Ternyata Inilah Tantangan Utama Umat Kita Hari Ini!

Oleh: Annisa Nayla Rahma (Santriwati SMA At-Taqwa Depok, 16 Tahun)
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
gambar_artikel

Pembina At-Taqwa Depok, Dr. Adian Husaini, pada Ahad (9/8/26), tepatnya ba`da shalat Shubuh, menyampaikan tausiyah singkat di hadapan para santriwati untuk kedua kalinya. Ustadz Adian memfokuskan pembahasannya kepada salah satu penemuan ilmiah penting pemikir besar Islam, Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas (Almarhum), yang merumuskan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi umat Islam hari ini adalah tantangan ilmu. Yakni, ilmu yang rusak dan kacau (confusion of knowledge).

Merujuk ayat “al-fitnatu asyaddu minal qotl“, Ustadz Adian menegaskan, “Risiko dari peperangan ialah kematian, sedangkan fitnah atau kemusyrikan  jelas lebih berat daripada pembunuhan.” Kini, kemungkaran jenis ini semakin pelik sebab ia menyerang pandangan alam (worldview) Islam milik Muslim melalui ilmu-ilmu yang disebarkan oleh Peradaban Barat.

Memang benar bahwa hari ini kita sedang dilanda tantangan ilmu pengetahuan, sebuah tantangan terbesar yang belum pernah dialami manusia di masa-masa sebelumnya. Di zaman sekarang, nyatanya orang-orang yang memiliki kepintaran di atas rata-rata dan gelar pendidikannya yang tinggi justru sering didapati keliru dalam bernalar. Mereka berasal dari fakultas pendidikan Islam namun menuliskan disertasi bahwa ayat al-Qur`an tidaklah orisinal lagi sehingga syariat mampu diotak-atik untuk menyesuaikan zaman. Mereka memahami bagaimana tumbuh kembang dan psikologis manusia, namun di saat yang bersamaan turut mendukung gerakan LGBT dengan menganggap tindakan tersebut sebagai bentuk “anti-diskriminasi” terhadap para pengikutnya.

Masalah kekacauan ilmu ini adalah salah satu strategi Barat menyebarkan pandangan alamnya. Ilmu-ilmu yang mereka buat merupakan percampuran antara kebenaran (haq) dan kepalsuan (bathil). Alih-alih menemukan kebenaran, orang-orang yang mempelajari keilmuan dari Barat ini justru kian jauh dari pengenalan dirinya yang sejati. Layaknya pencari air yang kehausan, namun ia menemukan air kebenaran, air tersebut ditaburi garam kepalsuan yang membuatnya semakin haus namun tidak kerap memuaskannya. Mereka seumpama para pencari ilmu yang sejati, namun kebingungan terhadap kebenaran dalam ilmu dan tujuan pencariannya. Alhasil, orang-orang yang berilmu justru menciptakan kekacauan yang mereka seru sebagai solusi persoalan kini.

Maka benar yang dikatakan Prof. al-Attas, bahwa kejahilan orang yang menyatukan ilmu yang palsu dari yang sejati jauh lebih sukar dibenahi ketimbang kejahilan orang yang tidak menahu tentang sesuatu. Karena, upaya pemulihan yang mesti ditempuh tidak hanya melibatkan keadaan orang yang jahil dari kepalsuan, melainkan juga orang-orang yang menyetujui kejahilan yang ia sebarkan sebelumnya.

Oleh karenanya, Dr. Adian mengingatkan pentingnya peran seorang Muslim mengenai persoalan kekacauan ilmu (Confusion of Knowledge) yang terjadi hari ini. Upaya menjaga agama dari hal-hal yang membatalkan keimanannya. Sebab keimanan merupakan asas mendasar keadaan seorang muslim. Berbeda halnya dengan kedudukan shalat, manakala terbatal ia mampu diganti. Namun apabila iman telah batal (murtad), tiada seorang pun yang dapat menjamin dirinya untuk kembali. Mengutip kitab Sullam at-Taufiq, sekiranya ada tiga hal yang dapat membatalkan keyakinan seorang Muslim tanpa disadari;

1) Melalui keyakinan. Dalam kasus ini, seseorang bisa murtad walaupun hanya berdasarkan keimanan dari hati tanpa mengucapkan secara langsung atau dengan aksi. Semisal, ia tidak mengimani adanya nilai keabsahan al-Qur`an sebagai kalam Allah atau wahyu meskipun ia tetap mendengarkan murottal bahkan tetap menjalani shalat lima waktu setiap harinya.

2) Melalui perkataan. Contohnya adalah menyatakan hal yang haram menjadi halal, maupun sebaliknya, semisal membolehkan LGBT dengan alasan kedua pihak saling suka, inilah bukti orang yang kufur. Orang-orang kafir inilah yang disebut oleh Allah dalam QS. An-Nur (24): 39 sebagai orang-orang yang amal-amalnya laksana fatamorgana di tanah yang datar, “yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun.” Mereka menganggap kebaikan dari amalan-amalannya akan menghantarkannya ke surga, padahal jelas, bahwa mengimani Allah beserta rukun iman lainnya adalah kunci utama memasuki surga-Nya.

3) Melalui perbuatan. Seseorang yang dimaksud tidak lain ialah mereka yang dengan tegas mengakui kemurtadannya dengan pergi ke gereja, menginjak-injak al-Qur`an, dan lain-lain.

Akhirulkalam, selama kurang lebih setengah jam Dr. Adian menutup tausiyah singkatnya dengan mengingatkan para santri agar selalu meluruskan niat maupun tujuan dalam menuntut ilmu, yakni agar menjadi sosok yang mulia layaknya Nabi Muhammad sang suri tauladan, sosok yang membela kebenaran agama Islam

AT-TAQWA DEPOK
Jl. Usman Hasbi, RT.04 RW 04 Jatimulya, Cilodong - Depok
info@attaqwa.id
(+62)856 0980 9086