Belajar Konsep dan Adab Ilmu Melalui Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim

Oleh: Abdullah Fahmi Khana (Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 14 Tahun)
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
gambar_artikel

Pada pekan pertama belajar 1 bulan di Pandaan Jawa Timur (dimulai akhir Oktober), saya dan teman-teman (santri Pesantren At-Taqwa Depok tingkat 3 SMP), belajar kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim. Ustadz yang mengajar adalah Dr. Kholili Hasib. 
 
Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim ditulis oleh ulama besar sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH. Hasyim Asy’ari. Beliau lahir di dalam keluarga yang mencintai ilmu, di Jombang. Beliau sempat belajar ke Makkah, kemudian kembali ke Jombang dan mendirikan pesantren Tebu Ireng. Beliau meninggal pada tahun 1947. Sebelum meninggal beliau mengeluarkan fatwa jihad yang mewajibkan umat Islam berperang demi mempertahankan kemerdekaan. 
 
Selama belajar kitab itu 1 pekan, kami banyak sekali belajar tentang konsep dan adab “ilmu”. Kami banyak belajar tentang adab-adab guru bersama muridnya, adab-adab murid kepada guru dan pelajaran juga teman-temannya. 
 
Salah satu adab yang kembali ditekankan kepada kami adalah niat menuntut ilmu. Baik guru yang mengajar maupun murid yang belajar, harus punya niat pertama dan utama berupa ridha Allah. Karena, sesungguhnya semua amalan itu tergantung niatnya. 
 
Jika kita melakukan hal yang benar tapi niat kita salah, maka akan sia-sia semua hal yang kita lakukan. Contohnya adalah, kita beribadah kepada Allah SWT, tapi niat kita adalah agar orang-orang lain melihat kita dan memuji kita. Maka bukannya kita dapat pahala tapi malah menambah dosa. 
 
Jika seorang ahli ilmu atau guru tidak memiliki niat yang baik seperti ikhlas dalam mengajarkan ilmu tersebut, dan malah hanya ingin menunjukkan keilmuannya maka tidak akan berkah ilmu tersebut dan tidak akan mendapatkan manfaat bagi dirinya. Begitu pun dengan murid.
 
Lalu kami juga belajar belajar kembali tentang tingkatan ilmu dalam Islam. Melalui kitab Mbah Hasyim tersebut, kami diingatkan kembali bahwa untuk memulai belajar dengan ilmu yang fardhu a’in, khususnya yang berkenaan dengan akidah, fiqih yang pokok dan akhlak atau adab. Setelah itu lanjut belajar kepada ilmu-ilmu yang fardhu kifayah. 
 
Ilmu yang fardhu a’in itu adalah pokok-pokok agama. Belajar ilmu-ilmu fardhu a’in, tujuannya agar bisa memenuhi kewajiban kami sebagai hamba Allah. Maka ilmu-ilmu yang perlu dipelajari adalah bagian-bagian yang pokok saja. Contohnya, dalam fiqih ibadah, maka cukup bagi kita untuk mempelajari hal-hal sekadar bisa membuat ibadah kita sah, seperti rukun wudhu dan shalat.
 
Selain itu, melalui kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim, kami juga belajar bagaimana agama Islam begitu memuliakan ilmu dan orang-orang yang berilmu. Dalam salah satu ayat misalnya, Allah berfirman: “Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia, (Allah) yang menegakkan keadilan. (Demikian pula) para malaikat dan orang berilmu” (Ali Imran: 18).
 
Dari sini, sebagaimana dijelaskan Mbah Hasyim, bisa kita simpulkan bahwa para ulama itu mempunyai kedudukan yang istimewa di dalam Islam, sampai-sampai mereka disandingkan dengan nama Allah dan Malaikat. 
 
Kami pun dijelaskan bahwa diberikannya kedudukan yang tinggi itu adalah tanda bahwa ilmu adalah barang berharga bagi manusia. Dengannya, segala urusan bisa berjalan dengan baik dan orang lain merasakan manfaatnya, khususnya dalam masalah agama dan kepemimpinan. 
 
Pembelajaran kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim ini adalah salah satu kegiatan Rihlah Ilmiah di Pandaan Jawa Timur oleh Santri kelas 3 SMP Pesantren At-Taqwa Depok. Mereka mulai belajar di sana pada tanggal 26 Oktober kemarin. Masa pembelajarannya satu bulan. Selain kitab ini, mereka juga akan belajar kitab-kitab lain bersama para ustadz di sana.

AT-TAQWA DEPOK
Jl. Usman Hasbi, RT.04 RW 04 Jatimulya, Cilodong - Depok
info@attaqwa.id
(+62)856 0980 9086