Impresif! Santri 18 tahun Asal Malang ini Paparkan Pengaruh Paham Marxisme dalam Studi Al-Quran
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
Dewasa ini, Marxisme menjadi ideologi yang terlihat begitu menarik dan menjanjikan, terlebih di mata generasi muda. Hal ini bukan tanpa alasan. Mengingat Marxisme dan segala ideologi yang lahir darinya sering kali menggunakan narasi-narasi bersifat provokatif dan radikal dalam merespons beberapa hal yang dinilai menjadi masalah di era kontemporer. Seperti absolutisme kekuasaan, pertentangan kelas, dan lain-lain.
Namun seiring perkembangan zaman, pengaruh Marxisme mulai merambah dalam banyak aspek. Tak terkecuali dalam aspek-aspek yang berkaitan dengan agama. Salah satunya adalah kitab suci, yang dalam konteks ini adalah al-Quran.
Beberapa tokoh yang disinyalir terpengaruh paham Marxisme seperti Nasr Hamid Abu Zayd, memandang bahwa al-Quran merupakan produk budaya Arab. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Muhammad Syahrur yang menyatakan bahwa al-Quran telah mengalami reduksi makna karena ditulis menggunakan bahasa Arab.
Hal ini berkonsekuensi pada runtuhnya sakralitas Quran sebagai kitab suci. Konsekuensi itu pun kemudian memunculkan konsekuensi lainnya: pemahaman bahwa hukum dalam al-Quran bisa berubah dan ditafsirkan secara bebas, sesuai konteks masa dan tempat.
Berangkat dari keresahan ini, Faza Zaki el-Hakim, santri SMA At-Taqwa Depok, menulis skripsi (sebagai tugas akhir) bertemakan pengaruh Marxisme dalam studi al-Quran. Ini merupakan satu hal yang baru dan dapat dikatakan cukup unik.
Mengingat Marxisme yang seringkali digunakan sebagai “pisau bedah” dalam membahas konsep masyarakat, ekonomi dan politik, Faza mampu melihat tendensi Marxistik dalam studi Quran modern.
Dalam membedah nilai Marxistik yang terkandung dalam studi al-Quran modern, Faza menyatakan bahwa Marxisme yang mendasarkan pemikirannya atas Materialisme Dialektika, tidaklah kompatibel.
“Marxisme dengan prinsip Materialisme Dialektika-nya, menganggap bahwa segala sesuatu yang bersentuhan dengan manusia, mesti terpengaruh oleh manusia itu sendiri. Padahal, hal ini jelas tidak mungkin bagi Al-Quran yang notabenenya adalah wahyu, Kalamullah yang lafaz dan maknanya dari Allah,” jelas santri Malang itu.
Sebagai upaya memudahkan pembahasan, Faza memberikan beberapa contoh dari beberapa tokoh yang pernah booming dalam konteks wacana studi al-Quran modern, yang disinyalir terpengaruh paham Dialektika Marxis. Dari Timur Tengah ada Nasr Hamid Abu Zayd dan Muhammad Syahrur. Dari Indonesia, ada Prof. Aksin Wijaya.
Penyampaian materi ini mendapat atensi yang cukup besar dari kalangan penguji. Meskipun tentu tak lepas dari kekurangan masih banyak masukan. “Materi ini masih bisa diperluas lagi cakupan pembahasannya.”, ujar Ustadz Ahda Abid al-Ghiffari selaku salah satu guru penguji.
Namun seiring perkembangan zaman, pengaruh Marxisme mulai merambah dalam banyak aspek. Tak terkecuali dalam aspek-aspek yang berkaitan dengan agama. Salah satunya adalah kitab suci, yang dalam konteks ini adalah al-Quran.
Beberapa tokoh yang disinyalir terpengaruh paham Marxisme seperti Nasr Hamid Abu Zayd, memandang bahwa al-Quran merupakan produk budaya Arab. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Muhammad Syahrur yang menyatakan bahwa al-Quran telah mengalami reduksi makna karena ditulis menggunakan bahasa Arab.
Hal ini berkonsekuensi pada runtuhnya sakralitas Quran sebagai kitab suci. Konsekuensi itu pun kemudian memunculkan konsekuensi lainnya: pemahaman bahwa hukum dalam al-Quran bisa berubah dan ditafsirkan secara bebas, sesuai konteks masa dan tempat.
Berangkat dari keresahan ini, Faza Zaki el-Hakim, santri SMA At-Taqwa Depok, menulis skripsi (sebagai tugas akhir) bertemakan pengaruh Marxisme dalam studi al-Quran. Ini merupakan satu hal yang baru dan dapat dikatakan cukup unik.
Mengingat Marxisme yang seringkali digunakan sebagai “pisau bedah” dalam membahas konsep masyarakat, ekonomi dan politik, Faza mampu melihat tendensi Marxistik dalam studi Quran modern.
Dalam membedah nilai Marxistik yang terkandung dalam studi al-Quran modern, Faza menyatakan bahwa Marxisme yang mendasarkan pemikirannya atas Materialisme Dialektika, tidaklah kompatibel.
“Marxisme dengan prinsip Materialisme Dialektika-nya, menganggap bahwa segala sesuatu yang bersentuhan dengan manusia, mesti terpengaruh oleh manusia itu sendiri. Padahal, hal ini jelas tidak mungkin bagi Al-Quran yang notabenenya adalah wahyu, Kalamullah yang lafaz dan maknanya dari Allah,” jelas santri Malang itu.
Sebagai upaya memudahkan pembahasan, Faza memberikan beberapa contoh dari beberapa tokoh yang pernah booming dalam konteks wacana studi al-Quran modern, yang disinyalir terpengaruh paham Dialektika Marxis. Dari Timur Tengah ada Nasr Hamid Abu Zayd dan Muhammad Syahrur. Dari Indonesia, ada Prof. Aksin Wijaya.
Penyampaian materi ini mendapat atensi yang cukup besar dari kalangan penguji. Meskipun tentu tak lepas dari kekurangan masih banyak masukan. “Materi ini masih bisa diperluas lagi cakupan pembahasannya.”, ujar Ustadz Ahda Abid al-Ghiffari selaku salah satu guru penguji.