Pemikiran Prof. Al-Attas Elitis dan Tidak Aplikatif?

Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
gambar_artikel

Sebagian orang beranggapan bahwa pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas terlalu “melangit” dan kurang aplikatif.

Dalam Saturday Night Lecture (SNL) pada Sabtu, 4 April kemarin, pandangan dualistis ini dibantah oleh Wan Mohd Nor Wan Daud, sosok yang merupakan pemegang pertama kursi Pemikiran Prof. Al-Attas di RZS CASIS UTM.

Ia menjelaskan bahwa karya-karyanya seperti The Beacon on the Crest of A Hill (1991) dan The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib Al-Attas (1998) justru menunjukkan bahwa gagasan Al-Attas memang sangat tinggi tetapi telah memiliki dimensi praktis yang kuat, khususnya dalam bidang pendidikan dan pembentukan peradaban. 

Hal ini dibuktikan dengan jelas di ISTAC dan diakui dunia. Pendidikan, dalam kerangka Al-Attas, bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi pembentukan adab dalam diri pelajar, dosen, birokrasi, serta lingkungan kampus dan persekitaran—dan itu adalah kerja praksis yang paling mendasar.

Prof. Wan juga mengibaratkan kritik tersebut sebagai satu penghinaan pada karya keilmuan tahap tinggi, seperti menuduh Aristotle atau Plato hanya berteori, atau mengatakan Albert Einstein tidak memberi dampak nyata. Padahal, justru rumusan ide mereka telah membentuk cara manusia berpikir, bertindak, bahkan membangun dunia. Ide yang tampak “jauh” sering kali justru menjadi fondasi bagi tindakan yang “dekat”.

Pertanyaan pentingnya: mengapa hanya Prof. Al-Attas yang kerap dianggap “elitis”, seolah-olah sifat tinggi itu sesuatu yang negatif, padahal dalam tradisi Islam dikenal konsep penting al-khawass dan khawass al-khawass. Inilah yang disayangkan oleh muridnya, Prof. Wan. Ketika sebagian bangsanya sendiri kurang memberi perhatian serius, negara-negara seperti AS, Rusia, Turki, dan Iran justru mengkaji pemikirannya dengan sungguh-sungguh. Sangat ironi dan berbahaya.

Penjelasan lain datang dari Rizky, alumnus CASIS: bahwa inti pemikiran Al-Attas adalah membenahi cara pandang dan bukan terjebak dalam perdebatan disiplin tertentu. Dan di situlah letak praksis yang sebenarnya. Sebab tindakan selalu lahir dari cara kita memandang realitas.

Seseorang yang tidak mampu membayangkan “kursi” dengan benar dalam pikirannya, tidak akan mampu membuat kursi yang benar di dunia nyata. Demikian pula, cara pandang yang keliru akan melahirkan tindakan yang keliru. Maka memperbaiki cara pandang bukan sekadar kerja teoretis—ia adalah fondasi dari seluruh tindakan praktis.

Misalnya, jika seseorang memahami manusia hanya sebagai jasad, maka seluruh orientasi hidupnya akan berhenti pada pemenuhan kebutuhan fisik semata.

Atau ketika seseorang keliru memahami hakikat manusia sebagai hamba, ia bisa memandang peran domestik—seperti mengurus rumah dan mendidik anak—sebagai bentuk ketidakadilan, bukan sebagai bagian dari amanah dan ibadah.

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa krisis terbesar sering kali bukan pada tindakan, melainkan pada cara melihat. Dan ketika cara pandang telah lurus, tindakan yang benar akan lebih mudah mengikuti.

Pada akhirnya, membenahi cara pandang adalah salah satu bentuk kerja nyata yang paling mendasar, meskipun tidak selalu tampak kasatmata.

Jika pemikiran Al-Attas dianggap “terlalu tinggi”, boleh jadi persoalannya bukan pada ketinggian itu sendiri, melainkan pada keterbatasan kita dalam menjangkaunya. Sebab tidak semua yang tampak “melangit” itu jauh dari bumi—terkadang, justru dari sanalah arah pijakan kita ditentukan.

AT-TAQWA DEPOK
Jl. Usman Hasbi, RT.04 RW 04 Jatimulya, Cilodong - Depok
info@attaqwa.id
(+62)856 0980 9086