Sifat Dua Puluh dan Tantangan Sekulerisme (1/2)

Dalam bukunya yang berjudul “Murtad Yang Mencekam dan Mengancam” (terjemahan dari “Riddah wa laa Aba Bakrin Lahaa”), Imam Abul Hasan Ali an-Nadwi menuliskan, “Pada akhir-akhir ini dunia Islam dilanda kembali oleh gelombang kemurtadan. Dan kali ini kemurtadan itu ada dimana-mana. Jauh lebih hebat, jauh lebih menyeluruh. Lebih sengit dan lebih kuat daripada kemurtadan yang pernah terjadi sebelumnya. Dan hampir tidak dijumpai satu keluarga pun yang tidak terancam kemurtadan zaman modern ini. Inilah kemurtadan yang menggejala setelah penjajahan Barat atas negeri-negeri Islam Timur; kemurtadan yang dibawa serta oleh peperangan politik dan kebudayaan modern, kemurtadan yang terbesar dalam sejarah Islam.” (Hasan Ali an Nadwy, Murtad Yang Mencekam dan Mengancam, 1994: 21)

Agaknya, perkataan di atas perlu dicermati lebih lanjut. Sebab, dalam Islam, murtad itu bukan masalah yang remeh. Islam memandang, perbuatan pindah agama (dengan inkar pada Allah, ketetapan-ketetapan dalam agama Islam, Nabi Muhammad, al-Qur’an, akhirat dan sebagainya), merupakan dosa yang paling besar. Sebagaimana yang dikatakan Sayyid Abdullah bin Husain bin Thahir dalam kitab Sullamut Taufiq-nya, bahwa cukup dengan ragu-ragu kepada Allah dan bercita-cita untuk kufur atau berganti agama, saat itulah ia telah keluar dari Islam (murtad). Tentu Ini masalah serius. Karena pada hakikatnya orang yang murtad itu tentu telah hilang imannya, yang berfungsi sebagai syarat diterimanya amal. Tanpanya, semua amal yang dimiliki akan sia-sia dan tidak diterima disisi Allah (QS 2: 217). Tanpanya pula, ia hanya akan seperti orang kafir yang amalnya seperti fatamorgana (QS 24: 39). Bahkan dalam kitab yang sama, beliau  menyebutkan bahwa orang murtad itu halal darahnya untuk dibunuh.

Lebih-lebih lagi, an-Nadwi menegaskan bahwa ini merupakan kemurtadan terbesar dalam sejarah Islam dan tidak mungkin ada satu keluarga pun yang tidak terancam. Artinya kemurtadan yang terjadi pada era ini, lebih besar dari kemurtadan yang terjadi di zaman Abu Bakar. Juga mesti ada suatu hal yang yang berbeda. Dan ia menyebutkan bahwa kmurtadan itu datang lewat penjajahan Barat serta peperangan politik dan kebudayaan. Maka disinilah pentingnya umat Islam memahami keyakinan atau ideologi yang dibawa oleh Barat dan dikembangkannya secara masif. Sampai-sampai bisa membuat umat islam yang meyakininya menjadi murtad, Yang kemurtadan-nya itu menurut an-Nadwi adalah yang terbesar.

Sekularisme

An Nadwi menjelaskan bahwa yang datang dari Barat adalah falsafah-falsafah yang pada hakikatnya inkar terhadap agama dan Tuhan. Dampaknya, ia tidak akan mengakui akhirat, wahyu, Nabi, para pemegang otoritas keagamaan, serta nilai-nilai rohani yang mutlak benar. An-Nadwi mengatakan, “Falsafah-falsafah Barat itu memang terlihat berbeda corak dan maksud tujuannya, bersetumpu pada pandangan materialis. Ia memandang manusia dan alam ini secara materialis semata, lalu menafsirkan segala gerak dan fenomenanya secara materialistik pula.”

Inilah yang beliau sebut sebagai “agama anti agama-agama” (al-laadiniyah). Yakni agama yang berpegang teguh pada falsafah hidup Barat yang berjiwa anti Tuhan, anti agama-agama. Dan menurutnya, ketika seseorang menganut agama tersebut, secara tidak langsung ia telah menjadi murtad. Permasalahannya, kemurtadan ini tidak disadari dan dipedulikan oleh Umat Islam kebanyakan. Karena, memang yang bersangkutan tidak pernah pergi ke Gereja atau ke kuil, tidak menyatakan kemurtadan, tidak menampakkan bahwa dirinya telah berpindah agama dan beralih akidah. Artinya, ketika seorang Muslim menganut agama itu, ia tetap mengaku sebagai Muslim, padahal disaat yang sama secara tidak langsung ia telah keluar dari agamanya. “Nah, itulah masalah dunia dan ummat Islam dewasa ini; masalah kemurtadan yang semakin berkembang dan semakin mencekam ummat Islam. Inilah perkara besar yang tidak mendapat perhatian yang serius, dan tidak dirisaukan oleh para ulama serta pemimpin ummat. Apa namanya? Masalah kemurtadan tanpa Abu Bakar!” ujar an-Nadwi (ibid. 1994: 24-26)

Agama atau Ideologi yang satu ini dibahas lebih mendalam oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam bukunya yang berjudul Risalah Untuk Kaum Muslimin. Ia menyebutkan bahwa paham itu bernama “sekularisme”. Ia berasal dari bahasa Latin, “saeculum”. Kata tersebut mengindikasikan dua makna: tempat atau yang berarti disini (dunia) dan waktu yakni masa kini (sekarang). Inilah yang kemudian ia sebut paham “kedisinikinian” atau yang dalam bahasa Arab (meskipun hanya sebuah tawaran) disebut “hunalaaniyah”. Intinya, sekularisme adalah cara pandang yang hanya memikirkan disini dan kini saja.

