Balaghah dan Jurnalistik

Oleh: Bana Fatahillah (Direktur SMP Pesantren At-Taqwa Depok)
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
...

Zion1s Isr4el itu persis seperti Maling teriak Maling; Tamu yang tak tau diri; Anak yang membunuh orang tua asuhnya sendiri.

Selain faktual. Kalimat di atas lebih “melekat” di hati ketimbang frasa, Isr4el sangat kejam dan sadis. Kenapa? sebab Kalimat diatas memiliki unsur kiasan. Lahirlah sebuah imajinasi yang membuat seseorang terngiyang.

Menurut Imam Qazwini, poin yang disampaikan melalui permisalan —dalam istilah anak jaman sekarang — “damage” nya nambah (fahuwa yudhaif quwwat al-Ma’ani). Pesan itu tervisualkan, hingga dengan mudah menembus relung hati.

Semakin relate permisalannya, maka maknanya akan semakin “ngena”. Begitu kata Fadhl Hasan Abbas, penulis buku Al-Balaghah Fununuha wa Afnanuha.

Makanya perempuan lebih tersentuh dengan kata, “bidadari mana yang masakannya seenak ini” ketimbang “kamu ini udah cantik jago masak!” Silakan rasakan dan praktikan.

Meski gaya kiasan ini menjadi fokus ilmu bayan, salah satu pilar ilmu balaghoh. Namun terkadang ia penting dalam dunia jurnalistik. Salah satunya untuk “menebalkan” poin abstrak yang ingin diutarakan.

Terkait kengerian begal di Depok misalnya. Coba bedakan dua judul berita ini: “Begal Semakin Menghantui Warga Depok” - “Begal Semakin Marak di Depok.” Yang pertama tentu lebih kuat.

Selain ilmu bayan, jurnalistik juga bisa diasah dengan ilmu ma’ani, satu poros lain dalam ilmu balaghoh. Ringkasnya, ma’ani melatih “rasa” dalam penyusunan kalimat.

Semisal, dalam kaidah jurnalistik dikenal efektifitas kalimat. Menggunakan kalimat singkat, jelas dan merangkum banyak makna. Teknik ini juga dilatih dalam bab Al-Ijaz dan Al-Ithnab.

Contoh lain, hal yang ingin difokuskan dalam judul haruslah diletakkan di awal. Misalnya, “Keji dan Biadab! Isr4el bunuh Ratusan Anak Kecil”. Beda halnya jika hendak menyorot tangisan balita Palestina. “Tangisan balita Palestina banjiri kota Rafah”. Ini semua dibahas dalam kaidah al-Taqdim wa Al-Ta’khir juga Al-Qashr dalam ilmu ma’ani.

Masih ada banyak hal lagi yang bisa diambil dari ilmu balaghoh, terkhusus dalam dunia kepenulisan.

Meski objek kajian balaghoh adalah kalimat bahasa Arab. Namun tidak salah jika penerapannya masuk ke wilayah bahasa Indonesia. Sebab bahasa pada umumnya memiliki karakteristik yang sama.

Pada Rabu, 29 Mei 2024 kemarin saya mengkhatamkan kajian balaghoh bersama Santri PRISTAC (setingkat SMA). hampir satu tahun penuh kami mengkaji ilmu bayan dan ma’ani. Selain untuk memahami al-Quran, ilmu ini cukup berperan dalam dunia kepenulisan.


Pesantren At-Taqwa Depok
6 Juni 2024

AT-TAQWA DEPOK
Jl. Usman Hasbi, RT.04 RW 04 Jatimulya, Cilodong - Depok
info@attaqwa.id
(+62)856 0980 9086