Kajian Riyadhus Sholihin: Sumpah Seorang Muslim dan Kelalaian Manusia
Oleh: Haufan Hazza Prince Yuliant (Santri SMP At-Taqwa Depok, 15 Tahun)
Artikel Ilmiah
Liputan Kegiatan
Pandaan, 20 Oktober 2026 — Selasa petang, kami yang semula dijadwalkan belajar di Madrasah As-Sunnah bersama Ustadz Kholili mendapat kegiatan pengganti berupa kajian yang disampaikan oleh Habib Ahmad bin Hasan Ba`agil, seorang ulama yang tinggal di Pandaan. Atas arahan Ustadz Ghazali, kami berpindah ke musala tempat kajian berlangsung. Dalam kesempatan tersebut, Habib Ahmad membahas hadis-hadis dari kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi.
Pembahasan pertama berkaitan dengan sumpah yang diucapkan dengan menyebut selain nama Allah. Habib Ahmad membacakan hadis Rasulullah SAW yang artinya, “Barang siapa bersumpah dengan selain nama Allah, sungguh ia telah kufur atau syirik.”
Beliau menjelaskan bahwa kata kufur dan syirik dalam hadis tersebut tidak serta-merta dipahami sebagai kekufuran atau kesyirikan yang mengeluarkan seseorang dari Islam. Keduanya digunakan untuk menunjukkan betapa beratnya perbuatan bersumpah dengan selain nama Allah. Penjelasan ini mengingatkan kami agar tidak menganggap ringan ucapan yang berkaitan dengan sumpah, sebab di dalamnya terdapat perkara yang menyangkut keimanan seorang Muslim.
Setelah menjelaskan hadis tersebut, Habib Ahmad beralih kepada hadis lain tentang orang yang mengambil harta milik seorang Muslim dengan sumpah yang tidak benar. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa pun yang bersumpah untuk mengambil harta seorang Muslim tanpa hak akan menemui Allah dalam keadaan dimurkai-Nya.
Hadis ini menunjukkan bahwa mengambil hak orang lain dengan cara yang tidak benar merupakan perbuatan serius, terlebih jika nama Allah digunakan untuk menguatkan kebohongan. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa saja menggunakan sumpah untuk meyakinkan orang lain demi memperoleh keuntungan. Padahal, tindakan tersebut bukan hanya merugikan pemilik harta, melainkan juga menjadi bentuk penyalahgunaan nama Allah demi kepentingan pribadi.
Dari pembahasan tentang sumpah dan dosa tersebut, Habib Ahmad kemudian menyampaikan nasihat mengenai musibah dan kelalaian manusia. Menurut beliau, musibah terbesar bagi seorang ahli maksiat bukanlah semata-mata bencana alam, kemiskinan, atau kesulitan fisik lainnya, melainkan ketika dirinya tidak lagi mendapatkan peringatan yang membuatnya sadar akan kesalahan.
Musibah dapat menjadi salah satu jalan bagi seseorang untuk menyadari kesalahannya dan kembali kepada Allah. Sebaliknya, ketika seseorang terus melakukan kemaksiatan tanpa menyadari kesalahannya, sementara kenikmatan dunia semakin bertambah, ia bisa terlena dan merasa seolah-olah tidak ada masalah dalam kehidupannya. Akibatnya, dosa yang dilakukan semakin menumpuk tanpa disertai keinginan untuk bertobat.
Keadaan tersebut dapat diibaratkan seperti penyakit berbahaya yang tidak menunjukkan gejala, tetapi terus berkembang hingga mengancam nyawa. Begitu pula kelalaian terhadap dosa. Ketika seseorang tidak lagi merasa perlu memperbaiki diri, ia berisiko terus berada dalam kesalahan hingga ajal menjemput. Nasihat ini mengajak kami untuk tidak hanya menilai keadaan berdasarkan banyak atau sedikitnya kenikmatan dunia, tetapi juga memperhatikan bagaimana hubungan kami dengan Allah.
Pada akhir kajian, kami kembali diingatkan untuk tidak menjadikan sumpah sebagai ucapan yang mudah dilontarkan. Sumpah atas nama Allah bukan perkara sepele, sebab setiap ucapan memiliki konsekuensi. Dalam keadaan tertentu, melanggar sumpah yang sah juga mengharuskan seseorang menunaikan kafarat, salah satunya dengan berpuasa selama tiga hari apabila tidak mampu memenuhi pilihan kafarat sebelumnya. Selain itu, sumpah yang tidak dijaga dapat merusak kepercayaan orang lain terhadap diri kita.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 77:
“Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga murah, mereka itu tidak memperoleh bagian di akhirat, Allah tidak akan menyapa mereka, tidak akan memperhatikan mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.”
