[Catatan Rihlah Ilmiah & Sejarah #2] Menerima Taqdir, Memahami Keadilan Allah: Kultum Subuh Masjid Agung Jawa Tengah Semarang
Oleh: Aghna Aiesha (Santri SMP At-Taqwa Depok, 15 Tahun)
Artikel Ilmiah
Liputan Kegiatan
Semarang, 17 Oktober 2026 — Setelah melaksanakan shalat Shubuh di Masjid Agung Semarang, santri At-Taqwa Angkatan 10 mengikuti ratiban yang dipimpin oleh Ustadz Yusuf. Kegiatan ini menjadi rutinitas pagi selama 40 hari pelaksanaan Rihlah Pandaan, sebagai bekal spiritual sebelum menjalani berbagai aktivitas. Setelah ratiban, kegiatan dilanjutkan dengan kuliah tujuh menit (kultum) yang disampaikan oleh Ustadz Rizwan.
Dalam kultumnya, Ustadz Rizwan menyampaikan nasihat tentang keadilan Tuhan sekaligus menjawab pertanyaan seorang santriwati mengenai persoalan tersebut. Beliau kemudian menceritakan pengalamannya ketika pernah mengajukan pertanyaan serupa kepada gurunya, Syeikh Bilal. Namun, pertanyaan yang beliau ajukan lebih khusus, yakni bagaimana cara menerima takdir yang buruk.
Syeikh Bilal memberikan jawaban singkat, tetapi sarat makna. Beliau menyampaikan bahwa orang Islam sangat beruntung karena ketika ditimpa musibah, ia bersabar, sedangkan ketika memperoleh kenikmatan, ia bersyukur.
Persoalan takdir dan keadilan memang kerap mengusik pikiran manusia. Mengapa takdir setiap orang berbeda? Mengapa kehidupan tidak selalu berjalan adil menurut pandangan kita? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sering muncul ketika seseorang menilai kehidupan hanya dari aspek materi. Padahal, keadilan tidak selalu berarti kesetaraan dalam bentuk yang tampak di hadapan manusia.
Allah Maha Adil. Namun, ketika melihat kenyataan bahwa kaum Muslimin pun tidak selalu memperoleh kemenangan dalam peperangan, sebagian orang mungkin bertanya-tanya: di manakah letak keadilan Allah? Ustadz Rizwan mengingatkan bahwa keadilan Allah tidak dapat diukur hanya berdasarkan apa yang terjadi di dunia. Ada kehidupan akhirat yang menjadi tempat manusia menerima balasan atas segala perbuatannya.
Karena itu, tugas manusia, khususnya generasi muda saat ini, adalah melatih keimanan agar memiliki prinsip yang kuat dan benar. Prinsip tersebut perlu tumbuh dari keyakinan yang kokoh, bukan sekadar mengikuti pandangan orang lain. Dengan begitu, ketika menghadapi berbagai keadaan, seseorang dapat memandang dan menyikapinya dengan benar berdasarkan keimanan.
Sebaliknya, keimanan yang tidak dilatih dapat membuat seseorang mudah terpengaruh oleh pandangan dan keadaan yang menyesatkan. Ustadz Rizwan juga mengingatkan bahwa Allah mengetahui setiap perbuatan manusia. Oleh sebab itu, ketika melakukan kebaikan dengan niat yang benar, seseorang tidak perlu meragukan bahwa Allah mengetahui apa yang dikerjakannya.
Dari kultum singkat tersebut, ada beberapa hal yang patut menjadi bahan introspeksi. Setiap manusia, sesempurna apa pun ia terlihat di hadapan orang lain, tetap memiliki kekurangan dan aib yang tidak diketahui oleh orang lain. Maka, tidak sepantasnya seseorang mudah menyalahkan Allah atas takdir yang diterimanya.
Takdir yang pahit memang tidak selalu mudah diterima. Namun, di situlah keimanan dilatih: belajar bersabar ketika ditimpa musibah, bersyukur ketika memperoleh nikmat, dan tetap berprasangka baik kepada Allah dalam keadaan apa pun.
