Gagasan Reformasi Pemikiran Pendidikan Fatih Madini

Fatih Madini (17 Tahun), mahasiswa at-Taqwa College Depok, menerbitkan buku keduanya berjudul “Reformasi Pemikiran Pendidikan Kita” (Depok: YPI at-Taqwa, 2020, 381 halaman). Di ujung pengantar bukunya, ia menutup tulisannya dengan kutipan sebaris puisi Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud: “Jangan sampai Adam menyesal, dan Iblis berkenduri besar!”

Lebih lengkapnya, Fatih Madini menulis dalam pengantarnya: “Sebagai penutup, ada baiknya kita, khususnya yang bergelut dalam dunia pendidikan, merenungkan baik-baik satu gubahan puisi Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud dalam bukunya, Mutiara Taman Adabi: Kumpulan Puisi Mengenal Agama, Filsafat dan Masyarakat, (Kota Bharu: Dian Darulnaim, 2013):

Aku Bimbang, Khuatir
Aku Takut umat kita tidak akan bangkit lagi
Walau ekonomi melambung tinggi
Umatku sibuk membeli saham menjual budi
Anggap sekolah, madrasah tidak bererti jika gagal meningkat gaji
Universiti tidak dinilai secara insani, hanya patuh nafsu industri
Yang sering berubah mengikuti pasaran
Pasaran berubah mengikuti perasaan
…..
Bagaimana kita akan bangkit semula
Memimpin dunia mendapat syurga?
Jika ibu-bapa pintar melahir anak, cuma
Jika pelajar hanya mahu lulus periksa dan cari kerja
Jika guru, pensyarah kehilangan arah
Ilmu terpaku di dada ijazah
Jika peniaga bermain politik, bertuhankan laba
Ahli politik memperniaga prinsip dan akhlak segala
Jika cendekiawan cuma mengikut dan membuat komentar
Cekap mengubah fakta, meminda makna, mengejar kuasa
Adam akan menyesal
Dan Iblis berkenduri besar

***

Puisi Prof. Wan Mohd Nor itulah yang tampaknya memicu Fatih Madini untuk merenungkan kondisi pendidikan kita saat ini dan kemudian menulis banyak makalah dan artikel tentang pendidikan. Tulisan-tulisan itu kemudian dirangkum dalam satu buku yang berisi gagasan-gagasan reformasi pendidikan kita secara mendasar.

Dalam berbagai ceramah dan buku-bukunya, Prof. Wan Mohd Nor memang banyak mengingatkan bahaya pendidikan yang dijauhkan dari misi pendidikan yang sebenarnya, yakni untuk membentuk manusia yang baik. Iblis akan kenduri besar jika pendidikan hanya diabdikan untuk kepentingan industri, untuk meningkat gaji, mengejar keuntungan materi, mengecilkan peranan iman dan akhlak mulia.
Sekolah atau universitas dianggap hebat, dipandang favorit, jika meluluskan orang-orang yang dapat menghasilkan keuntungan materi. Iman, taqwa, dan akhlak mulia tidak dijadikan sebagai kriteria utama untuk menilai ketinggian derajat seorang sarjana atau lembaga pendidikan. Dalam puisinya, Prof. Wan Mohd Nor menulis:

“Anggap sekolah, madrasah tidak bererti
jika gagal meningkat gaji
Universiti tidak dinilai secara insani,
hanya patuh nafsu industri.”

Itulah keprihatinan dan kekhuatiran Prof. Wan Mohd Nor akan kondisi pendidikan kita saat ini. Sebab, tugas utama universitas adalah mendidik manusia agar menjadi manusia yang sempurna (al-insan al-kulliy), sesuai dengan namanya: universitatem, jaami’ah, kulliyyah.

Fatih Madini cukup intensif memahami gagasan pendidikan Prof. Wan Mohd Nor. Selain membaca artikel dan buku-bukunya, ia juga beberapa kali menghadiri ceramah-ceramah Prof. Wan Mohd Nor – yang saat ini merupakan pemegang pertama kursi Pemikiran Islam Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas di RZS CASIS-UTM Kuala Lumpur.

