Di Hadapan Ratusan Santri Tahfiz, Santri-Santri SMA At-Taqwa Depok Bahas Ahmadiyah, Islamofobia sampai Konsep Wali Allah
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
Tiga santri kelas 1 SMA Pesantren At-Taqwa Depok, pada Senin (6/4/26) presentasi makalah di Pesantren Tahfiz Al-Qur`an Imam Asy-Syafi`i, Bogor. Di antara mereka ada:
- Fatih Daanish (15 Tahun) dengan bertema “Pandangan Ihsan Ilahi Zhahir terhadap Konsep Kenabian dan Wahyu Ahmadiyah Al-Qadiyaniyah”.
- Hisyam Rajabi (15 tahun) dengan makalah “Kritik Imam Syamsi Ali Terhadap Islamofobia di Amerika: Studi Kasus 9/11 Di Amerika Serikat”;
- Abdurrahman Hanif (16 tahun) yang menulis makalah berjudul “Wali Allah Menurut Perspektif Ahlussunnah Wal Jamaah: Studi Keteladanan Syekh Abdul Qadir al-Jilani”;
Dalam presentasinya, Fatih menjelaskan berbagai kesesatan bahkan penghinaan Ahmadiyah terhadap agama Islam dengan merujuk kepada seorang tokoh besar Islam asal Pakistan, Dr. Ihsan Ilahi Zhahir.
Lewat dua buku Dr. Ihsan, Melacak Ideologi Ahmadiyah dan Mengapa Ahmadiyah Dilarang, Fatih memaparkan bahwa ada 3 kesesatan Ahmadiyah, secara spesifik Ahmadiyah Al-Qadiyaniyah:
1) Merumuskan konsep Tuhan dengan banyak sifat kemanusiaan;
2) Mengakui kenabian setelah Nabi Muhammad sehingga berujung pada kesesatan lainnya, yaitu penurunan wahyu oleh Malaikat Jibril.
3) Meyakini kota Qadian (India) sebagai kota suci, setara dengan Makkah dan Madinah
Permasalahan yang dibawa oleh Ahmadiyah, kata Fatih, “bukan sekedar khilafiyah madzhab fiqih atau-pun akidah, tapi sebenarnya telah mencapai dasar akidah yang bersifat ushul.” Jadi masalah ini harus dipahami oleh generasi muda Muslim supaya terjaga imannya di zaman penuh kebohongan ini.
Hisyam Rajabi menyajikan pembahasan yang masih begitu relevan dengan zaman sekarang, yakni Islamofobia di tengah masyarakat Barat. Ia mengangkat isu fenomena Islamofobia di Amerika Serikat (AS) terutama pasca peristiwa 11 September 2001 (9/11), serta solusi yang ditawarkan oleh tokoh besar Islam AS, Imam Shamsi Ali.
Barat, kata Hisyam, memposisikan Islam sebagai musuh yang harus ditakuti karena dua motif: agama dan peradaban. Puncaknya adalah tragedi 9/11, di mana umat Islam dituduh sebagai dalang terorisme atas hancurnya dua gedung World Trade Centre (WTC), sehingga umat Islam di AS ditakuti dan mendapat banyak persekusi.
Di tengah maraknya Islamofobia di AS, muncul seorang pendakwah ulung, alumni Pesantren Darul Arqam Gombara, Shamsi Ali. Sampai hari ini, ia terus berupaya membuktikan bahwa Islam adalah agama yang begitu cinta akan perdamaian, toleransi, dan kasih sayang. Tapi karena permainan media dan ketidaktahuan, akhirnya non-Muslim Barat mencitrakan Islam sebaliknya.
Imam Shamsi Ali berdakwah di AS sejak tahun 1997 dan beberapa diakui sebagai Muslim paling berpengaruh di dunia. Ia menyimpulkan bahwa di antara strategi untuk menyudahi Islamamofobia di dunia Barat adalah
- Manampilkan wajah Islam yang wasathiyah, tidak ekstrem melalui keteladanan
- Mengedepankan akhlak mulia ketimbang hanya kuat idealisme
- Membangun komunikasi yang baik dengan non-Muslim karena banyak dari mereka yang benci karena tidak tahu, bukan murni karena benci.
