Pendidikan Leadership Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud

Oleh: Bana Fatahillah (Direktur SMA Pesantren At-Taqwa Depok)
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
...

Selama tiga hari kemarin (23-25 Agustus 2026) saya menemani Dr. Adian Husaini berkunjung ke Prof. Wan di Selangor, Malaysia. Pertemuan ini ia niatkan untuk mengaji salah satu buku beliau yang menjadi bahan pelatihan bersama para pimpinan bank.

Di salah satu sesi, saya bertanya tentang skill leadership beliau. Sebab, kita tahu, pada masanya Prof. Wan pernah dipercaya menjadi Ketua Persatuan Pelajar Islam di Chicago, Amerika.

Saya pun penasaran, “Di mana Prof. belajar dan berlatih kepemimpinan seperti ini?”

Jawaban beliau justru membawa saya kembali ke masa kecilnya

Prof. Wan adalah anak pertama dari 13 bersaudara. Sejak kecil, beliau terbiasa mengurus adik-adiknya. Bahkan, ketika hidup bersama (Datuk dan neneknya ketika SD) beliau selalu membantu menjaga lembu peliharaan keluarga dan menukis resit dan mengambil sewa kedai dari peniaga Cina yg menyewa gedung Datuknya) dan berjualan ke pasar (bersama Neneknya).

(Ketika bersama Ibu-Ayahnya di SMP dia membantu bapanya menyediakan kayu jadi bahan bakar, mendidik adik2nya dan membantu ibunya ke pasar dan menyiapkan bahan2 masakan).

Tanpa disadari, sejak kecil beliau sudah ditempa oleh tanggung jawab: mengatur, mengarahkan, membantu, dan menyelesaikan persoalan.

Ketika berada di Universiti Northern Illinios dan Universiti Chicago, kebiasaan itu terus berkembang. Beliau sering mengatur dan mengarahkan kawan-kawan, menjadi tempat berdiskusi, bahkan menjadi penengah ketika ada persoalan.

“Semua itu dilatih sambil berjalan,” begitu kira-kira yang saya tangkap dari cerita beliau.

Kemampuan itu kemudian semakin terasah ketika beliau mendampingi gurunya yang sangat disanjunginya yaitu Prof. Al-Attas.

Prof. Wan bercerita, murid-murid Prof. Al-Attas memiliki sejumlah kebiasaan yang sama, salah satunya: ketika diberi tanggung jawab, mereka tuntaskan dengan baik tanpa mengharapkan ganjaran

Menariknya, mereka tidak selalu menunggu arahan.

Ada tamu, mereka tahu apa yang harus dilakukan. Ada acara, mereka tahu apa yang perlu disiapkan. Hebatnya, ini semua kadang tidak perlu ada instruksi, tapi berjalan sebagaimana yang mereka lihat dari gurunya.

Di sini saya menangkap satu pelajaran penting: Leadership tidak selalu lahir dari pelatihan. Ia boleh jadi tumbuh dari rasa tanggung jawab mendalam dan ikhlas, lingkungan yang mendidik, dan teladan yang terus dilihat.

Adapun buku yang kami kaji kali ini secara khusus membahas loss of adab dalam tatanan sosial. Isinya sangat relevan dengan banyak persoalan pendidikan hari ini, salah satunya dalam penyusunan kurikulum pendidikan.

Insyaallah, ada rencana untuk mengkajinya lebih lanjut.

AT-TAQWA DEPOK
Jl. Usman Hasbi, RT.04 RW 04 Jatimulya, Cilodong - Depok
info@attaqwa.id
(+62)856 0980 9086