Adapun ciri ketika seseorang dijadikan sekular atau dalam bahasa al-Attas pensekularan (sekularisasi): pertama, orang-orang sekular meyakini bahwa alam ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan Tuhan. Sehingga yang terjadi pada alam ini, hanya sekedar dilihat secara mekanisme belaka. Hanya dilihat dari sudut pandang sains saja. Sebab, bagi mereka, hal tersebut sudah mencukupi. Jadi semua unsur mistis, sihir, bahkan sampai kepada unsur yang paling benar kalipun (yakni Allah) mereka tolak. Mereka tidak percaya ketika bencana alam tiba, itu berkaitan secara erat dengan buruknya tingkah laku manusia, sehingga membuat murka Yang Maha Kuasa. Bagi mereka tidak ada hubungannya antara moral dengan bencana alam.

Kedua, mereka membuang nilai-nilai yang bersumber dari agama (wahyu) di dalam dunia politik. Bagi mereka, menjadi pemimpin atau bepolitik itu tidak perlu “membawa agama”. Maka mereka hanya menerima hukum yang bersifat duniawi saja. Tidak ada istilah “berdakwah dengan politik.” Meskipun sebetulnya, tidak hanya berhenti pada aspek politik. Ekonomi, pendidikan, dan lain sebagainya juga bisa diikutsertakan.

Ketiga, ialah apa yang al-Attas sebut sebagai “penafian tentang kesucian serta kekelan nilai-nilai hidup.” Artinya nilai-nilai yang seharusnya menjadi tuntunan bagi kehidupan manusia tidak lagi bersifat final dan absolut, melainkan nisbi atau relatif. Sebab, mereka menolak nilai-nilai yang bersumber dari wahyu, yang mana bersifat tetap dan tidak berubah. Artinya, nilai baik-buruk, benar-salah, mereka yakini bisa berubah-ubah menyesuaikan waktu dan tempat. Maka slogan mereka, “segala sesuatu itu berubah kecuali perubahan itu sendiri.” (Lihat buku Syed. Muhammad Naquib al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin, 2001: 196-197).

Maka, dari 3 ciri inilah bisa kita simpulakan bahwa ketika ada orang Islam menjadi sekular, ia tetap menyatakan bahwa dirinya Islam. Ia tetap mempercayai akan adanya Tuhan, agama, malaikat, wahyu (yang juga meliputi Nabi dan Rasul), dan lain sebagainya. permasalahannya, ia menyingkirkan semua aspek metafisik itu dari dunia. Sebagaimana yang dijelaskan di atas. Itulah mengapa al-Attas mengatakan bahwa sekularisme adalah paham kedisinikinian. Faktor utamanya adalah satu, yakni penggunaan akal secara penuh. Menurut mereka, cukup akal manusia yang memecahkan semua permasalahan yang ada di dunia ini. Perasaan cukup dengan akal inilah, yang membuat mereka tidak membutuhkan agama, wahyu, dan Tuhan di setiap kehidupan di alam dunia.

Padahal sejatinya, Pengosongan alam tabii dengan tuhan itulah yang kemudian membuat mereka bisa bebas mengeksploitasi alam. Alam, akan mereka gunakan secara bebas sesuai hasrat dan keperluaannya. Bahayanya, ketika seseorang sudah melakukan perubahan terhadap apa yang sudah Allah berikan, niscaya daya adiksinya akan meningkat. Begitu juga dengan penafian agama pada tatanan kekuasaan dan nilai-nilai. Sehingga dengan kekuasaan, mereka bisa bebas berbuat, dan dengan nisbinya sebuah nilai, mereka bisa bebas membuat satu perubahan sesuai dengan kehendak mereka.

Seperti kasus anak-anak di Barat yang ketika dewasa, sudah tidak bisa diatur, dikritik, dan sebagainya. Justru orang tualah yang akan dipenjara manakala mengganggu kebebasan si anak. Begitulah nilai yang berlaku disana. Inilah yang al-Attas sebut sebagai generation gap. Bahkan bagi mereka, orang tua hanyalah sebagai pengingat kematian saja. Sama halnya dengan kasus LGBT yang dulu ilegal, sekarang justru banyak negara yang melegalkan. Bahkan kaum pedofilia juga mencoba menuntut haknya. Sebab bagi mereka, pedofil itu juga genetik bukan konstruk sosial. Jadi, mereka harus bersiap dengan segala perubahan yang ada. Bukankah ini merumitkan? Kalau iya, kenapa diyakini?

Natsir juga menyebutkan dalam bukunya, Islam Sebagai Dasar Negara, tentang kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh faham ini, yang bersumber pada satu hal, yakni tersingkirnya nilai-nilai agama yang manifestasinya adalah adab atau etika. Inilah dualisme: faham yang men-dikotomisasi atau memisahkan antara dua hal yang seharusnya tak terpisah. Maka salah satu dampak terburuk yang pernah ditimbulkan oleh faham ini, adalah munculnya Nazisme. Mengutip seorang penyokong Nazisme yang kemudian membelot, Herman Rausching, Natsir menulis bahwa faktor terpenting dari munculnya Nazisme bukanlah Hitler, melainkan adanya sikap tidak peduli dan tidak menghormati tuntutan-tuntutan adab dan menyampingkan ajaran agama (M. Natsir, Islam Sebagai Dasar Negara. 1957: 20). bersambung ke bagian dua.

Penulis: Fatih Madini, Mahasiswa At-Taqwa College Depok

Leave a Comment