Susuri Bukit Pesambangan Jati, Santri PRISTAC Tutup Rihlah 2023 di Cirebon

Oleh: Nayla Adzkya Putri Wahab dan Qotrunnada Karimah Ikhwan (Santri PRISTAC – Setingkat SMA – Pesantren At-Taqwa, Depok, 15 tahun)
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
...

Rangkaian Rihlah Sejarah yang telah berjalan selama enam hari akhirnya berakhir hari ini, Kamis (30/11/23). Untuk menutup perjalanan ini, kami menapak-tilasi sejarah Cirebon. Tujuan pertama kami adalah Rumah Budaya Nusantara (RBN) yang memiliki akses langsung ke Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan. Setelah wafatnya pendiri RBN, Pak Bambang, RBN kini dikelola oleh istri dan tim.

Di RBN, Bu Bambang dan tim menjelaskan kepada kami makna dari simbol-simbol kebudayaan Indonesia yang sebagian besar telah diislamisasi oleh para wali. Contohnya, lima macam topeng yang ada di tari topeng. Kelima topeng tersebut bernama Panji, Samba, Rumyang, Tumenggung dan Kelana. Ia memperlihatkan kepada kami koleksi manuskrip tua, benda-benda dari Cina dan senjata-senjata seperti tombak, keris, dan katana elastis yang disimpan didalam lemari tua. Ia juga menjelaskan sekilas cerita yang ada dibalik penginggalan tersebut.

Setelah selesai menyimak cerita dan melihat koleksi yang ada di RBN, kami pun melanjutkan perjalanan kami ke destinasi berikutnya, yakni Bukit Pemakaman Pesambangan Jati. Bukit tersebut merupakan pusat Sunan Gunung Jati menyiarkan Islam di Cirebon serta meluaskan kekuasaan. Banyak orang yang menyambangi alias singgah di bukit tersebut untuk menimba ilmu dari Sunan Gunung Jati dan ulama lainnya.

Dulu sekali, Masjid Pusarbumi adalah area mercusuar yang menjadi tempat Sunan Gunung Jati memancarkan dua kompetensinya pada masyarakat sekitar. Dua kompetensi itu ialah kepemimpinan dan pengaruh Islam. Disebut Pusarbumi karena mercusuar tersebut adalah pusat kehidupan Masyarakat dan poros keislaman mereka.

Tidak mencukupkan diri di Masjid Pusarbumi, berikutnya santri juga mengunjungi Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang terletak di alun-alun keraton Kesepuhan. Di sana kami melaksanakan shalat zuhur dan dilanjutkan dengan mendengarkan sejarah pembangunan masjid ini yang disampaikan oleh pemandu kami bernama Pak Mustaqim. Kami juga diajak melihat artefak bersejarah yang berada di masjid Agung, seperti sumur Jalazatun Dza dan Tegang Pati serta mihrab imam yang dulu merupakan kolam untuk bersuci.

Pak Mustaqim mengungkapkan adanya fakta unik dari masjid ini. Masjid yang berada dekat Keraton Kasepuhan ini mengumandangkan azan dengan tujuh muazin sekaligus ketika hari Jum’at.

Sebelum pulang, sebagian santri menyempatkan diri untuk menyewa becak dan sepeda listrik untuk bermain di tengah alun-alun. Setelah puas bermain, kami juga diberi penjelasan lanjutan dari Bu Bambang dan Mas Firman yang juga mendampingi perjalanan kami sejak tadi. Kunjungan hari ini melengkapi Rihlah Sejarah ini dengan menyenangkan.

Alhamdulillah rihlah ini berjalan lancar dan terasa sangat berkesan. Kami begitu senang dan bersyukur dapat belajar bersama orang-orang di beragam tempat bersejarah. Banyak pengalaman dan pelajaran yang telah kami dapatkan. Semoga kami masih berkesempatan untuk mengunjungi beragam tempat yang menyimpan hikmah di waktu yang akan datang. (Editor: Reisya)

AT-TAQWA DEPOK
Jl. Usman Hasbi, RT.04 RW 04 Jatimulya, Cilodong - Depok
info@attaqwa.id
(+62)856 0980 9086