Abdurrahman Hanif mencoba untuk meluruskan kesalahpahaman anak muda Muslim hari ini tentang Wali Allah. Karena banyaknya konten media sosial yang nyeleneh, Wali Allah diragukan keberadaannya karena dianggap mempunyai kesaktian-kesaktian di luar nalar manusia.
Maka lewat makalahnya, Hanif menjelaskan konsep wali Allah sesungguhnya menurut akidah Ahlussunnah wal Jamaah, serta mencontohkannya melalui sosok Syekh Abdul Qadir al-Jilani. Ia menjelaskan bahwa kriteria utama wali Allah adalah Beriman, Bertakwa, Berpegang pada syariat dan konsisten menjalaninya.
Jadi, Wali Allah bertumpu pada ketaqwaan yang melampaui manusia biasa, bukan sekadar karomah atau fenomena luar biasa yang dialaminya. Di sinilah Syekh Abdul Qadir al-Jilani layak menjadi teladan. Karena begitu tingginya iman, akhlak mulia dan ketaatannya kepada Allah, ia sampai diakui sebagai sulthanul auliya` (pemimpin para wali)
Syekh Abdul Qadir al-Jilani pernah berkata dalam Al-Fath al-Rabbani bahwa, “Jika engkau melihat seseorang berjalan di atas air atau terbang di udara, jangan tertipu, hingga engkau lihat bagaimana ia menegakkan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya,” tegas Hanif
Ini adalah presentasi mereka tahap ketiga. Tahap pertama, di depan para guru pada Januari. Tahap kedua, di depan para santri, Maret lalu. Kali ini, giliran angkatan ke-8 yang melakukannya. Artinya, sudah delapan tahun At-Taqwa konsisten menerapkan kebijakan ini.
Selain tiga santri di atas, masih banyak lagi santri 1 SMA At-Taqwa yang akan presentasi makalah di sekolah dan pesantren di luar At-taqwa. Semoga makalah mereka bisa memberi manfaat luar bagi para generasi muda Muslim.
- Fatih Daanish (15 Tahun) dengan bertema “Pandangan Ihsan Ilahi Zhahir terhadap Konsep Kenabian dan Wahyu Ahmadiyah Al-Qadiyaniyah”.
- Hisyam Rajabi (15 tahun) dengan makalah “Kritik Imam Syamsi Ali Terhadap Islamofobia di Amerika: Studi Kasus 9/11 Di Amerika Serikat”;
- Abdurrahman Hanif (16 tahun) yang menulis makalah berjudul “Wali Allah Menurut Perspektif Ahlussunnah Wal Jamaah: Studi Keteladanan Syekh Abdul Qadir al-Jilani”;
Dalam presentasinya, Fatih menjelaskan berbagai kesesatan bahkan penghinaan Ahmadiyah terhadap agama Islam dengan merujuk kepada seorang tokoh besar Islam asal Pakistan, Dr. Ihsan Ilahi Zhahir.
Lewat dua buku Dr. Ihsan, Melacak Ideologi Ahmadiyah dan Mengapa Ahmadiyah Dilarang, Fatih memaparkan bahwa ada 3 kesesatan Ahmadiyah, secara spesifik Ahmadiyah Al-Qadiyaniyah:
1) Merumuskan konsep Tuhan dengan banyak sifat kemanusiaan;
2) Mengakui kenabian setelah Nabi Muhammad sehingga berujung pada kesesatan lainnya, yaitu penurunan wahyu oleh Malaikat Jibril.
3) Meyakini kota Qadian (India) sebagai kota suci, setara dengan Makkah dan Madinah
Permasalahan yang dibawa oleh Ahmadiyah, kata Fatih, “bukan sekedar khilafiyah madzhab fiqih atau-pun akidah, tapi sebenarnya telah mencapai dasar akidah yang bersifat ushul.” Jadi masalah ini harus dipahami oleh generasi muda Muslim supaya terjaga imannya di zaman penuh kebohongan ini.
