Banyak yang Kagum pada Santunnya Nabi Ismail, Tapi Lupa dari Siapa Ia Belajar

Oleh: Bana Fatahillah, Lc, M.Ag (Direktur SMA Pesantren At-Taqwa Depok)
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
...

Ibadah haji dan kurban selalu mengingatkan kita kepada dua sosok agung: Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail `alaihimassalam. Dalam kisah penyembelihan Ismail, banyak orang menyoroti jawaban Nabi Ismail yang penuh kepasrahan, kesabaran dan keyakinan kepada Allah. 

Namun ada satu sisi lain yang sering luput diperhatikan: bagaimana Nabi Ibrahim berbicara kepada ayahnya ketika mengajaknya menuju tauhid. Padahal di sanalah kita menemukan salah satu potret adab dakwah paling indah dalam Al-Qur`an.

Seakan benar ungkapan bahwa buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Kesantunan Ismail kepada ayahnya adalah buah dari kesantunan Ibrahim kepada ayahnya.

Percakapan Ibrahim dengan ayahnya bukan hanya sarat akan hikmah pada isi nasihatnya, tetapi juga pada bagaimana ia menyampaikannya. Di situlah kita belajar bahwa kebenaran tidak selalu harus disampaikan dengan keras. Justru kelembutan, kasih sayang dan adab yang indah sering kali lebih mampu mengetuk hati manusia.

Kesalahan Besar yang Dihadapi Ibrahim

Ayah Nabi Ibrahim terjerumus dalam kesalahan yang sangat besar: menyembah berhala. Ia menyembah benda mati yang tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat, tidak mampu memberi manfaat, dan tidak pula mampu menolak mudarat.

Ini bukan sekadar kekeliruan biasa. Ia adalah penyimpangan yang bahkan bertentangan dengan akal sehat itu sendiri.

Namun menariknya, Ibrahim tidak datang kepada ayahnya dengan amarah dan cercaan. Ia tidak memulai dakwahnya dengan merendahkan atau mempermalukan. Ia datang dengan hati yang penuh kasih, lisan yang lembut dan jiwa yang ditempa oleh bimbingan Allah.

Imam Az-Zamakhsyari dalam tafsir Al-Kasysyaf menjelaskan betapa halus dan agungnya adab Nabi Ibrahim ketika berdakwah kepada ayahnya. Ini merupakan tafsir dari Surat Maryam 41-45.

Empat Tahapan Nasihat Nabi Ibrahim

1. Menggugah dengan Pertanyaan

Ibrahim memulai dakwahnya dengan cara yang sangat cerdas. Ia tidak langsung menghakimi, tetapi mengajak ayahnya berpikir.

Ia bertanya tentang alasan penyembahan itu. Bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk membangunkan kesadaran yang tertidur. Seolah nabi Ibrahim berkata:

“Wahai ayahku, sesuatu yang layak disembah setidaknya harus hidup, mampu mendengar, melihat, dan memiliki kuasa memberi manfaat maupun mudarat. Jika malaikat dan para nabi saja tidak layak disembah, bagaimana mungkin patung batu yang bisu pantas menerima ibadah?”

Allah berfirman: “Dan Dia tidak memerintahkan kamu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah Dia menyuruhmu berbuat kufur setelah kamu berserah diri?”
(QS. Ali `Imran: 80)

Ibadah adalah puncak pengagungan. Karena itu ia hanya layak diberikan kepada Dzat yang menjadi sumber segala nikmat: Yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, memberi pahala, dan menurunkan siksa. Mengarahkannya kepada selain Allah adalah bentuk kezaliman dan kesesatan yang nyata.

2. Mengajak dengan Rendah Hati

Setelah menggugah kesadaran, Ibrahim mulai mengajak ayahnya menuju kebenaran. Namun perhatikan caranya: penuh tawadhu dan kelembutan.

Ia tidak berkata, “Engkau bodoh,” dan tidak pula meninggikan dirinya sebagai orang paling berilmu. Ia hanya berkata dengan lembut bahwa dirinya memiliki sedikit ilmu yang belum diketahui ayahnya, lalu mengajak sang ayah untuk mengikutinya agar dapat menemukan jalan yang benar.

