Dakwah bil Hikmah

Oleh: Haufan Hazza Prince Yuliant (Santri 3 SMP Pesantren At-Taqwa Depok)
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
...

“Prinsip dan Kebijaksanaan Dakwah Islam“ merupakan buku yang ditulis oleh Buya HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), seorang ulama, da`i dan pahlawan Nasional Republik Indonesia. Di dalamnya, beliau membahas tentang berbagai tata cara dakwah yang benar, mulai dari hal-hal yang harus disiapkan oleh seorang mubaligh, sikap dan akhlaq ketika berdakwah, hingga cara menyikapi orang yang kita dakwahi.

Buya HAMKA menjelaskan bahwa dakwah memiliki tiga komponen fundamental, yaitu hikmah, pengajaran yang baik, serta perdebatan yang baik. Semuanya terhimpun dalam firman Allah surat An-Nahl ayat 125: “Serulah manusia kepada jalan tuhanmu dengan hikmah, dan pengajaran yang baik, dan berdebat lah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesunggunhya tuhanmulah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalannya, dan dia pula yang lebih mengetahui siapa yang menapat petunjuk.”

Yang dimaksud dengan kata “Hikmah” adalah berdakwah dengan menyampaikan maksud dari materi yang kita sampaikan kepada khalayak, atau kita bisa sebut sebagai transfer ilmu. Kata hikmah juga bisa berarti membuka mata hati dan pikiran manusia akan hubunganya dengan Tuhan semesta alam hingga ia dapat menerima agama Islam. 

Dalam upaya penyebaran ajaran agama Islam ini, kita mesti menyampaikannya dalam konteks keilmuan kepada audiens, dan itu adalah suatu hal yang sangat urgen. Mengapa? Karena ilmu merupakan perantara bagi orang yang kita dakwahi agar mereka mendapat pemahaman tentang Islam dan segala ajarannya. Karenanya, orang tersebut bisa sadar akan kebenaran dan keindahan yang di bawa oleh Islam.

Maka dalam rangka menyampaikan ilmu tentang keislaman kepada orang lain, mestinya perkataan atau bahasa yang disampaikan kepada mereka harus dapat dipahami. Sebagai seorang mubaligh, kita mesti menyesuaikan diri dengan orang-orang yang hendak didakwahi. Jika orang itu berasal dari kaum intelektual, maka bahasa dan argumen yang akan disampaikan mesti kokoh, dan kuat untuk membantah argumen balasan darinya serta memberikan pemahaman yang mendalam. Sebaliknya, jika orang yang akan didakwahi berasal dari kalangan awam, maka bahasa dan penuturanya mesti dipermudah agar dapat dipahami.

Seringkali kita menemukan orang yang menyampaikan suatu materi dengan bahasa atau istilah asing, yang sulit dipahami oleh orang-orang di sekitarnya, dengan tujuan agar dianggap keren dan pintar. Hal tersebut salah, karena tujuan dakwah adalah untuk menyeru atau mengajak manusia kepada kebenaran, yaitu agama Islam. Bagaimana orang akan mengikuti suatu ajakan jika ia tidak mengetahui apa maskud dan tujuan dari hal tersbut? Tentu orang tersebut bingung dan enggan mengikutinya. Nabi bersabda “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akalnya.”

AT-TAQWA DEPOK
Jl. Usman Hasbi, RT.04 RW 04 Jatimulya, Cilodong - Depok
info@attaqwa.id
(+62)856 0980 9086