30 Guru Sekolah Alam Indonesia Cibinong Belajar Konsep Pendidikan Islam ke Pesantren At-Taqwa Depok

Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
gambar_artikel

Sebanyak 30 guru Sekolah Alam Indonesia (SAI) Cibinong, pada Senin (30/3/26), melakukan kunjungan ke Pesantren At-Taqwa Depok. Tujuan mereka, ingin mengetahui tentang prinsip dan hakikat pendidikan dalam Islam. Mulai dari masalah penanaman adab, budaya literasi, sampai orientasi belajar berupa dakwah atau perjuangan.

Pembina Pesantren At-Taqwa Depok Dr. Adian Husaini menerangkan kepada para guru SAI bahwa konsep pendidikan dalam Islam itu sudah baku sejak zaman Nabi Muhammad. Konsep itu yang dirumuskan oleh Sayyidina Umar bin Khathab: “Taaddabuu tsumma ta`allamuu” (beradab kemudian berilmu). 

Konsep pendidikan itu pun juga telah diterapkan oleh lembaga pendidikan asli Indonesia, pondok pesantren. Sebelum penjajah datang, pesantren sudah berdiri dan menjadi pusat pendidikan bagi rakyat muslim Indonesia. 

Kalau di masa Nabi konsep pendidikan itu berhasil melahirkan generasi terbaik (Sahabat), di Indonesia konsep itu juga telah melahirkan generasi unggul (santri) yang berhasil mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Jadi, kata Ustadz Adian, substansi pendidikan adalah adab dan ilmu. Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas menyebutnya sebagai Ta`dib. 

Pendidikan harus ber-visi akhirat dan fokus bukan semata-mata untuk kebutuhan dunia. Pendidikan harus fokus melahirkan manusia baik (good man) yang cinta ilmu dan perjuangan, bukan semata-mata melahirkan para pekerja yang berorientasi pada status sosial dan gaji. 

Usatdz Adian menjelaskan, supaya penanaman adab bisa maksimal, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) harus diubah konsepnya, tidak hanya di dalam kelas. KBM harus dikonsepkan sebagai pendidikan 24 jam, mulai dari anak bangun tidur sampai tidur lagi. 

“Doa mau tidur dan bangun tidur, dzikir kepada Allah, itu masuk KBM. Shalat tahajud, cara makan, mandi, dan lainnya, juga merupakan pendidikan. Begitu pula dalam menumbuhkan budaya literasi, tidak bisa sambilan,” jelas Usatadz Adian. 

Karenanya, menurut Ustadz Adian, sistem pendidikan pesantren yang 24 jam, menjadi begitu relevan di zaman sekarang, apalagi ketika menghadapi generasi yang ketergantungan dengan smartphone. Terlebih lagi, di pesantren, interaksi langsung antara murid dengan guru, bisa lebih intensif. 

Sebagaimana supaya beradab butuh ilmu, maka untuk menanamkan adab kepada murid pun butuh ilmu. Bahkan tidak hanya ilmu, tapi juga hikmah. Lukman sukses mendidik anaknya karena memperoleh hikmah dari Allah. Ia tahu adab apa saja yang perlu ditanamkan terlebih dahulu kepada anaknya: mentauhidkan Allah, beradab kepada orang tua, amar ma`ruf nahi munkar, menegakkan shalat, tidak sombong.

Mudir Pesantren At-Taqwa Depok, Dr. Muhammad Ardiansyah menambahkan bahwa konsep adab harus dipahami secara komprehensif sebagaimana yang dipahami oleh Prof. Al-Attas. Adab adalah right action, tindakan yang benar berdasarkan ilmu yang benar. 

Orang yang beradab, adalah orang yang tahu hakikat dan tempat segala sesuatu sesuai dengan ketentuan Allah, kemudian mengamalkannya sesuai dengan pengetahuannya itu. Jadi, adab bukan sekadar sopan santun. 

Salah satu adab paling penting adalah adab kepada ilmu. Setiap guru harus tahu hirarki ilmu, bahwa ilmu itu ada yang fardhu `ain dan fardu kifayah. Sehingga ia tidak salah memprioritaskan ilmu kepada murid-muridnya. 

Karena fokus pendidikan adalah penanaman adab, maka prosesnya tidak bisa instan. pendidikan bukan seperti pabrik yang dapat mencetak produk yang sama dalam waktu cepat. Dalam pendidikan yang dididik adalah manusia yang memiliki jiwa dan kapasitas akal yang berbeda. 

Tidak semua akan mempunyai keahlian yang sama, tapi semua bisa menjadi manusia baik. Orientasinya adalah menjadi manusia bermanfaat. Ilmu yang dipelajari membawa manfaat bagi masyarakat. 

Sekjen Pesantren At-Taqwa Depok Dr. Suidat juga menambahkan, di antara bentuk konkreat adab ilmu adalah dalam penyusunan kurikulum. Ilmu yang disusun harus sesuai hierarki dan ilmu-ilmunya tidak boleh salah (confuse), meskipun ia menyangkut ilmu-ilmu umum seperti sejarah.

Dua ilmu itu secara serius diajarkan di At-Taqwa. Materi keduanya, kata Ustadz Suidat, begitu diperhatikan oleh guru-guru di At-Taqwa. Jangan sampai sejarah yang diajarkan tidak menumbuhkan kebanggaan dalam diri santri, materi Sejarah Peradaban Islam di Indonesia. 

“Jadi, ilmu-ilmu yang hendak diajarkan harus dilihat dalam perspektif Islam (tauhid). Hal ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari adab,” ucap Dr. Suidat.

AT-TAQWA DEPOK
Jl. Usman Hasbi, RT.04 RW 04 Jatimulya, Cilodong - Depok
info@attaqwa.id
(+62)856 0980 9086