Ramadhan dan Berjihad Melawan Hawa Nafsu di Tengah Krisis Peradaban

Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
gambar_artikel

Pembina Pesantren At-Taqwa Depok Dr. Adian Husaini, pada Senin (16/2/26), menyampaikan tausiyah untuk menyambut bulan Ramadhan. Tausiyah tersebut mengangkat tema  “Jihad Peradaban di Bulan Ramadhan.” Materi dalam tema ini menarik karena jarang sekali dibahas oleh mayoritas orang. Di samping itu, materi ini disampaikan berdasarkan realita terkini, di mana peradaban dunia saat ini sedang tidak tentu arahnya sehingga umat Islam wajib memperjuangkan perbaikan.

Ustadz Adian mengatakan, dewasa ini, dunia sedang dikuasai oleh Peradaban Barat, peradaban yang menurut Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas tengah menyihir pikiran umat manusia untuk “memanusiakan Tuhan dan menuhankan manusia”. Kini, kata Ustadz Adian, manusia modern tampak begitu menuhankan akal dan hawa nafsunya. 

“Menurut mereka, kalau manusia mau bahagia, maka nafsu harus dituruti, syahwat harus dilepas, jangan dikekang,” ucap Ustadz Adian. 

Akibatnya, yang pertama, adalah rusaknya tujuan utama hidup manusia, yakni untuk beribadah kepada Allah (QS. 51: 56), menjadi Khalifah Allah (QS. 2: 30), dan mencari kebahagiaan di akhirat tanpa melupakan dunia (QS. 28: 77). Mereka cenderung memuja dunia, sibuk melampiaskan syahwatnya, entah dengan makan-makan semaunya ataupun bersenang-senang (QS. 47: 12)

Akibat kedua, hidup bebas tanpa aturan agama dan Tuhan. Menurut mereka, aturan agama adalah suatu pengekangan yang membuat manusia tidak berkembang dan bahagia. Jadi, manusia harus bebas melakukan apa yang mereka inginkan. Akhirnya, sebagaimana firman Allah, mereka tidak jauh berbeda bahkan lebih rendah dari hewan ternak:

“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah” (QS. 7: 179).

Begitulah peradaban yang enggan diatur Tuhan. Kehidupan masyarakatnya hanya berpindah-pindah dari satu syahwat ke syahwat yang lain. Ratusan tahun, dunia ini dipimpin oleh peradaban syahwat dan nyatanya, dunia tidak tambah baik. Alam semesta dirusak. Alkohol dibudayakan. Zina dan homoseksual disulap menjadi boleh dan legal, atas dasar “suka sama suka”. 

Kini, nyatanya juga, peradaban sekular dan liberal yang tengah memimpin dunia itu, gagal menunaikan janjinya untuk mewujudkan tiga hal: peace (perdamaian), prosperity (kemakmuran), justice (keadilan). Terbunuhnya 70 ribu lebih warga Gaza hari ini jelas membuktikan kegagalan itu. 

“Tidak mau diatur Tuhan dan melepaskan syahwat, ternyata tidak benar-benar membahagiakan. Bahkan untuk diri mereka sendiri pun, meskipun punya banyak materi dunia, kebahagiaan tidak benar-benar hadir. Saking tidak bahagianya, untuk tidur pun sulit,” ucap Ustadz Adian. 

Peradaban Barat jelas banyak menyebarkan paham yang tidak sesuai dengan agama Islam. Pasalnya, dalam Islam, untuk menjalani kehidupan, manusia harus berpedoman pada aturan Sang Pencipta. Hak untuk menentukan yang halal dan haram, salah dan benar, merupakan hak Allah, Tuhan semesta alam, bukan pada manusia. Karenanya, dalam pandangan Islam, menuruti hawa nafsu semaunya, merupakan suatu perbuatan yang tidak mulia dan merugikan diri sendiri serta orang lain. 

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, dalam kitabnya Zaadul Ma`ad, memposisikan jihad melawan hawa nafsu pada posisi yang penting. Dalam Islam, semakin pandai manusia mengontrol nafsu, semakin mulialah derajatnya. Karena, orang yang paling mulia adalah mereka yang bertaqwa (QS. 49: 13) dan taqwa dapat diraih salah satunya dengan mengontrol hawa nafsu. Orang bertaqwa adalah orang yang hatinya bersih. Merekalah orang-orang yang tegaskan sebagai para pemenang (QS. 91: 9).

Dalam pandangan Islam, jiwa adalah hakikat manusia. Buya Hamka, dalam bukunya, Pribadi Hebat, mengutip sebuah pepatah Arab yang menyatakan: “Aqbil `alan nafsi wastakmil fadhailaha, Fa-anta bin nafsi la biljismi insanun.” Artinya, “Hadapkan perhatianmu pada jiwa, dan sempurnakanlah keutamaan-keutamaannya.   Sebab karena jiwamu — dan bukan karena badanmu - kamu disebut insan.”

Apakah hubungan antara bulan Ramadhan dan jihad peradaban? Seperti yang sudah umum diketahui bahwa bulan Ramadhan adalah bulan mulia. Selama menjalaninya, Allah perintahkan umat Islam untuk berpusa dan memperbanyak amalan baik. Singkatnya, Allah perintahkan kita untuk berjihad melawan hawa nafsu, mengendalikan syahwat, membersihkan hati. 

Di sisi lain, Ramadhan merupakan salah satu kelanjutan misi besar Rasulullah: tilawah, tazkiyah dan ta`lim (QS. 62: 2), memperbanyak membaca Al-Qur`an, menyucikan diri dan belajar. Dengan menerapkan ketiga aspek tersebut selama bulan Ramadhan, umat Islam akan benar-benar terdidik jiwanya, kemudian menjadi pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya.

Dengan menyadari bahwa dunia kini sedang dikuasai oleh Peradaban Barat yang menuhankan akal dan nafsunya dan begitu memuja syahwat, umat Islam memiliki kewajiban untuk memperbaikinya. Yaitu dengan membuktikan pada mereka bahwa pengekangan hawa nafsu atas dasar syari`at Allah jauh lebih baik daripada selalu menurutinya. Pembuktian tersebut dapat dioptimalkan melalui serangkaian ibadah dan aktivitas keilmuan di bulan Ramadhan yang muaranya adalah kebersihan hati dan kebahagiaan hakiki.  

*

Editor: Fatih Madini (Guru Pesantren At-Taqwa Depok)

AT-TAQWA DEPOK
Jl. Usman Hasbi, RT.04 RW 04 Jatimulya, Cilodong - Depok
info@attaqwa.id
(+62)856 0980 9086