Jejak Palestina di Balik Kemerdekaan Indonesia
Oleh: Jafar Abdurrahman Sani (Santri SMA At-Taqwa Depok, 16 Tahun)
Artikel Ilmiah
Liputan Kegiatan
Dalam rangka merayakan 81 Kemerdekaan Indonesia pada Senin (17/8/26), Pesantren At-Taqwa menyelenggarakan acara bedah buku “Akar Sejarah Solidaritas Indonesia-Palestina”. Buku ini ditulis oleh para peneliti sejarah Islam di Indonesia yang tergabung di dalam organisasi Jejak Islam Bangsa (JIB). Salah satu penulisnya adalah Syaidina Sapta, yang kini menjadi pembicara.
Inti pembahasan dari buku ini adalah, bagaimana hubungan solidaritas antar Indonesia dan Palestina dapat terjalin dengan erat hingga saat ini. Tentu hubungan tersebut tidak terjalin secara kebetulan. Pasti ada akar sejarah yang menyatukan kedua bangsa tersebut. Dimulai dari masa pra-kemerdekaaan, hingga masa orde lama, dibahas tuntas di dalam buku ini.
Pak Sapta mengatakan, buku ini muncul sebagai pengingat kepada bangsa Indonesia khususnya yang beragama Islam bahwasanya, kemerdekaan yang kita raih, bukan semata-mata hasil dari jerih payah kita melawan penjajah di medan pertempuran. Tapi di belakang itu semua, ada usaha-usaha diplomasi yang dilakukan oleh para diplomat bangsa kita, agar Indonesia dapat diakui kemerdekaannya. Di sinilah, peran bangsa Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa kita sebagai sebuah bangsa yang sama-sama dijajah.
Di masa ini, bangsa Indonesia dan bangsa Palestina bahu membahu mendukung kemerdekaan mereka. Kedua bangsa ini sadar bahwa, untuk menuju kemerdekaan, mereka tidak dapat mengandalkan bangsa mereka sendiri. Mereka perlu membangun jaringan antar bangsa yang solid untuk menyuarakan anti-kolonialisme ke institusi internasional.
Kedua bangsa ini saling menyuarakan kemerdekaan masing-masing, dan mendukung kemerdekaan antar keduanya. Seperti, pengakuan kemerdekaan Indonesia oleh Syekh Amin Al-Husaini seorang mufti Palestina di Radio Berlin, dan sumbangan dana yang besar dari seorang pangusaha Palestina, yaitu, Muhammad Ali Taher. Balasan dari sisi Indonesia adalah, ucapan terima kasih dari ketua Masyumi, KH. Hasyim Asy`ari kepada Syekh Husaini, dan doa agar bangsa Palestina segera mendapatkan kemerdekaannya. Ditetapkannya pekan Rajabiyyah oleh PBNU guna mendukung perjuangan bangsa Palestina.
Bahkan setelah bangsa Indonesia merdeka, kita tetap mendukung bangsa Palestina yang masih terjajah. Di antaranya, tidak digubrisnya usaha-usaha diplomasi penjajah Israel dari telegram atau melalui institusi lain. Dilain sisi, adanya ketidakberkenannya negara kita untuk bertanding dengan Israel pada Asian Games dan Kualifikasi Piala Dunia di Indonesia atau di Israel. Konsekuensi dari ketidaksediaan tersebut adalah, Indonesia diberikan sanksi oleh FIFA dan Panitia Olimpiade Internasional yang menyebabkan Indonesia tidak dapat bertanding di skala internasional untuk sementara waktu. Setidaknya itu materi yang disampaikan Syaidina Sapta pada acara ini.