Ke Mojowarno, Belajar Sejarah Kristenisasi di Jawa
Oleh: Syamil Ahsan Athallah (Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 14 Tahun)
Artikel Ilmiah
Liputan Kegiatan
Santri 3 SMP Pesantren At-Taqwa Depok, pada Selasa (25/11/25) mengunjungi Gereja Kristen Jawi Wetan, Mojowarno, Jawa Timur. Gereja tersebut termasuk gereja tertua nomor tiga yang ada di Jawa Timur.
Kunjungan ini merupakan bagian dari program Rihlah Sejarah usai menjalani pembelajaran selama satu bulan di Pandaan, Jawa Timur. Melalui kunjungan ini, para santri diharap dapat belajar langsung tentang sejarah Kristenisasi di pulau Jawa.
Para santri yang ditemani oleh guru sejarah, Ustadz Ahda, disambut hangat oleh tiga pengurus gereja: Pak Kusno Rohadi, Pak Wintano dan Ibu Handari. Bapak Kusno adalah yang paling banyak menjelaskan terkait sejarah gereja ini.
Mojowarno, katanya, awalnya adalah hutan. Babad hutan tersebut dimulai di tahun 1844 oleh beberapa tokoh Kristen. Pemimpin desa atau yang kita kenal sebagai kepala desa itu adalah tokoh-tokoh yang membuka hutan tersebut. Di tahun 1846 desa-desa yang ada di Mojowarno ini mulai sudah diakui oleh pemerintah Belanda.
Tahun 1851, mulai didatangkan pendeta ke daerah ini atas permintaan orang-orang Kristen. Sekolah Kristen mulai dibangun, yang berarti para misionaris mulai memfokuskan misi kristenisasinya melalui bidang pendidikan.
“Tidak hanya pendidikan, mereka juga membagi fokusnya dalam bidang kesehatan masyarakat,” tutur Pak Kusno
Di saat itu, keadaan ekonomi masyarakat sedang tidak baik-baik saja. Akhirnya tokoh-tokoh Kristen di sana memutuskan untuk mewajibkan para petani memberikan hasil tani mereka dan di taruh di dalam lumbung.
“Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal penamaan Lumbung Miskin,” jelasnya.
Ada pula “Rumah Jamu”. Ia yang kemudian menjadi cikal bakal munculnya rumah sakit Kristen Mojowarno. Sampai pada tahun 1872, pengembangan pendidikan dan kesehatan oleh tokoh-tokoh Kristen, kembali dilakukan.
“Tahun 1881, Gereja Kristen Jawi Wetan (yang kini tengah santri kunjungi), diresmikan,” ucapnya.
Tahun 1922, mulai pertama kali pemilihan pendeta. Disebabkan permintaan pendeta yang dulu bahwa gereja ini harus dipimpin oleh orang Jawa, akhirnya yang terpilih adalah orang Jawa bernama Triowatoko.
Di gereja ini, para pendeta tidak menetap, biasanya akan dipindahkan di daerah tertentu. Gereja ini pula sejak dulu memang independen, tidak ada bantuan dari Belanda. Pembangunannya melalui gotong royong masyarakat.
Dari sejarah tersebut, para santri belajar bagaimana semangat orang-orang Kristen dalam membantu warga dengan didorong semangat keagamaannya. Dalam Islam, jelas ada ajaran seperti ini, bahkan ditekankan. Sejarahnya di Nusantara, termasuk Jawa, pun juga ada.
Artinya umat Islam hari ini juga harus konsisten menjalankan misi dakwahnya. Dan misi itu juga harus membawa rahmat dan manfaat bagi masyarakat.