Masih SMA, Tapi Sudah “Diuji” Seperti Mahasiswa
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
“Ini sih pertanyaan sidang skripsi!” ungkap salah satu wali santri yang menghadiri acara presentasi makalah ilmiah santri-santri SMA Pesantren At-Taqwa Depok di hadapan para orang tua, termasuk orang tua mereka sendiri (2/5/26). Ungkapan dengan nada canda itu ia utarakan di tengah sesi tanya-jawab.
Pada sesi itu, para orang tua begitu antusias bertanya kepada para santri. Memang, bobot pertanyaannya cukup berat, levelnya “tidak wajar” bagi anak-anak SMA biasa karena menyesuaikan gagasan besar yang mereka kemukakan. Namun para santri mampu menjawab dengan cukup baik.
Melihat bagaimana gagasan dan presentasi mereka serta bagaimana para santri menjawab pertanyaan, para orang tua tampak bangga dan bahagia. Mereka bersyukur, sejak SMA, anak-anaknya sudah dibiasakan untuk berpikir kritis dan menulis ide-ide besar.
Salah satu wali santri, seorang ibu, sampai mengungkapkan rasa bangga dan syukur atas putranya yang dapat menulis dan mempresentasikan karyanya lebih dari yang beliau harapkan.
“Dulu abang mempunyai beberapa masalah, seperti gangguan pernapasan dan gangguan lisan. Saat di rumah kemarin, Bunda sengaja tidak mau lihat presentasi abang, karena Bunda ingin melihat abang langsung di sini. Dan ternyata, berbagai kekhawatiran kami dulu tidak menjadi penghalang bagi abang untuk berkarya. Alhamdulillah, kami bangga, anak-anak kami berhasil berkarya dengan bantuan Pesantren At-Taqwa,” tuturnya penuh haru.
Nama santrinya, Muhammad Izzat Muflih Setiawan (15 tahun). Ia menulis makalah berjudul “Meneladani Kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz dalam Nilai-nilai Kezuhudan dan Keadilan”. Selain Izzat, masih ada enam santri lain yang juga mempresentasikan makalah ilmiah mereka di hadapan orang tua.
Acara ini adalah presentasi makalah ilmiah keempat para santri SMA At-Taqwa Depok kelas satu. Presentasi pertama, di hadapan para guru. Kedua, di hadapan para santri. Ketiga, di hadapan para santri dan murid di lembaga pendidikan di luar At-Taqwa. Kali ini, giliran angkatan ke-8 yang melakukannya. Artinya, sudah delapan tahun At-Taqwa konsisten menerapkan kebijakan ini.
Pada sesi itu, para orang tua begitu antusias bertanya kepada para santri. Memang, bobot pertanyaannya cukup berat, levelnya “tidak wajar” bagi anak-anak SMA biasa karena menyesuaikan gagasan besar yang mereka kemukakan. Namun para santri mampu menjawab dengan cukup baik.
Melihat bagaimana gagasan dan presentasi mereka serta bagaimana para santri menjawab pertanyaan, para orang tua tampak bangga dan bahagia. Mereka bersyukur, sejak SMA, anak-anaknya sudah dibiasakan untuk berpikir kritis dan menulis ide-ide besar.
Salah satu wali santri, seorang ibu, sampai mengungkapkan rasa bangga dan syukur atas putranya yang dapat menulis dan mempresentasikan karyanya lebih dari yang beliau harapkan.
“Dulu abang mempunyai beberapa masalah, seperti gangguan pernapasan dan gangguan lisan. Saat di rumah kemarin, Bunda sengaja tidak mau lihat presentasi abang, karena Bunda ingin melihat abang langsung di sini. Dan ternyata, berbagai kekhawatiran kami dulu tidak menjadi penghalang bagi abang untuk berkarya. Alhamdulillah, kami bangga, anak-anak kami berhasil berkarya dengan bantuan Pesantren At-Taqwa,” tuturnya penuh haru.
Nama santrinya, Muhammad Izzat Muflih Setiawan (15 tahun). Ia menulis makalah berjudul “Meneladani Kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz dalam Nilai-nilai Kezuhudan dan Keadilan”. Selain Izzat, masih ada enam santri lain yang juga mempresentasikan makalah ilmiah mereka di hadapan orang tua.
Acara ini adalah presentasi makalah ilmiah keempat para santri SMA At-Taqwa Depok kelas satu. Presentasi pertama, di hadapan para guru. Kedua, di hadapan para santri. Ketiga, di hadapan para santri dan murid di lembaga pendidikan di luar At-Taqwa. Kali ini, giliran angkatan ke-8 yang melakukannya. Artinya, sudah delapan tahun At-Taqwa konsisten menerapkan kebijakan ini.