Az-Zamakhsyari menggambarkan seakan-akan nabi Ibrahim berkata:

“Anggaplah aku dan engkau sedang menempuh sebuah perjalanan. Aku mengetahui jalan petunjuk sementara engkau belum mengetahuinya. Maka ikutilah aku, niscaya aku akan menyelamatkanmu agar tidak tersesat dan kebingungan di tengah jalan.”

Inilah adab seorang anak kepada orang tuanya: tidak tampil sebagai hakim yang menghakimi, tetapi sebagai teman seperjalanan yang penuh kasih.

3. Memperingatkan dari Tipu Daya Setan

Pada tahap berikutnya, Ibrahim menjelaskan akar persoalan yang sebenarnya. Ia menerangkan bahwa di balik penyembahan berhala itu ada tipu daya setan, musuh yang telah durhaka kepada Allah Yang Maha Pengasih.

Namun perhatikan kehalusan Ibrahim. Dari sekian banyak kejahatan setan, Ibrahim hanya menyebut kedurhakaannya kepada Allah. Ia tidak menonjolkan permusuhan setan kepada manusia. Kata Az-Zamakhsyari:

“Seolah-olah dalam pandangan Ibrahim, dosa terbesar setan bukanlah karena ia memusuhi manusia, tetapi karena ia membangkang kepada Allah.“ 

Inilah buah dari hati yang dipenuhi keikhlasan dan cinta kepada Rabb-nya.

4. Memberi Peringatan, Namun Tetap Santun

Tahap terakhir adalah peringatan tentang akibat buruk dari kesyirikan. Namun bahkan di sini pun Ibrahim tetap menjaga kelembutan tutur katanya.

Ia tidak berkata: “Engkau pasti akan masuk neraka.”

Sebaliknya, ia berkata dengan penuh kasih: “Aku khawatir engkau akan ditimpa azab...”

Perhatikan pilihan katanya. Ibrahim menyebut “kekhawatiran”, bukan kepastian. Ia menyampaikan peringatan dengan nada kasih sayang, bukan dengan vonis dan kemarahan.

Bahkan Ibrahim mengisyaratkan bahwa menjadi pengikut setan adalah musibah yang sangat besar. Sebab jika ridha Allah adalah kenikmatan yang lebih agung daripada surga itu sendiri, maka berada di bawah perwalian setan adalah kehinaan yang lebih buruk daripada sekadar siksa neraka.

Allah berfirman: “Dan ridha Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 72)

Rahasia Keindahan Dakwah Ibrahim

Salah satu hal paling menyentuh dari nasihat Nabi Ibrahim adalah bahwa setiap nasihat selalu diawali dengan panggilan yang sama: “Yaa abati...” atau “Wahai ayahku...”

Dua kata sederhana, tetapi sarat cinta dan penghormatan. Dengan panggilan itu, Ibrahim seolah ingin mengatakan: “Aku berbicara bukan sebagai musuhmu, tetapi sebagai anakmu yang mencintaimu.”

Inilah dakwah yang lahir dari hati yang penuh kasih, bukan dari keinginan untuk menang dalam perdebatan.

Maka kisah Nabi Ibrahim bersama ayahnya adalah cermin bagi siapa saja yang ingin berdakwah, kepada keluarga, sahabat, maupun masyarakat.

Kebenaran tidak selalu harus disampaikan dengan suara keras agar tampak kuat. Terkadang, justru kelembutanlah yang membuatnya lebih dalam meresap ke dalam hati manusia. Ibrahim mengajarkan bahwa dakwah sejati dimulai dari hati yang mencintai, bukan dari lisan yang gemar menghakimi.

Wallahu a`lam bi al-Shawab

AT-TAQWA DEPOK
Jl. Usman Hasbi, RT.04 RW 04 Jatimulya, Cilodong - Depok
info@attaqwa.id
(+62)856 0980 9086