Rahasia Ketenangan Jiwa dalam Al-Qur`an
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
Guru Psikologi Islam Pesantren At-Taqwa Depok, Dr. Rahmatul Husni, pada Sabtu (21/2/), mengisi seminar bertajuk “Mencari Ketenangan di Bulan Ramadhan” di At-Taqwa. Ustadzah yang juga menjadi dosen di Universitas Ibnu Khaldun Bogor (UIK) ini, mengawali pembahasannya dengan membacakan penggalan dari QS. Ar-Ra`d ayat 28: “ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang.”
Ustadzah Rima—begitu kami kerap memanggilnya—mengajak para santri untuk mendefinisikan kata tenang ini. “Bagaimana kita mencari sesuatu yang tidak kita ketahui maknanya?” tanyanya. Beberapa santri menjawab dengan antusias bahwa tenang adalah diam, menerima dan menyesuaikan diri.
Ia menjelaskan, Peradaban Barat mendefinisikan kata tenang (calm) dengan analogi angin. Dan ibarat air, ia tidak memiliki riak ataupun ombak. Namun ternyata, kata Ustadzah Rima, Al-Qur`an telah memberikan pengertian yang jauh lebih tepat. Setidaknya, terdapat empat sinonim dari kata tenang di dalam Al-Qur`an.
Kata pertama adalah “sakinah” yang tercantum dalam Q.S. Al-Fath ayat 4. Merujuk pada latar belakang turunnya ayat ini yakni saat terjadinya pemboikotan terhadap kaum muslimin, kata sakinah bermakna ketenangan jiwa yang Allah berikan di saat genting. Kini, ayat tersebut relevan dengan kaum muslimin di Palestina yang memiliki ketenangan tingkat tinggi di tengah teror dan penjajahan Israel.
Kata Kedua, lanjut Ustadzah Rima, “muthmainnah” yang tersebut dalam Q.S. Al-Fajr ayat 27. Dalam ranah tasawuf, ini merupakan tingkat tertinggi dari jiwa seorang manusia, karena ia merasa ridha kepada Allah dan Allah pun ridha padanya. Ia menyimpulkan bahwa ridha berhubungan dengan rela dalam menerima ujian. Hal ini menunjukkan bahwa ketenangan tidak bisa didapatkan tanpa melewati latihan dalam bentuk cobaan yang datang di hidupnya.
Kata ketiga, “thuma`ninah” atau “tathma`innu” sebagaimana yang dinukil dari ayat yang telah disebut di awal seminar. Ustadzah Rima menjelaskan, ia adalah kata kerja yang menunjukkan sebuah proses hati untuk menjadi tenang. Terakhir adalah kata “aman” pada QS. Al-An`am ayat 82 yang berarti terbebas dari ketakutan dan bahaya.
Selain itu, Ustadzah Rima juga menguraikan sebab-sebab kegelisahan yang harus dijauhi untuk mendapatkan ketenangan, di antaranya: syubhat, syahwat dan maksiat. Kalau ketiganya sering dilakukan, sadar atau tidak, jiwa akan sulit meraih ketenangan yang hakiki.
Ustadzah Rima—begitu kami kerap memanggilnya—mengajak para santri untuk mendefinisikan kata tenang ini. “Bagaimana kita mencari sesuatu yang tidak kita ketahui maknanya?” tanyanya. Beberapa santri menjawab dengan antusias bahwa tenang adalah diam, menerima dan menyesuaikan diri.
Ia menjelaskan, Peradaban Barat mendefinisikan kata tenang (calm) dengan analogi angin. Dan ibarat air, ia tidak memiliki riak ataupun ombak. Namun ternyata, kata Ustadzah Rima, Al-Qur`an telah memberikan pengertian yang jauh lebih tepat. Setidaknya, terdapat empat sinonim dari kata tenang di dalam Al-Qur`an.
Kata pertama adalah “sakinah” yang tercantum dalam Q.S. Al-Fath ayat 4. Merujuk pada latar belakang turunnya ayat ini yakni saat terjadinya pemboikotan terhadap kaum muslimin, kata sakinah bermakna ketenangan jiwa yang Allah berikan di saat genting. Kini, ayat tersebut relevan dengan kaum muslimin di Palestina yang memiliki ketenangan tingkat tinggi di tengah teror dan penjajahan Israel.
Kata Kedua, lanjut Ustadzah Rima, “muthmainnah” yang tersebut dalam Q.S. Al-Fajr ayat 27. Dalam ranah tasawuf, ini merupakan tingkat tertinggi dari jiwa seorang manusia, karena ia merasa ridha kepada Allah dan Allah pun ridha padanya. Ia menyimpulkan bahwa ridha berhubungan dengan rela dalam menerima ujian. Hal ini menunjukkan bahwa ketenangan tidak bisa didapatkan tanpa melewati latihan dalam bentuk cobaan yang datang di hidupnya.
Kata ketiga, “thuma`ninah” atau “tathma`innu” sebagaimana yang dinukil dari ayat yang telah disebut di awal seminar. Ustadzah Rima menjelaskan, ia adalah kata kerja yang menunjukkan sebuah proses hati untuk menjadi tenang. Terakhir adalah kata “aman” pada QS. Al-An`am ayat 82 yang berarti terbebas dari ketakutan dan bahaya.
Selain itu, Ustadzah Rima juga menguraikan sebab-sebab kegelisahan yang harus dijauhi untuk mendapatkan ketenangan, di antaranya: syubhat, syahwat dan maksiat. Kalau ketiganya sering dilakukan, sadar atau tidak, jiwa akan sulit meraih ketenangan yang hakiki.