Presentasi Makalah Santri SMA At-Taqwa Depok Tuai Pujian Para Orang Tua
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
Santri-santri SMA Pesantren At-Taqwa Depok, pada Sabtu (2/5/26), mempresentasikan makalah ilmiah di hadapan orang tua mereka sendiri. Rasa bangga dan syukur, mereka tampakkan lewat senyuman dan ungkapan.
“Menurut saya, anak usia belasan tahun seperti kalian yang sudah bisa memapaparkan pembahasan besar seperti ini, merupakan hal yang sangat luar biasa!” ucap salah seorang wali santri.
Salah satu makalah yang banyak disorot adalah makalah milik Muhammad Rofi Abdurrahiim. Judulnya, “Pemikiran Buya Hamka tentang pendidikan jiwa dalam meningkatkan kualitas bonus demografi di Indonesia”.
Dalam presentasinya, Rofi menekankan tentang pentingnya pendidikan jiwa (spiritual) dalam meningkatkan kualitas masyarakat yang sedang berada pada usia produktif dengan menisbatkan pembahasan tersebut pada pemikiran ulama besar Buya Hamka.
“Dengan meningkatkan kualitas jiwa masyarakat, fenomena bonus demografi akan dapat tertangani dengan baik,” tegasnya.
Momen yang paling ikonik adalah ketika ia mampu memberikan jawaban yang begitu filosofis kepada seorang wali santri yang bertanya kepadanya, terkait gagasan pendidikannya. Hadirin yang mendengar jawaban tersebut tampak takjub, tak menyangka kalau narasi semacam itu bisa keluar dari mulut anak SMA.
Makalah lain yang tidak kalah mencuri perhatian para orang tua adalah makalah yang ditulis oleh Fadhillah Khoyrunnisa. Ia mengangkat pembahasan tentang brain rot, fenomena yang sedang ramai sekali dibahas di masa kini. Judul makalahnya, “Solusi Permasalahan Brain Rot di kalangan Pemuda dalam Pandangan Islam”.
Para orang tua sangat antusias bertanya, karena makalah yang Fadhillah paparkan menyinggung tentang konsumsi gadget berlebih yang pada umumnya dilakukan oleh para santri itu sendiri selama liburan pondok.
Pada sesi berfoto bersama, tampak wajah-wajah berseri dengan senyuman hangat dari para santri dan orang tua. Para santri tersenyum lega, karena berhasil memaparkan makalahnya di hadapan orang yang paling mereka cinta. Sementara para orang tua tersenyum bangga karena melihat buah hatinya mampu mempertanggung jawabkan hasil karyanya di hadapan puluhan orang.
Acara ini adalah presentasi makalah ilmiah keeempat para santri SMA At-Taqwa Depok kelas satu. Presentasi pertama, di hadapan para guru. Kedua, di hadapan para santri. Ketiga, di hadapan para santri dan murid di lembaga pendidikan di luar At-Taqwa. Kali ini, giliran angkatan ke-8 yang melakukannya. Artinya, sudah delapan tahun At-Taqwa konsisten menerapkan kebijakan ini.
“Menurut saya, anak usia belasan tahun seperti kalian yang sudah bisa memapaparkan pembahasan besar seperti ini, merupakan hal yang sangat luar biasa!” ucap salah seorang wali santri.
Salah satu makalah yang banyak disorot adalah makalah milik Muhammad Rofi Abdurrahiim. Judulnya, “Pemikiran Buya Hamka tentang pendidikan jiwa dalam meningkatkan kualitas bonus demografi di Indonesia”.
Dalam presentasinya, Rofi menekankan tentang pentingnya pendidikan jiwa (spiritual) dalam meningkatkan kualitas masyarakat yang sedang berada pada usia produktif dengan menisbatkan pembahasan tersebut pada pemikiran ulama besar Buya Hamka.
“Dengan meningkatkan kualitas jiwa masyarakat, fenomena bonus demografi akan dapat tertangani dengan baik,” tegasnya.
Momen yang paling ikonik adalah ketika ia mampu memberikan jawaban yang begitu filosofis kepada seorang wali santri yang bertanya kepadanya, terkait gagasan pendidikannya. Hadirin yang mendengar jawaban tersebut tampak takjub, tak menyangka kalau narasi semacam itu bisa keluar dari mulut anak SMA.
Makalah lain yang tidak kalah mencuri perhatian para orang tua adalah makalah yang ditulis oleh Fadhillah Khoyrunnisa. Ia mengangkat pembahasan tentang brain rot, fenomena yang sedang ramai sekali dibahas di masa kini. Judul makalahnya, “Solusi Permasalahan Brain Rot di kalangan Pemuda dalam Pandangan Islam”.
Para orang tua sangat antusias bertanya, karena makalah yang Fadhillah paparkan menyinggung tentang konsumsi gadget berlebih yang pada umumnya dilakukan oleh para santri itu sendiri selama liburan pondok.
Pada sesi berfoto bersama, tampak wajah-wajah berseri dengan senyuman hangat dari para santri dan orang tua. Para santri tersenyum lega, karena berhasil memaparkan makalahnya di hadapan orang yang paling mereka cinta. Sementara para orang tua tersenyum bangga karena melihat buah hatinya mampu mempertanggung jawabkan hasil karyanya di hadapan puluhan orang.
Acara ini adalah presentasi makalah ilmiah keeempat para santri SMA At-Taqwa Depok kelas satu. Presentasi pertama, di hadapan para guru. Kedua, di hadapan para santri. Ketiga, di hadapan para santri dan murid di lembaga pendidikan di luar At-Taqwa. Kali ini, giliran angkatan ke-8 yang melakukannya. Artinya, sudah delapan tahun At-Taqwa konsisten menerapkan kebijakan ini.