sosial. Menurut Irsyad, perkara-perkara yang bersifat sam`iyyat perlu ditempatkan secara proporsional: diimani berdasarkan dalil yang sahih tanpa terjebak pada spekulasi yang berlebihan.
Kedua penguji mengapresiasi usaha Irsyad yang telah menulis skripsi bertema akidah di usia yang masih setingkat pelajar SMA. Dr. Muhammad Ardiansyah menilai tema yang diangkat cukup penting karena berkaitan dengan keyakinan umat Islam, sekaligus mendorong agar penelitian tersebut terus dikembangkan dengan referensi dan pembahasan yang lebih luas.
Menutup sidangnya, Irsyad mengungkapkan rasa syukur atas kelancaran proses yang dijalaninya. Ia berharap penelitiannya dapat membantu masyarakat memahami persoalan hari akhir secara lebih tepat dan terhindar dari berbagai kesalahpahaman yang banyak beredar di tengah masyarakat.