Wahyu Ditolak, Akhlak Rusak
Oleh: Dr. Adian Husaini (Guru Pesantren At-Taqwa Depok)
Artikel Ilmiah
Liputan Kegiatan

Sejarawan Marvin Perry, dalam bukunya, Western Civilization: A Brief History, (New York: Houghton Mifflin Company, 1997), menyebutkan, bahwa nilai penting dari pemikiran Niccolo Machiaveli adalah usahanya melepaskan pemikiran politik dari kerangka agama dan meletakkan politik semata-mata urusan ilmuwan politik.
“In secularizing and rationalizing political philosophy, he initiated a trend of thought that we recognized as distinctly modern,” tulis Perry. Jadi, sumbangan terbesar Machiavelli adalah menghilangkan faktor agama dalam politik. Politik dipandang semata-mata sebagai faktor saintifik yang rasional. Inilah yang dipandang sebagai ilmu politik modern.
Karena menolak semua sumber ilmu yang berasal dari “Kitab Suci”, maka para ilmuwan sekular menumpukan pencarian asal-usul alam semesta dan konsep manusia semata-mata berdasarkan sumber “indera” (positivisme) dan sumber akal (rasionalisme). Manusia dianggap sebagai kasta tertinggi dari bangsa kera.
Dalam bukunya, Budaya Ilmu (Satu Penjelasan), (Singapura: Pustaka Nasional Pte-Ltd, 2003), Prof Wan Mohd Nor menjelaskan karakteristik perbedaan antara budaya ilmu dalam Islam dengan budaya ilmu di dunia Barat. Dalam tradisi Yunani, misalnya, seperti dikatakan Robert M. Huchins, bekas Presiden dan conselor University of Cicago, bahwa di Athens: “pendidikan merupakan matlamat (tujuan.pen.) utama masyarakat. Kota raya mendidik manusia. Manusia di Athens dididik oleh budaya, oleh paideia.
”Meskipun terbilang kecil dan tidak memiliki tentara yang kuat, peradaban Yunani berpengaruh besar terhadap masyarakat Romawi dan kemudian juga peradaban Barat. Namun, meskipun berbudaya ilmu, masyarakat Yunani mengabaikan akhlak - ciri budaya ilmu yang berbeda dengan budaya llmu dalam Islam. Demonsthenes, seorang filosof Yunani, mengungkap pandangan kaum cerdik pandai tetapi pintar menjustifikasi amalan tidak berakhlak: “Kami mempunyai institusi pelacuran kelas tinggi (courtesans) untuk keseronokan (keindahan. Pen.), gundik untuk kesihatan harian tubuh badan, dan istri untuk melahirkan zuriat halal dan untuk menjadi penjaga rumah yang dipercayai.”
Dampak dari konsep keilmuan Islam yang menempatkan al-wahyu sebagai sumber ilmu adalah munculnya tradisi ilmu yang tidak memisahkan antara ilmu dan akhlak. Seorang yang berilmu - menurut Islam - wajib mengamalkan ilmunya. Ia harus berakhlak mulia. Jika tidak, dia bisa masuk kategori fasik dan kredibilitasnya sebagai penyampai ilmu diragukan (QS 49:6).
Ini tentu sangat berbeda dengan tradisi keilmuan secular di Barat. Paul Johnson, dalam bukunya “Intellectuals” (1988), memaparkan kebejatan moral sejumlah ilmuwan besar yang menjadi rujukan keilmuan di Barat dan dunia internasional saat ini, seperti Ruosseau, Henrik Ibsen, Leo Tolstoy, Ernest Hemingway, Karl Marx, Bertrand Russel, Jean-Paul Sartre, dan beberapa lainnya. Ruosseau, misalnya, dicatatnya sebagai “manusia gila yang menarik” (an interesting madman). Pada tahun 1728, saat berumur 15 tahun, dia bertukar agama menjadi Katolik, agar dapat menjadi peliharaan Madame Francoise-Louise de Warens.