Karena itu, Fatih Madini mengikuti pandangan Prof. Wan Mohd Nor yang merujuk pada pemikiran Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, bahwa problem paling mendasar dalam dunia pendidikan kita justru terletak pada definisi (ta’rif) dan tujuan pendidikan itu sendiri.
Bahwa, tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang baik, sebagai individu manusia, sebagai hamba Allah dan Khalifatullah fil ardh. Itulah makna terpenting dari pendidikan (ta’dib). Sedangkan elemen yang paling mendasar dalam pendidikan adalah “penanaman adab” dalam diri manusia atau “inculcation of adab”.

Selama bertahun-tahun nyantri di Pesantren at-Taqwa, Fatih Madini telah mengkaji puluhan kitab-kitab adab para ulama, seperti Adabul Alim wal-Muta’allim, Ta’limul Muta’allim, Bidayatul Hidayah, al-Arba’in an-Nawawiyah, Ihya’ Ulumiddin, Gurindam 12, Siyarus Salikin, dan sebagainya.

Bacaan, pengalaman, dan perenungannya tentang pendidikan itu terbaca dari berbagai tulisan dalam buku keduanya ini. Buku ini bisa dikatakan kelanjutan buku pertamanya berjudul: “Mewujudkan Insan dan Peradaban Mulia” (YPI at-Taqwa, 2018).

Secara singkat, pemikiran itu dituangkan dalam pengantar bukunya: “Pendidikan, tidak melulu soal ajang tranfer ilmu antara guru dan murid. Pendidikan, bukan hanya ladang guru untuk menjadi “tukang ngajar” dengan tujuan materi. Pendidikan, bukan sekedar ladang murid untuk menumpuk ilmu dan menggali wawasan sedalam-dalamnya. Dan Pendidikan yang sesungguhnya, bukan pula institusi yang secara komitmen melahirkan banyak orang pintar dan pandai, tanpa sedikit pun peduli akan kebaikan dan kebermanfaatan mereka.”

“Melihat semua itu, tidakkah ada rasa miris serta kecewa? Sebab, apakah sejahat dan setega itu institusi pendidikan, sampai-sampai harus membiarkan iman para penuntut ilmu yang secara sadar atau tidak, terkikis karena sekularisme dan pluralisme? Membiarkan mereka menjadi para pecandu materi dan pecinta dunia karena materialisme dan pragmatisme? Membiarkan mereka menjadi insan-insan yang sukses di dunia, namun lupa akan Tuhannya dan tidak lagi bangga akan agamanya?”

***

Itulah percikan gagasan reformasi pemikiran pendidikan kita yang diungkap oleh santri dan mahasiswa At-Taqwa College Depok, dalam bukunya Reformasi Pemikiran Pendidikan Kita. Buku ini bersamaan terbitnya dengan buku mahasiswa at-Taqwa College, Azzam Habibullah, Hikmah Sejarah untuk Indonesia Berkah.

Anak-anak muda kita memang perlu diajak memahami masalah pendidikan dan kehidupan umat dan bangsa kita secara mendasar. Merekalah para pelanjut perjuangan para Nabi dan para ulama Nusantara. Mereka tidak boleh larut dalam arus besar liberalisme dan materialisme, bahkan ateisme, yang ujungnya akan merusak bahkan menenggelamkan bangsanya sendiri.

Pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk mengubah kondisi seseorang atau keadaan satu bangsa. Kita bukan hanya perlu orang-orang pintar. Tapi, yag lebih penting, kita perlu orang-orang pintar yang cinta kebenaran, cinta sesama, yang jujur, ikhlas, tidak malas, dan istiqamah dalam kebaikan.
Itulah yang disebut orang baik (good man). Jika pendidikan kita gagal melahirkan manusia-manusia mulia seperti itu, maka benarlah kata-kata Prof. Wan Mohd Nor: “Adam akan menyesal dan Iblis berkenduri besar!” Na’udzu billahi min dzalika.

Selamat membaca buku penting ini!

(Depok, 2 Juli 2020).

Leave a Comment