Allah SWT juga berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 91:
“Dan tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu melanggar sumpah setelah diikrarkan, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”
Kedua ayat tersebut menegaskan pentingnya menjaga sumpah dan janji. Dari kajian sore itu, kami belajar bahwa nama Allah tidak sepatutnya digunakan untuk membenarkan kebohongan atau meraih keuntungan dunia. Karena itu, seorang Muslim perlu berhati-hati dalam berbicara, tidak mudah bersumpah, dan berusaha menepati setiap janji yang telah diucapkannya.
Pembahasan pertama berkaitan dengan sumpah yang diucapkan dengan menyebut selain nama Allah. Habib Ahmad membacakan hadis Rasulullah SAW yang artinya, “Barang siapa bersumpah dengan selain nama Allah, sungguh ia telah kufur atau syirik.”
Beliau menjelaskan bahwa kata kufur dan syirik dalam hadis tersebut tidak serta-merta dipahami sebagai kekufuran atau kesyirikan yang mengeluarkan seseorang dari Islam. Keduanya digunakan untuk menunjukkan betapa beratnya perbuatan bersumpah dengan selain nama Allah. Penjelasan ini mengingatkan kami agar tidak menganggap ringan ucapan yang berkaitan dengan sumpah, sebab di dalamnya terdapat perkara yang menyangkut keimanan seorang Muslim.
Setelah menjelaskan hadis tersebut, Habib Ahmad beralih kepada hadis lain tentang orang yang mengambil harta milik seorang Muslim dengan sumpah yang tidak benar. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa pun yang bersumpah untuk mengambil harta seorang Muslim tanpa hak akan menemui Allah dalam keadaan dimurkai-Nya.
Hadis ini menunjukkan bahwa mengambil hak orang lain dengan cara yang tidak benar merupakan perbuatan serius, terlebih jika nama Allah digunakan untuk menguatkan kebohongan. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa saja menggunakan sumpah untuk meyakinkan orang lain demi memperoleh keuntungan. Padahal, tindakan tersebut bukan hanya merugikan pemilik harta, melainkan juga menjadi bentuk penyalahgunaan nama Allah demi kepentingan pribadi.
Dari pembahasan tentang sumpah dan dosa tersebut, Habib Ahmad kemudian menyampaikan nasihat mengenai musibah dan kelalaian manusia. Menurut beliau, musibah terbesar bagi seorang ahli maksiat bukanlah semata-mata bencana alam, kemiskinan, atau kesulitan fisik lainnya, melainkan ketika dirinya tidak lagi mendapatkan peringatan yang membuatnya sadar akan kesalahan.
Musibah dapat menjadi salah satu jalan bagi seseorang untuk menyadari kesalahannya dan kembali kepada Allah. Sebaliknya, ketika seseorang terus melakukan kemaksiatan tanpa menyadari kesalahannya, sementara kenikmatan dunia semakin bertambah, ia bisa terlena dan merasa seolah-olah tidak ada masalah dalam kehidupannya. Akibatnya, dosa yang dilakukan semakin menumpuk tanpa disertai keinginan untuk bertobat.
Keadaan tersebut dapat diibaratkan seperti penyakit berbahaya yang tidak menunjukkan gejala, tetapi terus berkembang hingga mengancam nyawa. Begitu pula kelalaian terhadap dosa. Ketika seseorang tidak lagi merasa perlu memperbaiki diri, ia berisiko terus berada dalam kesalahan hingga ajal menjemput. Nasihat ini mengajak kami untuk tidak hanya menilai keadaan berdasarkan banyak atau sedikitnya kenikmatan dunia, tetapi juga memperhatikan bagaimana hubungan kami dengan Allah.
Pada akhir kajian, kami kembali diingatkan untuk tidak menjadikan sumpah sebagai ucapan yang mudah dilontarkan. Sumpah atas nama Allah bukan perkara sepele, sebab setiap ucapan memiliki konsekuensi. Dalam keadaan tertentu, melanggar sumpah yang sah juga mengharuskan seseorang menunaikan kafarat, salah satunya dengan berpuasa selama tiga hari apabila tidak mampu memenuhi pilihan kafarat sebelumnya. Selain itu, sumpah yang tidak dijaga dapat merusak kepercayaan orang lain terhadap diri kita.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 77:
“Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga murah, mereka itu tidak memperoleh bagian di akhirat, Allah tidak akan menyapa mereka, tidak akan memperhatikan mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.”
Allah SWT juga berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 91:
“Dan tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu melanggar sumpah setelah diikrarkan, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”
Kedua ayat tersebut menegaskan pentingnya menjaga sumpah dan janji. Dari kajian sore itu, kami belajar bahwa nama Allah tidak sepatutnya digunakan untuk membenarkan kebohongan atau meraih keuntungan dunia. Karena itu, seorang Muslim perlu berhati-hati dalam berbicara, tidak mudah bersumpah, dan berusaha menepati setiap janji yang telah diucapkannya.