[Catatan Rihlah Ilmiah & Sejarah #3] Belajar dari Jejak Sejarah Lawang Sewu
Oleh: Khadeeja Farah Dewandaru (Santri SMP At-Taqwa Depok, 14 tahun)
Artikel Ilmiah
Liputan Kegiatan
Semarang, 17 Oktober 2026 — Setelah singgah di Masjid Agung Jawa Tengah pada pagi yang cerah, kami melanjutkan perjalanan menuju Lawang Sewu, bangunan bersejarah yang dahulu menjadi kantor perusahaan kereta api Hindia Belanda.
Didampingi Bapak Hadi sebagai pemandu, kami mendapat banyak pengetahuan baru tentang bangunan bersejarah ini. Beliau, yang akrab kami panggil Mbah, tidak hanya menjelaskan sejarah dan kekokohan bangunannya, tetapi juga mengajak kami melihat hal-hal lain yang bisa dipelajari dari rancangan arsitektur peninggalan Belanda tersebut.
Melihat Lawang Sewu yang masih berdiri kokoh hingga hari ini, kita bisa merenungkan betapa jauhnya pemikiran para arsitek terdahulu. Bangunan yang mereka rancang bukan hanya untuk dinikmati pada zamannya, tetapi juga agar tetap bisa dirasakan manfaatnya oleh generasi setelahnya.
Perhatian mereka tidak berhenti pada keindahan, tetapi juga mencakup ketahanan, kenyamanan, dan kemanfaatan bangunan dalam jangka panjang. Perencanaan yang matang tentu dapat menghemat waktu dan tenaga di kemudian hari. Sayangnya, hal-hal semacam ini terkadang luput dari perhatian dalam pembangunan masa kini.
Bagi kami, kunjungan ke Lawang Sewu bukan sekadar perjalanan untuk mengenal bangunan bersejarah, tetapi juga kesempatan untuk belajar dari masa lalu. Dari penjelasan Mbah, kami diajak memahami bahwa di balik bangunan yang masih berdiri kokoh hingga hari ini, ada pemikiran dan perencanaan panjang yang patut dipelajari.
Sebagai santri, perjalanan ini mengajarkan kami bahwa belajar tidak selalu harus melalui buku dan ruang kelas. Terkadang, sejarah yang kami saksikan secara langsung justru memberi pemahaman yang lebih luas. Sebab, mengenal masa lalu bukan berarti terus terpaku padanya, melainkan mengambil pelajaran untuk melangkah lebih baik di masa depan.
Didampingi Bapak Hadi sebagai pemandu, kami mendapat banyak pengetahuan baru tentang bangunan bersejarah ini. Beliau, yang akrab kami panggil Mbah, tidak hanya menjelaskan sejarah dan kekokohan bangunannya, tetapi juga mengajak kami melihat hal-hal lain yang bisa dipelajari dari rancangan arsitektur peninggalan Belanda tersebut.
Melihat Lawang Sewu yang masih berdiri kokoh hingga hari ini, kita bisa merenungkan betapa jauhnya pemikiran para arsitek terdahulu. Bangunan yang mereka rancang bukan hanya untuk dinikmati pada zamannya, tetapi juga agar tetap bisa dirasakan manfaatnya oleh generasi setelahnya.
Perhatian mereka tidak berhenti pada keindahan, tetapi juga mencakup ketahanan, kenyamanan, dan kemanfaatan bangunan dalam jangka panjang. Perencanaan yang matang tentu dapat menghemat waktu dan tenaga di kemudian hari. Sayangnya, hal-hal semacam ini terkadang luput dari perhatian dalam pembangunan masa kini.
Bagi kami, kunjungan ke Lawang Sewu bukan sekadar perjalanan untuk mengenal bangunan bersejarah, tetapi juga kesempatan untuk belajar dari masa lalu. Dari penjelasan Mbah, kami diajak memahami bahwa di balik bangunan yang masih berdiri kokoh hingga hari ini, ada pemikiran dan perencanaan panjang yang patut dipelajari.
Sebagai santri, perjalanan ini mengajarkan kami bahwa belajar tidak selalu harus melalui buku dan ruang kelas. Terkadang, sejarah yang kami saksikan secara langsung justru memberi pemahaman yang lebih luas. Sebab, mengenal masa lalu bukan berarti terus terpaku padanya, melainkan mengambil pelajaran untuk melangkah lebih baik di masa depan.