Di Pesantren Sidogiri, Mudir At-Taqwa Depok Jelaskan Islamic Worldview dan Kekeliruan Seputar Imam Al-Ghazali

Oleh: Nabil Abdurrahman (Mahasiswa STID Moh. Natsir, Alumni At-Taqwa Depok)
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
gambar_artikel

Mudir Pesantren At-Taqwa Depok, Dr. Muhammad Ardiansyah, menghadiri undangan sebagai salah satu pemateri Daurah Ramadhan Annajah Center (ACS) Sidogiri pada Ahad (16/03). ACS merupakan instansi di bawah naungan Pesantren Sidogiri yang menangani kajian paham dan amiliyah Ahlusunah wal Jamaah.

Daurah yang diampu ustadz Ardi –begitu sapaan akrabnya—berlangsung dalam dua sesi. Pada sesi pertama ia mengangkat judul “The Worldview of Islam dan Urgensinya dalam Menjaga Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.” Adapun yang kedua “Meluruskan Kesalahpahaman Tentang Imam Al-Ghazali: Masalah Hadits, Jihad, Sains, Keraguan, dan Pluralisme” 

Ayah dua anak tersebut mengutip pernyataan gurunya, yakni Dr. Adian Husaini, bahwa Islamic Worldview bukanlah ajaran baru dalam Islam. Islamic Worldview adalah satu rumusan ajaran-ajaran pokok dalam Islam yang formulasinya disesuaikan dengan tantangan zaman yang sedang dihadapi oleh kaum muslimin.

Akar dari Islamic Worldview adalah konsep-konsep kunci dalam agama Islam terkait dengan Tuhan, wahyu, alam, manusia, ilmu, kebebasan, nilai, kebaikan dan agama. Konsep-konsep kunci inilah yang kemudian membentuk kerangka cara pandang yang seharusnya sebagai seorang muslim, dalam memandang realita (al-wujud). Baik dalam memandang hal yang kongkrit/terindra, ataupun dalam memandang hal-hal abstrak seperti kebenaran, perubahan, perkembangan, dan kemajuan.

Aqidah Ahlus Sunnah sejak dulu telah menghadapi berbagai tantangan dalam sejarahnya hingga hari ini. Namun merujuk pandangan Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, bahwa tidak ada tantangan yang lebih merusak manusia daripada tantangan yang ditimbulkan oleh Peradaban Barat, khususnya masa ini. 

“But none perhaps more serious and destructive to man than todays challenge posed by Western Civilization,” ucapnya mengutip perkataan Prof. Naquib Al-Attas. 

Memasuki sesi kedua seputar Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghazali. Sebagai pemerhati dan pengkaji Al-Ghazali, ustadz Ardi memaparkan lima tuduhan yang ditujukan kepada sang imam. Di antaranya ialah kredibilitas Imam al-Ghazali dalam ilmu hadis, juga kitab Ihya Ulumiddin sebagai gudang hadits palsu. 

Baginya, ini pernyataan keliru dan sudah menjamur di sebagian masyarakat. Sebab faktanya, kalau kita menelisik kitab-kitab karya Imam al-Ghazali seperti Al-Mankhul dan Al-Mustashfa, Imam al-Ghazali sangat menguasai mushthalah hadits dan ilmu riwayah. 

Menurutnya, klaim bahwa kitab Ihya sebagai gudang hadis palsu tidak didasari penelitian. Al-Iraqi, ulama hadis ternama meneliti bahwa dari 5000 lebih hadis di kitab Ihya, hanya 300 yang belum ditemukan sanadnya. Penelitian itu dilanjutkan oleh Syekh Anas Al-Syarfawi, ulama Syiria ternama hari ini, dan hasilnya hanya tersisa 20 hadits yang sanadnya belum ditemukan. 

“Itu perbandingan yang sangat sedikit. Kita harus bersikap adil dan beradab pada ulama terlebih imam al-Ghazali yang memiliki kontribusi besar dalam umat,” ujarnya. 

Tuduhan lain atas sang imam khususnya yang muncul hari ini ialah sosoknya yang mengusung gagasan pluralisme. Ini ditulis secara gamblang oleh seorang Kyai bernama Husein Muhammad dalam buku “Mengaji Pluralisme Kepada Mahaguru Pencerahan.” 

Dalam buku itu ia mengatakan bahwa Imam al-Gahzali berusaha menawarkan gagasan pluralisme, inklusivisme, dan liberalismenya. Kesimpulan ini diperoleh dari sikap al-Ghazali yang memberi warning agar tidak mudah mengkafirkan, yang mana ini bisa berlaku terhadap pandangan pemeluk agama-agama lain. 

Menurut Ustadz Ardi kesimpulan tersebut terlalu sembrono dan amat tidak bertanggung jawab. Sebab, jika menulis dengan adil, Imam al-Ghazali dalam Faishal at-Tafriqah tegas membuat rumusan sederhana, “Setiap orang yang kafir itu mendustakan Rasulullah SAW, dan setiap yang mendustakan Rasulullah SAW adalah kafir”. Hal yang sama juga ditegaskan dalam buku yang lain seperti Al-Iqtishaad fil-Itiqaad. 

“Ini merupakan sikap yang tidak adil dan memaksakan,” ujar ustadz Ardi.

Dauroh ini diikuti oleh 122 peserta dari berbagai pondok pesantren di Jawa Timur, Madura, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Medan, Palembang, bahkan Kalimantan. Muhammad Zaki, salah seorang peserta mengungkapkan perasaan senang mengikuti dauroh di ACS, dari pematerinya yang memiliki kredibilitas tinggi hingga wawasan baru yang belum pernah diketahui.

AT-TAQWA DEPOK
Jl. Usman Hasbi, RT.04 RW 04 Jatimulya, Cilodong - Depok
info@attaqwa.id
(+62)856 0980 9086