CICIT HAMKA, SANTRI SMA AT-TAQWA DEPOK JADI PEMATERI UTAMA SEMINAR LITERASI DI ALAZKA

Oleh:
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
gambar_artikel

Farrel Ahmad Wijaksana (18 Tahun), santri SMA Pesantren  At-Taqwa Depok, menjadi pemateri utama dalam seminar literasi di Perguruan Al-Azhar Kelapa Gading (Alazka). Seminar itu berlangsung Senin (12/1/2026), bertajuk  “Bincang Literasi dan Riset“.

Seminar dihadiri oleh siswa tingkat SD Kelas 5-6 (15 siswa), SMP (25 siswa), SMA (30 siswa) beserta beberapa petinggi Yayasan, Kepala Sekolah,  dan beberapa guru. Perguruan Alazka memiliki murid sekitar 1700 orang, mulai TK-SMA, dan berumur lebih dari 30 tahun.

Acara dimulai dengan pemaparan Farrel AW tentang pentingnya budaya literasi dalam kehidupan. Farrel merupakan santri yang cukup produktif menulis.

Cicit Buya Hamka ini, telah menulis lebih dari 50 artikel.

“Membaca, menulis, dan berbicara adalah literasi. Ketiga hal ini membutuhkan berfikir, di mana berfikir adalah yang membuat kita berbeda dengan makhluk Allah lainnya,“ kata Farrel.

Mengutip Imam al-Ghazali dan Socrates, Farrel menegaskan pentingnya hidup dengan ilmu dan berfikir. Ia juga mengutip ayat “iqra bismi rabbikalladzi khalaq” dan tafsiran Buya Hamka sebagai penguat argumennya. “Membaca adalah landasan peradaban ilmu pengetahuan,” tegasnya.

Farrel kemudian menjelaskan secara ringkas bahwa ayat-ayat Allah terbagi menjadi dua: ayat qauliyyah dan ayat kauniyyah. Kedua-duanya sama; merupakan tanda bagi adanya Allah yang Maha Kuasa yang harus dipahami. “Untuk memahaminya, kita harus pintar membaca!“ lanjutnya lagi.

Setelah menguraikan tentang kedudukan literasi dalam Islam, Farrel memberikan pernyataan tegas bahwa: “MEMBACA BUKU YANG TEPAT tepat membantu kita menjadi orang yang lebih baik. Bukan hanya buku motivasi!“

Jadi, simpul Farrel, “Literasi adalah memahami dunia. Oleh karena itu, literasi tidak boleh ditinggalkan. Tapi jangan lupa, literasi bukan berarti melahirkan kutu buku; yang banyak membaca tapi tidak memberikan manfaat. Untuk itu, literasi harus berdasarkan semangat berfikir yang menghasilkan membaca, menulis, dan berbicara. Ketiganya tidak boleh dipisah.“

Dalam seminar yang berlangsung lebih dari 2 jam itu, banyak pertanyaan diajukan kepada Farrel, baik oleh guru maupun siswa SMP dan SMA. Kebanyakan bertanya tentang kiat membangun budaya literasi.

Nama Farrel AW mulai dikenal luas setelah pada November 2025 meluncurkan bukunya yang berjudul “Hamka dan Westernisasi Indonesia” di Rumah Hamka Malaysia. (https://pwmu.co/ketokohan-buya-hamka-bersinar-kembali-melalui-tulisan-sang-cicit/#google_vignette).

Ketika itu, Farrel termasuk salah satu dari 40 pelajar SMA yang akan mempresentasikan makalahnya di Malaysia. Makalah Farrel berjudul: “Western Tragedy in Popular Postmodern Literature: A Critique Based On Al-Attas Islamic Worldview” di kampus Universiti Teknologi Malaysia.

Sudah beberapa kali Farrel mempresentasikan makalah-makalahnya. Pada 19 Mei 2025, ia mempresentasikan makalahnya berjudul “Achieving Perfection Through Islamic Education“  di Masjid Salman ITB, Bandung.

Tahun 2024, Farrel juga mempresentasikan makalahnya di Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir (STID M Natsir) Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Makalahnya ia beri judul: “Hamka dan Barat: Respon Hamka terhadap Pembaratan Indonesia.”           

Sebagai santri Pesantren At-Taqwa Depok, Farrel mendapat tempaan budaya literasi tinggi. Seperti teman-teman santrinya, di kelas 1 SMA, ia harus menulis makalah dan mempresentasikannya sebanyak empat kali: di depan guru pembimbing, di depan santri-santri, di depan orang tua, dan di pesantren atau sekolah lainnya.

Para santri itu dilatih kemampuan berpikir secara ilmiah sejak dini. Mereka harus banyak membaca, berdiskusi, menulis, dan mempresentasikan tulisannya. Pesantren At-Taqwa Depok dikenal sebagai pesantren adab dan literasi. (https://attaqwa.id/profil). (Humas Ponpes At-Taqwa Depok).

AT-TAQWA DEPOK
Jl. Usman Hasbi, RT.04 RW 04 Jatimulya, Cilodong - Depok
info@attaqwa.id
(+62)856 0980 9086