Hisyam Rajabi menyajikan pembahasan yang masih begitu relevan dengan zaman sekarang, yakni Islamofobia di tengah masyarakat Barat. Ia mengangkat isu fenomena Islamofobia di Amerika Serikat (AS) terutama pasca peristiwa 11 September 2001 (9/11), serta solusi yang ditawarkan oleh tokoh besar Islam AS, Imam Shamsi Ali.
Barat, kata Hisyam, memposisikan Islam sebagai musuh yang harus ditakuti karena dua motif: agama dan peradaban. Puncaknya adalah tragedi 9/11, di mana umat Islam dituduh sebagai dalang terorisme atas hancurnya dua gedung World Trade Centre (WTC), sehingga umat Islam di AS ditakuti dan mendapat banyak persekusi.
Di tengah maraknya Islamofobia di AS, muncul seorang pendakwah ulung, alumni Pesantren Darul Arqam Gombara, Shamsi Ali. Sampai hari ini, ia terus berupaya membuktikan bahwa Islam adalah agama yang begitu cinta akan perdamaian, toleransi, dan kasih sayang. Tapi karena permainan media dan ketidaktahuan, akhirnya non-Muslim Barat mencitrakan Islam sebaliknya.
Imam Shamsi Ali berdakwah di AS sejak tahun 1997 dan beberapa diakui sebagai Muslim paling berpengaruh di dunia. Ia menyimpulkan bahwa di antara strategi untuk menyudahi Islamamofobia di dunia Barat adalah
- Manampilkan wajah Islam yang wasathiyah, tidak ekstrem melalui keteladanan
- Mengedepankan akhlak mulia ketimbang hanya kuat idealisme
- Membangun komunikasi yang baik dengan non-Muslim karena banyak dari mereka yang benci karena tidak tahu, bukan murni karena benci.
Abdurrahman Hanif mencoba untuk meluruskan kesalahpahaman anak muda Muslim hari ini tentang Wali Allah. Karena banyaknya konten media sosial yang nyeleneh, Wali Allah diragukan keberadaannya karena dianggap mempunyai kesaktian-kesaktian di luar nalar manusia.
Maka lewat makalahnya, Hanif menjelaskan konsep wali Allah sesungguhnya menurut akidah Ahlussunnah wal Jamaah, serta mencontohkannya melalui sosok Syekh Abdul Qadir al-Jilani. Ia menjelaskan bahwa kriteria utama wali Allah adalah Beriman, Bertakwa, Berpegang pada syariat dan konsisten menjalaninya.
Jadi, Wali Allah bertumpu pada ketaqwaan yang melampaui manusia biasa, bukan sekadar karomah atau fenomena luar biasa yang dialaminya. Di sinilah Syekh Abdul Qadir al-Jilani layak menjadi teladan. Karena begitu tingginya iman, akhlak mulia dan ketaatannya kepada Allah, ia sampai diakui sebagai sulthanul auliya` (pemimpin para wali)
Syekh Abdul Qadir al-Jilani pernah berkata dalam Al-Fath al-Rabbani bahwa, “Jika engkau melihat seseorang berjalan di atas air atau terbang di udara, jangan tertipu, hingga engkau lihat bagaimana ia menegakkan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya,” tegas Hanif
Ini adalah presentasi mereka tahap ketiga. Tahap pertama, di depan para guru pada Januari. Tahap kedua, di depan para santri, Maret lalu. Kali ini, giliran angkatan ke-8 yang melakukannya. Artinya, sudah delapan tahun At-Taqwa konsisten menerapkan kebijakan ini.
Selain tiga santri di atas, masih banyak lagi santri 1 SMA At-Taqwa yang akan presentasi makalah di sekolah dan pesantren di luar At-taqwa. Semoga makalah mereka bisa memberi manfaat luar bagi para generasi muda Muslim.