Selain itu, setiap amalan perlu disertai dengan niat yang benar. Sebab, kebaikan bukan hanya tentang apa yang dilakukan, melainkan juga tentang niat yang melandasinya. Dengan demikian, amalan yang dikerjakan tidak berhenti sebagai perbuatan baik di mata manusia, tetapi juga bernilai pahala di sisi Allah.
Dalam kultumnya, Ustadz Rizwan menyampaikan nasihat tentang keadilan Tuhan sekaligus menjawab pertanyaan seorang santriwati mengenai persoalan tersebut. Beliau kemudian menceritakan pengalamannya ketika pernah mengajukan pertanyaan serupa kepada gurunya, Syeikh Bilal. Namun, pertanyaan yang beliau ajukan lebih khusus, yakni bagaimana cara menerima takdir yang buruk.
Syeikh Bilal memberikan jawaban singkat, tetapi sarat makna. Beliau menyampaikan bahwa orang Islam sangat beruntung karena ketika ditimpa musibah, ia bersabar, sedangkan ketika memperoleh kenikmatan, ia bersyukur.
Persoalan takdir dan keadilan memang kerap mengusik pikiran manusia. Mengapa takdir setiap orang berbeda? Mengapa kehidupan tidak selalu berjalan adil menurut pandangan kita? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sering muncul ketika seseorang menilai kehidupan hanya dari aspek materi. Padahal, keadilan tidak selalu berarti kesetaraan dalam bentuk yang tampak di hadapan manusia.
Allah Maha Adil. Namun, ketika melihat kenyataan bahwa kaum Muslimin pun tidak selalu memperoleh kemenangan dalam peperangan, sebagian orang mungkin bertanya-tanya: di manakah letak keadilan Allah? Ustadz Rizwan mengingatkan bahwa keadilan Allah tidak dapat diukur hanya berdasarkan apa yang terjadi di dunia. Ada kehidupan akhirat yang menjadi tempat manusia menerima balasan atas segala perbuatannya.
Karena itu, tugas manusia, khususnya generasi muda saat ini, adalah melatih keimanan agar memiliki prinsip yang kuat dan benar. Prinsip tersebut perlu tumbuh dari keyakinan yang kokoh, bukan sekadar mengikuti pandangan orang lain. Dengan begitu, ketika menghadapi berbagai keadaan, seseorang dapat memandang dan menyikapinya dengan benar berdasarkan keimanan.
Sebaliknya, keimanan yang tidak dilatih dapat membuat seseorang mudah terpengaruh oleh pandangan dan keadaan yang menyesatkan. Ustadz Rizwan juga mengingatkan bahwa Allah mengetahui setiap perbuatan manusia. Oleh sebab itu, ketika melakukan kebaikan dengan niat yang benar, seseorang tidak perlu meragukan bahwa Allah mengetahui apa yang dikerjakannya.
Dari kultum singkat tersebut, ada beberapa hal yang patut menjadi bahan introspeksi. Setiap manusia, sesempurna apa pun ia terlihat di hadapan orang lain, tetap memiliki kekurangan dan aib yang tidak diketahui oleh orang lain. Maka, tidak sepantasnya seseorang mudah menyalahkan Allah atas takdir yang diterimanya.
Takdir yang pahit memang tidak selalu mudah diterima. Namun, di situlah keimanan dilatih: belajar bersabar ketika ditimpa musibah, bersyukur ketika memperoleh nikmat, dan tetap berprasangka baik kepada Allah dalam keadaan apa pun.
Selain itu, setiap amalan perlu disertai dengan niat yang benar. Sebab, kebaikan bukan hanya tentang apa yang dilakukan, melainkan juga tentang niat yang melandasinya. Dengan demikian, amalan yang dikerjakan tidak berhenti sebagai perbuatan baik di mata manusia, tetapi juga bernilai pahala di sisi Allah.