Santri SMA At-Taqwa Ini Lulus dengan Skripsi Tentang Reaktualisasi Kitab Jawi dalam Kurikulum Pendidikan Islam Indonesia

Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
gambar_artikel

Sabtu, 23 Mei 2026, Razan Muhammad Ihsan (17 tahun), santri akhir Pondok Pesantren At Taqwa Depok, menjalani sidang skripsi. Tulisan setebal 50 halaman tersebut berjudul Urgensi Revitalisasi dan Reaktualisasi Kitab Jawi di Lembaga Pendidikan Islam Indonesia. Ia mempertanggungjawabkan tulisannya di hadapan Dr. Suidat dan Ust. Haris Susmana, sebagai penguji sidang. 

Sidang skripsi dimulai dengan sepatah-dua patah kata dari Dr. Suidat, dilanjutkan pemaparan materi oleh Razan.

Memulai penjelasannya, Razan mengungkapkan alasan ia menulis tema tersebut. Menurutnya, “Jawi atau Arab-Melayu di lembaga pendidikan Islam Indonesia saat ini tidak banyak diajarkan. Hal tersebut merupakan akibat dari pengaruh `politik bahasa` oleh Belanda dengan menyingkirkan pengaruh bahasa Arab sebagai bahasa utama agama Islam dari bahasa Indonesia dengan bahasa dan tulisan Latin.”

Maka penelitiannya tersebut ditujukan untuk mengenalkan apa yang dimaksud kitab Jawi, urgensi mempelajari dan mengajarkannya, serta cara mereaktulisasikannya ke dalam lembaga pendidikan Islam Indonesia saat ini.

Dalam penelitiannya ini, Razan sangat adil menyebutkan & mengutip tokoh yang otoritatif dalam bidang kajiannya ini. Pada landasan teori yang ia mengutip penjelasan perihal kitab Jawi tersendiri, ia mengambil definisi dari Muhammad Syukri Rosli, Pakar Bahasa Jawi dari Malaysia:“bahasa Melayu Islam yang disuratkan dengan huruf Arab dengan tambahan huruf Melayu yang menuruti disiplin keilmuan kitab.”

Razan menyimpulkan, “Intinya, kitab Jawi itu merupakan tulisan ulama Melayu-Nusantara (Indonesia) dengan bahasa Jawi yang memiliki struktur bahasa dan landasan pemikiran Islam.”

Selama pengkajiannya ini, ditambah mendapati pembelajaran Arab-Melayu enam tahun di pondok, Razan mendapati empat poin urgensinya kitab Jawi untuk dipelajari & diajarkan. Pertama, upaya menguatkan worldview Islam. Yaitu melalui bahasanya yang telah mengalami proses Islamisasi dengan mengubah beberapa kata dan makna seperti kata sembahyang, awalnya bermakna menyembah dewa-dewa, menjadi menyembah Allah dalam praktik sholat lima waktu. Kedua, menyambung sanad keilmuan agama dengan ulama Melayu-Nusantara terdahulu yang otoritatif dalam pengajaran agama Islam. 

Ketiga, upaya resentralisasi kitab Jawi. Menjadikannya sebagai rujukan utama pengajaran agama Islam guna membangkitkan rasa bangga para pelajar muslim Indonesia yang telah teralihkan, dari kitab Jawi kepada literatur Barat hingga terpengaruhi dengan pemikiran mereka. Keempat, lebih mudah dibaca dan dipahami ketimbang kitab-kitab berbahasa Arab.

Tak hanya menjelaskan urgensi dari kitab Jawi, Razan dalam penelitiannya juga memberikan upaya mereaktualisasi atau mengenalkan kitab Jawi. Pertama, memasukkannya ke dalam kurikulum lembaga pendidikan Islam Indonesia. Kedua, digitalisasi dan transliterasi. Ketiga, popularisasi kitab Jawi melalui media sosial, mencetak ulang dengan desain menarik, dan pameran kebudayaan. Keempat, pelatihan baca-tulis Jawi secara online dan offline.

Razan menutup pemaparan skripsinya dengan menyimpulkan, “Bahwasannya Kitab Jawi merupakan karya tulis ulama Melayu-Nusantara (Indonesia) berbahasa Jawi, penting untuk diajarkan kembali kepada para pelajar muslim Indonesia, dan bisa dikenalkan kembali kepada mereka di zaman sekarang.”

Di penghujung sidang skripsi, para penguji memberikan pujian, saran dan kritik kepada Razan. Acara ini pun diakhiri dengan foto bersama.

AT-TAQWA DEPOK
Jl. Usman Hasbi, RT.04 RW 04 Jatimulya, Cilodong - Depok
info@attaqwa.id
(+62)856 0980 9086