Inilah akibatnya jika ilmu menolak wahyu sebagai sumber ilmu. Kebenaran dan nilai-nilai akhlak menjadi relatif. Manusia merasa menjadi Tuhan. Manusia merasa berhak menentukan standar nilai kebenaran sendiri. Semoga para politisi muslim dan para tokoh pendidikan kita menyadari akan hal ini. (Depok, 14 Februari 2026).
“In secularizing and rationalizing political philosophy, he initiated a trend of thought that we recognized as distinctly modern,” tulis Perry. Jadi, sumbangan terbesar Machiavelli adalah menghilangkan faktor agama dalam politik. Politik dipandang semata-mata sebagai faktor saintifik yang rasional. Inilah yang dipandang sebagai ilmu politik modern.
Karena menolak semua sumber ilmu yang berasal dari “Kitab Suci”, maka para ilmuwan sekular menumpukan pencarian asal-usul alam semesta dan konsep manusia semata-mata berdasarkan sumber “indera” (positivisme) dan sumber akal (rasionalisme). Manusia dianggap sebagai kasta tertinggi dari bangsa kera.
Dalam bukunya, Budaya Ilmu (Satu Penjelasan), (Singapura: Pustaka Nasional Pte-Ltd, 2003), Prof Wan Mohd Nor menjelaskan karakteristik perbedaan antara budaya ilmu dalam Islam dengan budaya ilmu di dunia Barat. Dalam tradisi Yunani, misalnya, seperti dikatakan Robert M. Huchins, bekas Presiden dan conselor University of Cicago, bahwa di Athens: “pendidikan merupakan matlamat (tujuan.pen.) utama masyarakat. Kota raya mendidik manusia. Manusia di Athens dididik oleh budaya, oleh paideia.
”Meskipun terbilang kecil dan tidak memiliki tentara yang kuat, peradaban Yunani berpengaruh besar terhadap masyarakat Romawi dan kemudian juga peradaban Barat. Namun, meskipun berbudaya ilmu, masyarakat Yunani mengabaikan akhlak - ciri budaya ilmu yang berbeda dengan budaya llmu dalam Islam. Demonsthenes, seorang filosof Yunani, mengungkap pandangan kaum cerdik pandai tetapi pintar menjustifikasi amalan tidak berakhlak: “Kami mempunyai institusi pelacuran kelas tinggi (courtesans) untuk keseronokan (keindahan. Pen.), gundik untuk kesihatan harian tubuh badan, dan istri untuk melahirkan zuriat halal dan untuk menjadi penjaga rumah yang dipercayai.”
Dampak dari konsep keilmuan Islam yang menempatkan al-wahyu sebagai sumber ilmu adalah munculnya tradisi ilmu yang tidak memisahkan antara ilmu dan akhlak. Seorang yang berilmu - menurut Islam - wajib mengamalkan ilmunya. Ia harus berakhlak mulia. Jika tidak, dia bisa masuk kategori fasik dan kredibilitasnya sebagai penyampai ilmu diragukan (QS 49:6).
Ini tentu sangat berbeda dengan tradisi keilmuan secular di Barat. Paul Johnson, dalam bukunya “Intellectuals” (1988), memaparkan kebejatan moral sejumlah ilmuwan besar yang menjadi rujukan keilmuan di Barat dan dunia internasional saat ini, seperti Ruosseau, Henrik Ibsen, Leo Tolstoy, Ernest Hemingway, Karl Marx, Bertrand Russel, Jean-Paul Sartre, dan beberapa lainnya. Ruosseau, misalnya, dicatatnya sebagai “manusia gila yang menarik” (an interesting madman). Pada tahun 1728, saat berumur 15 tahun, dia bertukar agama menjadi Katolik, agar dapat menjadi peliharaan Madame Francoise-Louise de Warens.
Inilah akibatnya jika ilmu menolak wahyu sebagai sumber ilmu. Kebenaran dan nilai-nilai akhlak menjadi relatif. Manusia merasa menjadi Tuhan. Manusia merasa berhak menentukan standar nilai kebenaran sendiri. Semoga para politisi muslim dan para tokoh pendidikan kita menyadari akan hal ini. (Depok, 14 Februari 2026).